• 89
    Shares

MOJOK.CO – Rezeki memang sudah diatur Tuhan. Namun, manusia boleh saja membuka jalan untuk menjemput kedatangannya.

Di antara teman-temannya, Kimpul ini orang yang biasa saja. Tidak terlalu pintar dan tidak terlalu rajin bekerja. Biasa saja.

Tapi rezekinya dianggap paling lancar dan paling barokah di antara teman-temannya. Ada saja pintu mendapatkan rezeki. Sepertinya, dia bekerja secukupnya saja. Seperti orang yang selalu punya banyak waktu senggang. Bidang usahanya ya gitu-gitu saja, tak ada yang istimewa.

Beberapa waktu lalu saat kumpul-kumpul ngopi bareng, kami para temannya bertanya soal itu. “Pul, kamu itu kan bukan orang yang pintar usaha, bukan juga orang yang rajin bekerja, tapi kok rezekimu paling lancar itu sebetulnya rumusnya apa ya?”

Sudah kami duga, Kimpul hanya tertawa tak mau menjawab. Atau menjawab lazimnya orang yang gak mau umuk, “Rezeki itu pemberian Tuhan. Aku juga tak tahu kenapa. Jadi yang paling bisa kulakukan hanya bersyukur saja.”

Tapi setelah menjelang tengah malam, menjelang kumpulan buyar, Kimpul membuka rahasianya. “Aku gak tahu ya, apa ini kiat atau tidak. Tapi ini hal yang sudah lama jadi prinsip hidupku.”

Kiat pertama, Kimpul jarang sekali menolak ajakan ngopi. Dia suka sekali ngopi memang. Mau di kedai kopi mahal atau murah, asal diajak temannya ngopi, dia pasti datang. Kecuali ada halangan. Dan dia tidak pernah pilih-pilih teman ngopi. “Siapapun yang ngajak ngopi, saya akan mau.”

Ternyata menurut Kimpul, ngopi itu bagian dari silaturahmi. “Konon,” kata Kimpul tanpa ingin merasa berceramah, “orang yang suka silaturahmi itu selalu dibuka pintu rezekinya.”

Kedua, tidak pernah berpikiran ditipu orang. Menurut Kimpul, dia selalu menjaga pikiran baik dengan siapapun. “Kalau misal ada orang datang minta sumbangan, ya saya percaya saja. Dia memang datang karena butuh, dan kalau saya punya akan saya sumbang.”

Baca juga:  Silsilah Warung Kopi di Jogja Dimulai dari Badrun Blandongan

Apakah dia tidak khawatir ditipu? “Urusan saya itu membantu. Kalau mereka menipu, itu urusan mereka dengan Tuhan. Lagipula, pikiran bahwa ‘jangan-jangan aku ditipu’ itu juga pikiran negatif. Aku berlatih hal seperti itu tak ada di pikiranku.”

Prinsip semacam itu, ternyata dipakai Kimpul untuk berusaha. Dia berkali-kali ditipu orang kalau berusaha. Tapi tidak pernah merasa ditipu. “Lha setiap kali aku ditipu orang, aku ikhlaskan, malah selalu dapat rezeki tak teduga berlipat kali banyaknya.” ujarnya dengan polos.

Ketiga, Kimpul tak suka dengan aji mumpung. Jika ada rezeki yang tiba-tiba datang, dan potensi mendapatkan itu besar sekali, dia tak pernah berusaha memanfaatkan itu semaksimal mungkin. Sepertinya ini sangat bertentangan dengan prinsip ekonomi. Tapi menurut Kimpul tidak.

“Kalau kita pakai aji mumpung, maka pikiran kita akan fokus pada laba dan pendapatan. Lalu kita akan melupakan atau setidaknya menyingkirkan variabel servis dan kualitas. Bukan itu saja. Aji mumpung akan punya kecenderungan tamak. Sikap tamak merusak pikiran. Kalau pikiran rusak, hidup kita rusak. Buat apa punya uang banyak kalau hidup kita rusak?”

Keempat, ini sebetulnya klise: rezeki itu tidak hanya uang. Dalam hidup ini, kita akan menghadapi banyak masalah. Dari mulai ringan sampai berat. Dan uang tidak pernah selalu bisa menyelesaikan masalah yang kita hadapi. “Bahkan kebanyakan sumber masalahnya dimulai dari keinginan kita mendapatkan uang. Jadi uang itu bisa jadi sumber masalah.” Itu kata Kimpul.

Dalam menghadapi masalah itulah, rezeki terbesar kita justru biasanya berwujud pada kebaikan hati orang, uluran tangan orang lain, sifat tenang kita, sikap batin kita, kejernihan pikiran kita. Itu rezeki yang luar biasa.

Baca juga:  Lepas Jilbab Bisa Sama Beratnya dengan Pindah Agama di Negeri Ini

Kelima, menikmati apa yang didapat dengan orang lain. Berbagi kesenangan dengan keluarga, tetangga, teman, kerabat, bahkan dengan orang-orang yang tidak kita kenal. Prinsip ini seperti laku harian bagi kimpul: tidak ada hari tanpa menyenangkan orang. Dari sekadar mentraktir makan, memberi hadiah, mengunjungi kawan dengan membawa oleh-oleh.

“Jangan pernah berpikir menyenangkan hati orang itu harus dengan benda mahal. Memberi rokok satpam, membelikan kawan kita buku, menghadiahi keluarga kita dengan coklat, itu kan tidak mahal.” Kimpul menjadikan itu hobi. Hobi menyenangkan hati orang setiap hari, sebanyak-banyaknya.

Keenam, mempermudah urusan orang. Kalau ada orang yang kita punya kuasa untuk membuat mudah, lakukanlah. Secepatnya. Karena Kimpul percaya: mempermudah urusan orang akan dipermudah ketika kita punya urusan.

“Itu juga gak yang hebat kok. Misal, ada ibu hamil ngantre di ATM, ya kita persilakan saja lebih dulu. Di jalan ada orang yang mau menyeberang atau memutar kendaraan, kita kasih kesempatan. Banyak banget hal kayak gitu yang bisa kita lakukan setiap saat, di mana saja.”

Kami semua sebetulnya tak terlalu takjub dengan penjelasan Kimpul. Biasa saja. Tapi yang biasa saja itu sering lupa. Kami lalu membubarkan diri. Begitu mengundang pegawai kedai kopi untuk membayar apa yang kami makan dan minum, pegawainya bilang, “Sudah dibayar Pak Kimpul, Pak…”

Kami lalu mengucapkan terimakasih kepada Kimpul. Dia malah bilang, “Aku yang seharusnya mengucapkan terimakasih kepada kalian. Karena diberi kesempatan untuk berbagi kesenangan.”

Ooo, begitu…

  • 89
    Shares


Loading...



No more articles