MOJOK.COKenangan mengembalikan kesadaran bahwa tak ada kepastian dalam hidup kita. Masa lalu memastikan kepada kita bahwa hidup tak selamanya baik-baik saja.

Sudah dua minggu ini saya intens mengikuti akun medsos beberapa teman yang setiap hari dipakai untuk mengunggah barang lawasan yang dibongkar dari gudang rumah mereka. Berbagai barang dipotret dan diunggah disertai cerita. Barang tua, baik itu potret, lukisan, kaset lagu, buku, dan banyak yang lain, mendadak hidup lagi. Bangkit dari tidur panjang mereka, dan bersuara.

Mungkin karena bosan di rumah, setiap orang berusaha menyibukkan diri. Ada yang mulai berkebun di lahan sempit sekitar rumah. Ada yang bersih-bersih rumah, mulai mengepel, mengecat, sampai menata ulang barang-barang. Tapi yang paling menarik bagi saya adalah ketika sebagian dari teman saya mengunggah barang lama, yang didapat dari gudang mereka. Setiap barang, menyimpang kenangan, setiap kenangan yang dituturkan atau dituliskan, menjadi punya kisah. Memorabilia.

Suasana pun menjadi latar yang mengesankan. Situasi pandemi yang mencekam. Dalam keterancaman apakah kita termasuk orang yang bakal lolos dari lubang maut atau tidak. Apakah kita bakal bisa bertahan dalam ancaman perekonomian yang makin tidak menentu. Dan hal lain semacam itu, menyusun sebuah lagu latar yang mengalun sendu. Musik yang bergema di rongga kepala dan dada.

Dunia digital mendadak bisa menyambungkan banyak hal. Sebuah peristiwa semacam menonton film atau teater, atau membaca buku dengan cara yang berbeda. Seorang teman membongkar sebuah kardus di gudang rumahnya lalu menemukan sebuah potret lawas. Potret itu difoto ulang oleh kamera yang tertanam di hapenya, lalu diunggah dari sana ke akun media sosialnya lewat jaringan internet yang ada di hape tersebut, diberi narasi kisah, kemudian saya baca dalam suasana yang sendu, yang kesenduan itu menyusun sebuah lagu. Terciptalah pertunjukan itu. Mungkin itu dulu yang dimaksud dengan diorama di museum. Tapi peradaban membuatnya lebih canggih lagi tanpa harus mengunjungi museum. Mempertemukan subjek-pencerita dengan subjek-penikmat dalam relasi yang lebih anggun.

Baca juga:  Jogja, Kuliner, dan Kenangan

Ada kolaborasi yang lebih rumit antara subjek-pembuat atau produsen atau kreator, dengan subjek-penikmat atau audiens atau reseptor, di era digital, dan di situasi ketika sedang pandemi seperti ini. Hingga sebuah “karya” jadi lebih punya daya magis, setelah konon modernitas menghabisi “magisme”. Setelah era semua hal tampak profan. Mungkin bayang kematian dan kesakitan, juga penderitaan karena berbagai ancaman yang disebabkan pandemi ini, menyirami lagi semua bibit purba di diri manusia sehingga berkecambah lagi.

Relasi manusia dengan barang, yang ditaut-eratkan oleh kenangan, dikreasi oleh “diri yang sedang terancam dan menderita”, tampak punya daya gedor yang halus tapi menusuk. Sublim sekaligus subtil.

Diri yang selama ini berkelana keluar dari rumah, baik rumah fisik maupun psikologis, mencari dan mencari, bekerja dan bekerja lagi, mendadak harus pulang lagi. Mudik. Lalu membongkar barang dan membiarkan kenangan bekerja lebih optimal lagi. Mendadak gudang yang sebelumnya tak kentara pentingnya, masa lalu yang absen, sensibilitas yang nyaris tak pernah terpakai, membuat banyak orang tercenung di depan gerbang masa lalu yang megah.

Apa nasib kehidupan tanpa kenangan? Bagaimana bisa paradaban tanpa masa lalu? Apakah diri manusia hanya tersusun dari harapan dan masa depan? Atau sikap kita terhadap masa lalu yang terlalu buram. Hanya kenal sesal. Merasa diri belum bekerja dan belajar maksimal. Mengambil tindakan-tindakan yang gegabah dan keliru. Atau hal-hal semacam itu. Hingga masa lalu hanya kenangan gelap dan cerita buruk.

Baca juga:  Mana yang Lebih Baik Mengatasi Pandemi, Pemimpin Perempuan atau Laki-laki?

Pada hari kesekian puluh ketika pandemi menyerbu umat manusia, kenangan menampilkan dirinya dalam wajah yang lebih segar dan punya daya betot. Bersuara dengan cara yang berbeda. Meninggalkan gema yang lebih kuat dari sebelumnya. Lalu kita semua masuk ke pintu-pintu masa lalu, berjalan di sana. Memasuki gudang tua yang biasanya hanya kita bongkar ketika hendak pindah rumah atau kontrakan, dan masuk ke gudang baru. Tanpa pernah benar-benar kita buka dan perhatikan. Kadang kita lempar ke pasar loak atau kita berikan ke tukang rongsok. Sebab kita tak butuh masa lalu. Kita hanya butuh memastikan masa depan supaya terjamin dan baik-baik saja.

Kenangan mengembalikan kesadaran bahwa tak ada kepastian dalam hidup kita. Masa lalu memastikan kepada kita bahwa hidup tak selamanya baik-baik saja. Kita, suatu saat nanti, hanyalah bisa dikenang orang setelah kita, hanya lewat memorabilia. Itu pun kalau mereka sempat membongkarnya.

BACA JUGA Ketika Sedih Saja Tidak Cukup dan esai Puthut EA lainnya di KEPALA SUKU.