MOJOK.COKetua Umum Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra memasang target 9 persen suara di pileg 2019. Angka yang realistis ketimbang target-target PSI atau Perindo.

Setelah melewati jalan berliku, partai besutan Yusril Ihza Mahendra lolos sebagai salah satu peserta pemilu legislatif tahun 2019. Tapi, banyak orang pesimistis partai yang punya hubungan historis dengan Partai Masyumi ini bakal bisa mendulang suara.

Yusril sebagai ketua umum partai tentu saja bersikap optimistis. Dia punya target, Partai Bulan Bintang (PBB) bakal mendapat suara 9 persen. Berikut tiga argumen Yusril:

Pertama, selama ini Yusril dikenal sebagai sosok yang membela kepentingan beberapa pihak dengan jumlah massa besar. Misalnya, FPI dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dengan pembelaan itu, cukup masuk akal jika anggota kedua ormas itu bakal menjadi pemilih PBB.

Kedua, Yusril percaya bahwa selama ini partai-partai dengan basis pemilih umat Islam tidak cukup bisa mewadahi aspirasi umat. Dengan hadirnya PBB di pileg 2019, suara mereka bisa berpindah ke PBB.

Ketiga, PBB telah melewati perjalanan yang sulit untuk lolos dalam pemilu. Yusril dan PBB berusaha membela diri dan berjuang dengan cara konstitusional. Perjuangan itu selain mendapat perhatian besar dari media, juga disaksikan oleh masyarakat. Wajar jika masyarakat akan bersimpati kepada PBB dan memungkinkan mereka memilih partai tersebut.

Selain tiga poin itu, Yusril punya alasan lain, yang mungkin lebih personal dan psikologis bagi internal PBB. Partai ini mendapatkan angka 19. Itu sesuai dengan umur PBB pada tahun 2019 nanti. Konon, kantor kerja Yusril berada di lantai 19. Dan 19 jika dijumlahkan (1+9) hasilnya: 10. Angka yang dianggap sempurna.

Baca juga:  Tersandung Puisi di Jalan Kasak-Kusuk Umat yang Instan, Receh, dan Micin

Mari kita lihat jejak elektoral PBB. Pada pemilu tahun 1999, PBB mengantongi suara sebesar 2.050.000 atau setara dengan 2 persen. Pada pemilu 2004, mereka mendapatkan suara 2.970.487 atau setara dengan 2,62 persen. Sedangkan pada pemilu 2009, mereka bisa meraih 1,8 juta suara. Di kali terakhir tersebut, PBB tidak lolos parliamentary threshold (PT). Sedangkan pada pemilu 2014, PBB mendaftar lagi dan hanya dapat kue kurang dari 2 persen. Lagi-lagi tidak lolos PT.

Jika dilihat dari data di atas, sebetulnya PBB punya basis pemilih loyal antara 1,5 sampai 2 juta suara. Itu jelas modal yang baik. Modal semacam ini belum tentu dimiliki oleh partai-partai baru peserta pemilu seperti PSI, Partai Berkarya, Partai Perindo, dll. Dan yang tidak bisa diabaikan, PBB sudah punya struktur organisasi yang mapan karena teruji dalam beberapa kali ikut pemilu. Ini hal terberat yang harus dilakukan partai-partai baru. Ingat, bahkan Partai Gerindra, Nasdem, Hanura pun dengan jaringan politik yang luas dan nisbi kuat, tidak langsung mendapatkan persentase besar ketika pertama kali ikut pemilu.

Maka, agak menggelikan jika misalnya PSI menargetkan dapat suara 20 persen pada pemilu 2019 nanti. Sama menggelikan ketika Partai Berkarya memasang target 13 persen. Lebih menggelikan lagi target Perindo: masuk tiga besar. Boleh saja sih memasang target, tapi mbok yang realistis. Bermimpi jangan tinggi-tinggi, kalau terlalu tinggi bisa tersambar pesawat terbang.

Baca juga:  Jokowi Tikung Prabowo, Rekrut Yusril Ihza Mahendra Sebagai Pengacara

Dalam soal target, Yusril paling realistis. Angka 9 persen itu rasional untuk ukuran modal yang sudah dimiliki PBB. Tapi, kalau menurut saya, PBB hanya bisa mendapatkan sekitar 5,5 persen suara. Itu sudah bagus sekali. Karena 5 + 5: 10. Itu sudah bagus. Sungguh.

Bagi partai-partai baru, dapat 3 persen saja sudah bagus. Bagaimana lagi, impian memang selalu indah, sebelum kemudian kenyataan datang.