Bayangkan skenario ini. Kamu baru saja menutup laptop kerja untuk terakhir kalinya, lalu membuka peta Indonesia sambil bergumam, “Enaknya menua di mana, ya?” Dan Solo menunggumu dengan segala pesona yang akan memanjakan masa tuamu.
Kalau pertanyaan itu kamu lempar ke 1.000 orang, jawabannya sudah ketebak. GoodStats menggelar survei Kota Pilihan Masyarakat Indonesia 2026 pada 10–19 April 2026 dan menempatkan Solo di puncak daftar dengan 65% suara.
Solo unggul tipis atas Jogja (60%) dan Bandung (50%). Sisanya memilih Malang (27%), Bogor (25%), Padang (17%), Palembang (9%), dan Banda Aceh (7%) sebagai kota paling layak untuk pensiun.
Alasannya juga masuk akal. Sebanyak 77% responden mencari kota yang tenang dan damai, 74% menginginkan kota sejuk dan asri, 52% memprioritaskan biaya hidup murah, dan 41% meminta warga yang hangat. Sisanya menyebut fasilitas kesehatan lengkap (21%) serta transportasi umum yang memadai (17%).
Menariknya, kelompok responden paling gemuk, 35%, justru berusia 18–24 tahun. Artinya yang membayangkan Solo sebagai kota untuk pensiun dan menua adalah orang-orang yang masih sibuk mengejar KPI. Mereka sudah punya gambaran, dan gambaran itu tidak asal-asalan.
Angka survei cuma gerbang. Di baliknya berdiri 10 alasan yang bikin kamu sulit menolak Solo sebagai kota pensiun.
#1 Ongkos hidup di Solo masih termasuk ramah buat kantong pensiunan
BPS mencatat rata-rata pengeluaran warga Kota Solo sepanjang 2024 sebesar Rp1.702.139 per kapita per bulan. Ini jauh di bawah Semarang yang menyentuh Rp2.237.774. Pos terbesarnya, perumahan dan fasilitas rumah tangga, cuma menyedot Rp508.120.
Pemprov Jawa Tengah lalu menetapkan UMK Solo 2026 senilai Rp2.570.000, naik Rp153.440 dari tahun sebelumnya. Angka itu menyisakan ruang hampir Rp900 ribu setiap bulan untuk jajan, jalan pagi, atau menabung. Sebuah kemewahan kecil yang jarang kota besar tawarkan buat kamu yang bekerja sambil menabung demi masa pensiun yang lebih tenang.
Catatan jujur. Wahyu Rahadi, Ketua SPSI Jawa Tengah, menilai angka pengeluaran itu cuma realistis bagi orang lajang tanpa tanggungan. Jadi kalau kamu pensiun sambil mengasuh tiga cucu, hitung ulang dulu.
#2 Bus kotanya memanjakan orang tua
Batik Solo Trans mengoperasikan 116 unit armada dengan 12 koridor yang menjangkau Boyolali, Sukoharjo, dan Karanganyar. Penumpang hariannya berkisar 19.000–20.000 orang, dan tarif untuk warga lansia cuma Rp2.000 sekali naik.
Endang, warga lansia yang Kompas wawancarai pada September 2024, merangkum alasannya dengan lugas. “Untuk seusia lansia, tarif BST juga Rp 2.000 sekali naik sudah bisa ke mana-mana.”
Kamu juga bisa naik KRL Solo–Jogja dengan tiket Rp8.000 sekali jalan dan turun di Palur, Jebres, Balapan, atau Purwosari. Pensiun bukan alasan berhenti bergerak, dong.
#3 Rumah sakit jantung paling canggih di Jawa Tengah ada di Solo
Presiden Prabowo meresmikan RS Kardiologi Emirates-Indonesia pada 19 November 2025. Uni Emirat Arab menghibahkan Rp417,3 miliar untuk membangun rumah sakit kelas A itu, dan tim medisnya mulai melayani pasien sejak 6 Oktober 2025.
Kapasitasnya mencapai 130 tempat tidur lengkap dengan hybrid cathlab, CT scan, dan MRI. “Saya kira ini akan memberi harapan baru bagi pasien jantung, tidak usah jauh-jauh berobat luar negeri,” kata Prabowo.
Kemenkes menunjuk RSUP Dr Sardjito untuk mengelola rumah sakit itu secara penuh. Wali Kota Respati Ardi menyebut Solo menyumbang dua dokter dan lima perawat ke tim beranggotakan seratusan tenaga medis tersebut.
Bagi yang udah pensiun dan berusia 60-an ke atas, kalimat semacam itu bernilai lebih dari seribu kafe estetik.
#4 Kualitas hidup warga Solo masuk 10 besar nasional, sebuah bayangan yang menarik buat yang mau pensiun
Daftar 10 kota dengan kualitas SDM terbaik Indonesia versi IPM menempatkan Surakarta di dalamnya, dengan skor 84,40 (Kompas). BPS Jawa Tengah juga mencatat angka harapan hidup warga Surakarta 77,90 tahun pada 2024, naik terus sejak 77,22 tahun pada 2020..
Dua angka itu merangkum umur panjang, pendidikan, dan standar hidup layak dalam satu paket. Kamu pensiun di kota yang warganya rata-rata sehat, berpendidikan, dan punya daya beli.
#5 Ruang terbukanya oke buat aktivitas di masa pensiun
Wapres Ma’ruf Amin meresmikan Taman Balekambang pada 25 Juli 2024 setelah pemerintah menghabiskan Rp170 miliar untuk menata ulang taman seluas 12,8 hektare itu. Pengelola menyediakan skywalk sepanjang 228 meter, amfiteater berkapasitas 700 orang, kolam Partini, dan gedung pertunjukan untuk 400 penonton. Tiket masuknya Rp5.000.
Pemkot Solo lalu mengucurkan Rp1,8 miliar dari APBD 2025 untuk merevitalisasi kolam Segaran dan Guwa Swara di Taman Sriwedari, dan menyiapkan Rp1 miliar lagi untuk penataan sekitarnya tahun depan. “Kita pelan-pelan mengembalikan fungsi Taman Sriwedari, Kebon Rojo. Yang terpenting adalah kembali mengingat leluhur kita,” kata Wali Kota Respati Ardi.
Yang menarik, Pemkot Solo mengembalikan kawasan itu sebagai ruang milik warga. Kamu cukup datang, membayar parkir, lalu bebas menghabiskan pagi dengan jalan kaki mengelilingi kolam yang umurnya lebih tua dari republik ini. Aktivitas yang baik sekali untuk warga yang sudah pensiun.
#6 Makan enak di Solo tidak perlu membuat dompet menangis
detikJateng pernah merangkum 10 tempat makan di Solo pada Oktober 2024, dan hampir semuanya mematok harga Rp25.000–50.000 per orang. Cafedangan Manahan bahkan membuka dapurnya 24 jam.
Data BPS memperkuat gambaran itu. Warga Solo menghabiskan Rp314.173 per bulan untuk makanan dan minuman jadi, pos paling gemuk dalam anggaran makan mereka. Kota ini memang hidup dari warung, dan warung itu berpihak pada mereka yang sudah pensiun.
#7 Hiburan budayanya murah dan jalan terus
Gedung Wayang Orang Sriwedari menggelar pentas setiap Senin sampai Sabtu malam. Harga tiketnya Rp10 ribu per orang.
Penontonnya pun tidak melulu mereka yang udah pensiun. “Semakin ke sini, semakin banyak peminatnya wayang orang. Banyak anak kecil dan remaja melihat ke sini karena banyak pemain muda,” kata Harsini, salah satu pemain senior, kepada detikTravel.
Pura Mangkunegaran juga rutin menggelar MNFest. “Ini membanggakan warga Solo, karena acaranya bisa terpampang secara nasional, semarak Mangkunegaran begitu terasa,” kata KGPAA Mangkunegara X.
Pensiun di kota yang punya panggung setiap malam jelas berbeda rasanya dengan pensiun di kota yang cuma menyediakan layar gawai.
#8 Solo kotanya memang kecil, tapi malah jadi kelebihan
Solo “cuma” membentang 46,72 kilometer persegi dan menempati urutan keempat kota paling mungil di Jawa Tengah. Jarak dari pasar ke rumah sakit lalu ke taman kota jarang melewati 10 menit berkendara.
Dinas Perhubungan bahkan memberi jalur lawan arah khusus bagi BST di Jalan Slamet Riyadi supaya bus mendahului kemacetan. “Kalau tidak mau macet, silakan naik angkutan umum,” kata Taufiq Muhammad kepada Kompas.id.
#9 Rumah dan tanah masih bisa kamu kejar
detikProperti mencatat harga rumah seken di Solo tumbuh 0,8 sampai 6,2% sepanjang 2024, sementara jaringan tol Yogyakarta–Surakarta terus mendorong permintaan. Pemburu properti di kota ini masih berasal dari kelompok usia 25–34 tahun.
Artinya dua hal. Nilai asetmu naik pelan tapi pasti, dan kamu tidak perlu menabung seumur hidup demi punya halaman tempat menjemur pagi.
#10 Kotanya jujur soal keterbatasan
Dana transfer ke daerah menyusut Rp218 miliar dan membuat APBD Solo 2026 defisit sekitar Rp161 miliar. Respati Ardi memilih langkah hemat. Konsumsi rapat turun dari tiga kali menjadi sekali, pegawai membawa tumbler sendiri, dan sebagian aparatur bekerja dari rumah seminggu sekali.
Kota yang berani mengaku sedang berhemat justru kota yang tahu cara mengelola uang. Karakter semacam itu kamu butuhkan dari tempat tinggal terakhir.
Solo tidak menjual janji
Kota ini menawarkan ongkos hidup yang masuk akal, bus yang mengangkut orang tua dengan tarif Rp2.000, rumah sakit jantung yang menenangkan, taman luas, wayang tiap malam, dan jarak pendek ke mana saja.
Kombinasi semacam itu jarang datang bersamaan. Biasanya kamu harus memilih. Murah tapi fasilitasnya seadanya, atau lengkap tapi mahal. Solo menolak logika memilih itu, dan justru karena itu GoodStats menaruhnya di peringkat pertama.
Jadi kalau nanti kamu menutup laptop kerja untuk terakhir kalinya, buka peta, lalu ketik: Solo. Kota ini sudah menunggu, dan ia sama sekali tidak terburu-buru, persis seperti gaya hidup yang sedang kamu cari.
BACA JUGA 6 Kebiasaan Warga Solo yang Awalnya Saya Kira Aneh, tapi Lama-lama Saya Ikuti Juga dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.