MOJOK.COSebetulnya apa yang menjadi masalah dengan tetap tinggal di rumah?

Setidaknya sudah dua hari, saya mengamati, lalu lintas Yogya mulai ramai lagi. Saya mencoba bertanya ke beberapa teman yang tinggal di kota lain, mereka merasakan hal yang sama. Kenapa ini terjadi? Padahal pandemi corona masih jauh dari puncak penyebarannya, belum bisa ditangani dengan paripurna, dan masih sangat berbahaya.

Kepada beberapa teman, saya mencoba menggali lebih dalam lagi. Sebetulnya apa yang menjadi masalah dengan tetap tinggal di rumah? Bosan. Tentu saja iya. Liburan dan bekerja dari rumah, itu dua hal yang berbeda. Kalau liburan, kita bisa keluar rumah. Kalau capaiannya adalah sama-sama bekerja, di kantor dan di rumah pun sama. Tetap bekerja. Bagi penulis ya tetap menulis. Bagi desainer grafis juga sama. Dan sekian pekerjaan lain. Tapi interaksi tetap berbeda. Ide, obrolan, kehangatan, kecepatan dalam merespons gagasan–bahkan hanya dengan raut muka–itu hal yang tak bisa digantikan dengan aplikasi Zoom dan semacamnya. Bisa digantikan, tapi tak pernah bisa lengkap.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu percaya bahwa produktivitas semata karena pertemuan langsung, tapi sekaligus tidak percaya bahwa layar monitor bisa menggantikan kualitas pertemuan langsung. Dan itu sudah saya perhatikan di beberapa tempat kerja. Jadi, ada yang tetap tak bisa digantikan dengan pertemuan langsung walaupun pertemuan langsung tidak secara otomatis menjamin kualitas pekerjaan seseorang atau secara kolektif menjadi bagus.

Banyak ahli meramalkan bahwa virus corona ini akan mengubah pola kerja manusia ke depan. Para siswa dipaksa belajar dari rumah, sehingga pendidikan kelak akan terdisrupsi. Kalau argumennya sebatas itu, semenjak internet cepat dan gajet mulai terjangkau harganya, berbagai kursus online pun merebak. Tapi itu tidak bisa membatalkan interaksi hangat antara guru dengan murid, tidak bisa menggantikan canda-tawa, saling respons antar-siswa dengan intensitas yang cepat dan langsung. Memang belajar tidak harus di dalam gedung, tapi kualitas pertemuan langsung dalam proses pendidikan, tetap tak tergantikan.

Baca juga:  Gara-gara Wabah, Jangan Jadi Orang ‘Alim atau Saleh Amatiran Lah

Saya terkesan kuno? Mungkin. Tapi Kali, anak saya yang Mei nanti berusia 8 tahun, mengatakan hal yang sama. Kali lahir seperti apa yang sering dibilang orang, sebagai “digital native“. Dia belajar bahasa Inggris tidak dari sekolah. Dia nonton saja lewat YouTube dan tiba-tiba sudah bisa cas-cis-cus ngomong bahasa Inggris. Logika komputasinya jalan seiring makin sering memegang gajet. Dia bisa memainkan game tanpa ada buku panduan, dan tanpa saya ajari, karena saya tidak suka bermain game komputer. Tapi apa yang dia keluhkan ketika dua minggu lebih tidak sekolah? Kangen kawan-kawannya, kangen guru-gurunya, dan kangen suasana sekolah. Dia bisa menelepon temannya, bisa berinteraksi dengan gurunya saat belajar dari rumah, tapi tetap tidak bisa mengalahkan kehangatan saat berjumpa langsung di lingkungan sekolah. Terlebih, saya percaya bahwa belajar bukan soal pelajaran yang harus dikuasai, tapi mematangkan emosi dan cara berkomunikasi. Melakukan manajemen respons atas situasi di sekelilingnya.

Saya sebetulnya juga termasuk orang rumahan. Apalagi pekerjaan saya lebih banyak di depan mesin tulis. Berbelas tahun saya terbiasa ketika menyelesaikan sebuah buku, tidak keluar dari kamar. Keluar saat makan, mandi, dan keperluan kecil lainnya. Tapi pasca-menulis, saya butuh berinteraksi dengan banyak orang. Walaupun ya tidak mesti setiap hari.

Ketika saya bekerja dalam situasi kantoran, apalagi dalam industri di mana kreativitas menjadi ujung tombak, curah gagasan langsung tetap peranti paling mustajab dalam mengembangkan gagasan. Walaupun tidak perlu formal. Mungkin sambil ngopi dan ngeteh. Sambil bercanda. Tidak melulu melalui rapat formal yang serius. Banyak masalah yang bisa diselesaikan, banyak inovasi yang bisa ditemukan secara bersama ketika dalam suasana ngobrol rileks bersama, sambil tertawa. Tapi itu semua mayoritas dilakukan dengan pertemuan-pertemuan langsung. Itu yang mungkin juga dibutuhkan manusia yang sedang kasmaran, kalau cuma telepon atau video call, merasa tidak tuntas. Karena pelukan atau pegangan tangan, tak pernah bisa digantikan oleh jaringan internet yang lancar dan monitor hape yang jernih.

Baca juga:  Kai Havertz Jodoh Bayern Munchen, Sudah Betul Menolak Manchester United, Liverpool, Apalagi Arsenal

Apalagi, manusia modern pada dasarnya bertumpu pada semangat ingin tahu belahan dunia lain dan mobilitas. Ada jejak kompas, layar kapal, dan mesin uap di diri kita. Manusia modern adalah manusia yang bergerak, sekalipun tidak harus gerakan tubuh, karena bisa mengunakan moda transportasi.

Saya mengerti bahwa banyak budayawan yang menyerukan ini saatnya kita kembali ke rumah. Merefleksikan pentingnya rumah sebagai tempat tinggal, bukan sebagai tempat transit belaka. Itu benar sebagian. Karena mereka lupa, ada dorongan purba “bergerak” dari dalam diri manusia. Dan yang namanya refleksi, bersifat sementara. Karena daur yang lengkap adalah dari refleksi ke aksi.

Saya mengerti banyak orang mulai keluar dari rumah setelah lebih dari 20 hari tinggal di dalam rumah. Hanya saja yang tetap diwaspadai, jaga-jarak-tubuh, dan tetap rajin-mencuci-tangan. Dan karena situasinya masih berbahaya, keluar rumah saat penting saja.

Saya tetap keluar rumah, berkeliling kota hampir setiap malam, dengan siasat tidak keluar dari kendaraan. Atau tetap rapat jika penting, sambil terus menjaga jarak satu sama lain. Tapi kadang saya berhenti di kedai kopi yang sepi. Memesan secangkir kapucino hangat. Menyesapnya. Sambil merokok. Memejamkan mata. Menikmati sejenak, dengan kesadaran utuh: saya sedang di luar rumah, walaupun hanya sebentar saja.

BACA JUGA Dua Jenis Mudik dan Perlukah Mudik Dilarang? dan esai Puthut EA lainnya di KEPALA SUKU.