MOJOK.COHati-hati tak berarti panik. Waspada, bukan takut. Yakinlah, kita tak sendirian, kita menghadapi ini bersama. Jangan biarkan mental kita kalah lebih dulu. Jangan sampai kita “sakit” sebelum terserang penyakit.

Menurut Achmad Yurianto, jubir pemerintah untuk mengatasi pandemi corona, jika kita semua bekerja keras, diperkirakan membutuhkan waktu kurang lebih 3 bulan untuk melewati pertempuran tersebut. Itu baru proses menanggulangi. Belum proses pemulihan. Begitu keterangannya saat diwawancara Deddy Corbuzier di akun YouTube-nya.

Jika kita mengandaikan proses pemulihan membutuhkan waktu yang sama dengan proses penanggulangan, setidaknya kita akan menghadapi pandemi corona kurang lebih 6 bulan. Tentu sekali lagi, jika kita semua bekerja keras.

Waktu 6 bulan jelas bukan waktu yang singkat. Semua mungkin sudah tahu, efek dari pandemi ini memukul sekian banyak sektor kehidupan kita. Mulai dari perekonomian sampai psikologis. Variabel terakhir inilah yang jarang diberikan porsi pembahasan lebih oleh para ahli. Padahal kita tahu, ketakutan bisa memberikan ekspresi yang tidak produktif dalam penanggulangan pandemi ini. Mulai dari kepanikan membeli dan menimbun barang, sampai tren memborong dolar, dll. Kepanikan, pada tingkat individu, juga membuat orang mudah stres, dan stres membawa dampak yang tidak baik pada imunitas tubuh manusia. Kalau imunitas tubuh terganggu, maka rentan untuk jatuh sakit.

Beberapa hal yang berhasil saya pindai menyangkut pandemi dan efek sosial yang ditimbulkannya, ada salah satu kata kunci penting: komunitas.

Hal yang paling dikhawatirkan dari lonjakan eksponensial penderita Covid-19 adalah jumlah orang sakit yang tidak bisa dirawat oleh sumber daya kesehatan kita. Maka itu ada istilah “grafik melandai”, yakni grafik yang mengandaikan pasien masih bisa dirawat di rumah sakit dan tenaga medis yang kita miliki. Hampir semua ahli sepakat soal itu. Yang belum bisa menemukan mufakat adalah bagaimana agar melandaikan grafik tersebut. Para ahli berbeda pendapat.

Baca juga:  Kolom: Beradab

Sebagai bagian dari warga negara, komunitas bangsa, sekaligus komunitas dunia, kita punya andil besar untuk ikut serta menghadapi pandemi ini. Dari mulai cara kita menyerap dan mendistribusikan data dan informasi tentang virus corona; menjaga diri dan komunitas inti kita (keluarga, tetangga, lingkungan kerja); dan bagaimana berupaya punya kontribusi yang lebih luas lagi jika kita punya sumber daya berlebih (donasi, relawan, partisipasi, dll).

Setidaknya, hal utama yang paling penting dan mendesak saat ini adalah memberikan rasa optimisme untuk melewati persoalan ini. Pemerintah sudah tampak sejak awal punya cara pandang ini. Maka salah satu mantra penting yang selalu ada adalah “jangan panik”. Tapi relasi pemerintah-warga tidak sedang baik-baik saja. Tidak perlu rasanya saya menggali persoalan relasi yang sedang tidak sehat itu di sini. Saya hanya mau membuka celah lebih besar lagi bahwa masyarakat sipil bisa terus memberikan kontribusi dengan menggandakan optimisme melawan pandemi corona.

Hal itu berdasarkan pengalaman sosial yang pernah kita hadapi bersama. Orang Indonesia itu punya daya elastisitas dalam mengarungi hidup ini. Baik dari kelas bawah sampai kelas menengah. Di Jakarta, orang-orang kelas bawah dan menengah bisa tahan berdesakan di KRL selama berbelas bahkan berpuluh tahun di kehidupan mereka. Pagi berangkat. Malam pulang. Sesekali saja sambat.

Budayawan kita, Cak Nun, sering memberikan contoh yang menarik. Orang Indonesia, tidak punya kerjaan tetap, punya tanggungan kredit sepeda motor, masih bisa santai ngopi di malam hari sambil merokok dan cengengas-cengenges bersama teman-temannya. Begitu mau menikah, ditanya apakah sudah siap secara ekonomi, dijawab dengan santai, “Bismillah, Cak….” Bayangkan, problem hidup yang secara teoretis berat, dihadapi dengan tingkat ketawakalan tinggi: Bismillah.

Baca juga:  Jadi Manusia Kok Demen Amat Nguji Takdir Tuhan?

Kelas menengah juga begitu. Gaji di bawah 10 juta. Bisa mencicil rumah, mencicil mobil, membiayai anak sekolah. Kalau dihitung memakai “kalkulator ekonomi”, dijamin bakal minus setiap bulan. Tapi banyak yang tidak. Bahkan masih bisa jalan-jalan, liburan, umrah, dll. Kalkulator para peneliti bisa rusak kalau dipaksa memahami bagaimana manusia Indonesia berkelit dan bertahan menghadapi hidup ini.

Kita sudah pernah mengalami krisis ekonomi ’97/’98, yang butuh waktu sekira 5 tahun untuk pulih. Kita juga belum lama menghadapi perlambatan ekonomi global tahun 2008. Kita diempas oleh ragam persoalan sosial mulai dari bencana dengan skala luar biasa seperti tsunami Aceh, gempa Bantul, sampai gempa Palu. Tapi kita tetap bertahan dan terus tumbuh bersama.

Kalau mau dibedah secara serius, mungkin karena kita punya relasi sosial yang lengket. Mungkin juga filosofi hidup yang sudah mendarah daging, yang secara emosi terwariskan di DNA kita, dari nenek moyang kita. Banyak hal yang bisa dipakai untuk membedah ini semua. Dan banyak budayawan yang mampu melakukan analisis dengan apik. Tapi intinya, kita punya semacam naluri optimisme yang kuat sekalipun tidak mudah untuk dikatakan.

Dengan begitu, hal yang juga penting kita lakukan secara bersama-sama adalah menggandakan suara optimisme kita sebagai komunitas warga, bahwa kita bakal sanggup melewati ini semua. Dari tingkat yang paling kecil seperti keluarga, teman kerja, dan tetangga. Jangan biarkan mental kita kalah lebih dulu. Jangan sampai kita “sakit” sebelum terserang penyakit.

BACA JUGA Mengubah Nada Menjadi Orkestrasi Melawan Pandemi Corona dan esai Puthut EA lainnya di KEPALA SUKU.