MOJOK.COBekal pengalaman menghadapi dua bencana dahsyat gempa dan erupsi gunung berapi membuat warga Yogya tanggap pada bencana-bencana lain. Kali ini dengan mengadakan lockdown mandiri di kampung-kampung. 

Semalam di lini masa Twitter bertebaran banyak sekali foto lockdown di kampung-kampung yang berada di wilayah Yogyakarta. Saya sarankan Anda membaca dengan tuntas tulisan ini, supaya tahu apa yang sebetulnya terjadi. Maklum, sekarang ini banyak pihak sensitif soal lockdown, baik yang kontra maupun yang mendukung.

Secara sosial, masyarakat Yogya punya dua pengalaman kolektif yang penting dalam menghadapi bencana alam dalam skala yang sangat besar. Pertama ketika terjadi gempa bumi pada Mei tahun 2006, dan pada saat erupsi Merapi di bulan Oktober tahun 2010. Kebetulan, saya sebagaimana kebanyakan orang Yogya saat itu, terlibat menjadi relawan.

Pada gempa tahun 2006, hanya selang sehari, saya bersama teman-teman sudah langsung menggalang posko relawan. Dua bulan penuh, kami ikut dalam situasi tanggap darurat bencana. Berangkat subuh, pergi ke daerah-daerah yang menjadi fokus kerja kami di Bantul dan Gunungkidul, pulang sampai posko sudah larut malam. Tidak langsung tidur. Kami mesti rapat evaluasi dan mempersiapkan apa yang kami kerjakan di hari berikutnya. Praktis, kami hanya tidur kira-kira tiga sampai empat jam sehari. Baru di bulan ketiga, ketika sudah banyak sekali relawan dari luar kota dan lembaga-lembaga internasional yang lebih berpengalaman dalam menangani bencana, kegiatan agak lebih berkurang. Kami lanjutkan dengan kerja-kerja pendampingan masyarakat terdampak bencana, mulai dari mendampingi adik-adik untuk sekolah di tenda-tenda, ikut membantu mendirikan rumah, dan kegiatan rekonstruksi serta rehabilitasi. Kegiatan itu kami lakukan lebih dari setahun.

Penanganan gempa di Yogya telah banyak dijadikan rujukan tentang bagaimana daya dukung sosial masyarakat sangat penting, dan menjadi pelajaran penting bagi penanganan bencana yang dianggap sangat efektif dan cepat.

Saat merapi meletus di Yogya pada Oktober 2010, sebetulnya posisi saya sedang bekerja di Jakarta. Saya yang waktu itu masih dibilang pengantin muda (saya menikah pada bulan Juni di tahun tersebut), langsung cepat pulang ke Yogya karena istri saya yang berasal dari Jakarta sudah saya boyong ke Yogya. Hanya saja di saat itu, saya tidak seintens waktu jadi relawan gempa tahun 2006. Kami berdua ikut jadi relawan di dapur umum yang didirikan di hampir semua kampung, karena jumlah pengungsi dari daerah dekat Merapi membutuhkan banyak sekali dukungan makanan. Kalau malam hari, saya berdiri di tepi jalan membawa air bersama ratusan warga di Jalan Kaliurang untuk menyiram kaca mobil para petugas yang hilir mudik, mengevakuasi korban.

Baca juga:  Jogja Aman Corona Kui Tenanan Opo Ming Lamis e Pemrentah?

Dari dua pengalaman itu, saya tahu persis bagaimana jagat batin warga Yogya dalam menghadapi bencana. Masyarakat langsung tahu apa yang mesti mereka lakukan. Mereka berusaha berkontribusi dengan cara masing-masing.

Pandemi corona yang juga terjadi di Yogya pun disikapi masyarakat Yogya dengan cara yang khas. Mulai dari membuat hand sanitizer sendiri untuk dibagi-bagikan, di banyak kampung bahkan membuat alat semprot desinfektan sendiri. Apa yang terjadi dengan istilah “lockdown mandiri kampung”, yang foto-fotonya bertebaran itu pun dilakukan dengan mandiri dan spontanitas.

Kalau dilihat dari polanya, itu bukan sebuah “pembangkangan” kepada pemerintah pusat. Sebab kita semua tahu keputusan lockdown hanya boleh diputuskan oleh pemerintah pusat. Masyarakat hanya “meminjam” istilah “lockdown” yang memang sedang menjadi salah satu istilah yang paling sering didengar masyarakat baik dari media mainstream maupun dari media sosial.

Apa yang disebut “lockdown” itu pada prakteknya adalah menutup beberapa ruas jalan. Untuk masuk ke sebuah kampung, ada banyak jalan. Beberapa ruas ditutup sehingga orang hanya bisa lewat jalan tertentu. Fungsinya adalah untuk mengawasi orang yang masuk dan orang yang keluar dari kampung tersebut. Orang-orang kampung masih bisa melakukan aktivitasnya untuk keluar dan masuk kampung, tentu dengan memberi tahu mereka mau melakukan apa. Kalau tidak penting-penting amat, diminta tidak usah meninggalkan kampung. Jadi bukannya dilarang keluar beraktivitas.

Di beberapa kampung, orang yang akan masuk ke kampung tersebut disemprot oleh cairan desinfektan. Penyemprotan cairan desinfekan pun dilakukan secara reguler di kampung-kampung, baik secara mandiri oleh warga maupun bekerja sama dengan lembaga semacam BNPB dan SAR.

Baca juga:  Membenci 2020: Gejolak Liga Inggris dan Berita Duka Glenn Fredly

Sewaktu diwawancara oleh sebuah stasiun televisi, juru bicara pemerintah Achmad Yurianto menyatakan beberapa hal yang serupa dengan apa yang dilakukan oleh warga Yogya, yang baik buat ikut serta menanggulangi pandemi Corona. Pertama adalah menjaga komunitas. Dia mencontohkan bagaimana misalnya sebuah perumahan melakukan pengawasan yang ketat kepada anggota perumahan. Siapa saja yang mau keluar dari perumahan tersebut, apa tujuannya, dan jika tujuannya tidak penting maka diminta di rumah saja. Kalau mereka ingin membeli air galon, maka diteleponkan oleh kolektif perumahan. Kalau mereka butuh membeli beras, juga dibantu, dan hal lain semacam itu.

Kedua, dia mencontohkan sebaiknya warga Indonesia meneladani apa yang dilakukan oleh warga Vietnam. Di Vietnam, bahkan orang yang sudah diketahui kena corona, “dijaga” oleh tetangga mereka. Kebutuhan mereka dibantu oleh tetangga yang masih sehat. Yang sakit dikarantina di rumah dan semua kebutuhan mereka disokong oleh tetangga dekat mereka. Warga menjaga warga. Kolektivitas dan komunalitas menjadi kata penting.

Apa yang dilakukan oleh warga Yogya sebetulnya sudah mirip dengan hal tersebut. Bahkan dapur-dapur umum mulai didirikan oleh komunitas-komunitas anak muda Yogya untuk membantu saudara mereka yang membutuhkan. Tentu pendirian dapur umum itu juga mengikuti prosedur ketat sehinga meminimalisir penyebaran corona.

Sebagai orang yang sudah tinggal selama 25 tahun di Yogya, dan menjadi bagian dari dua momentum besar saat terjadi gempa bumi dan erupsi Merapi, saya tidak heran dengan inisiatif warga untuk turut serta terlibat secara aktif dalam melalui masa-masa sulit sekarang ini. Kalau istilah yang dipakai di spanduk yang bertebaran di kampung memakai pilihan kata “lockdown“, percayalah bahwa itu pilhan kata saja. Bukan berarti pembangkangan terhadap pemerintah pusat. Prakteknya, ini inisiatif yang punya kontribusi besar secara sosial, dengan modal keguyuban dan kegotongroyongan yang tinggi.

Sebagai warga Yogya, tentu saja saya bangga. Tapi di Yogya, bangga saja tidak cukup. Ikut aktif dalam skala sekecil apa pun, itu seperti sebuah keniscayaan.

BACA JUGA ‘Lockdown’ Wuhan Telat 5 Hari Aja, Korban Corona Bakal 3 Kali Lipat dari Sekarang dan esai Puthut EA lainnya di KEPALA SUKU.