MOJOK.CO Tahun 2019 nanti, Indonesia memang akan ganti presiden. Oleh sebab itu, tagar #2019GantiPresiden memang ada benarnya.

Hari-hari ini, medsos ramai dengan tagar #2019GantiPresiden. Tagar itu diikuti dengan kampanye dunia nyata dengan penjualan aneka gimmick seperti kaos, mug, dan mungkin benda-benda lain.

Seperti biasa, lagi-lagi hal seperti itu jadi bahan perang di dunia maya. Sebagai sebuah kampanye politik, wajar saja. Yang aneh kalau malah tidak terjadi apa-apa. Misal tiba-tiba pendukung Prabowo, yang ingin ganti presiden, malah menginginkan Jokowi menjadi presiden lagi.

Jika kampanye itu tidak dilawan oleh kubu pendukung Jokowi juga aneh. Kan malah aneh kalau pendukung Jokowi mengamini kampanye ganti presiden itu.

Situasi tambah gayeng karena Presiden Jokowi ikut mengomentari hal tersebut. Kata Jokowi, mana ada presiden bisa diganti hanya karena kampanye lewat kaos. Lebih lanjut Jokowi mengatakan, presiden hanya bisa diganti karena rakyat tidak menghendaki, dan karena Allah tidak meridai.

Tidak ada yang bisa membantah pernyataan yang diucapkan Jokowi tersebut. Demokrasi kita adalah demokrasi langsung. Pemilihlah yang menentukan apakah seseorang bisa menjadi Presiden atau tidak.

Jadi tidaknya seseorang menjadi presiden, bukan karena klaim kepintaran, kesalehan, kapasitas, dan lain-lain. Seseorang menjadi presiden karena menang dalam pilpres. Titik. Mau dibilang planga-plongo, bodoh, tidak tahu persoalan, dan lain sebagainya, dalam kontestasi pilpres, tidak penting. Di atas kertas politik, yang paling banyak dicoblos, yang menang.

Baca juga:  Menurut Jokowi, Seorang Presiden Seharusnya Punya Pengalaman Pemerintahan

Tapi ada yang menarik dicermati. Sebetulnya untuk urusan kaos sebagai bahan kampanye, itu hal yang jamak. Dan efeknya bisa besar. Kalau tidak, mustahil seorang politikus mempertimbangkan betul ciri busana mereka.

Kita semua pasti ingat, Jokowi hadir ke publik politik yang lebih luas saat pilgub DKI dengan busana yang khas: baju kotak-kotak. Saat dia berlaga di pilpres, busananya juga terkonsep: baju putih berlengan panjang yang digulung. Sebuah penjabaran dari slogan “kerja, kerja, kerja”. Lengan baju yang digulung itu artinya turun tangan dan bekerja.

Prabowo Subianto juga memilih baju safari berkantong banyak dan memakai kopiah untuk memudahkan dirinya diterima sebagai sosok tokoh nasional. Bung Karno punya gaya busana yang juga berbeda. Rapi. Baju komando. Berkopiah. Dan sebuah tongkat komando selalu dibawanya.

Presiden SBY juga demikian. Dikenal dengan busana batiknya yang indah dan “resap di mata”. Enak dilihat. Bahkan AHY yang masih muda itu, tampil dengan busana yang khas dan terkonsep saat berlaga di pilgub DKI dengan kostum taktikal. Masih kurang? Sandiaga Uno selalu tampil dengan busana olahraga yang sportif untuk mendukung citranya sebagai orang yang berjiwa muda nan enerjik, plus gemar berolahraga.

Jadi, soal kaos dan busana memang cukup penting dalam ranah politik kita. Sebab sekali lagi, politik itu soal persepsi. Salah satu pintu persepsi yang mudah ditangkap orang adalan dari penampilan. Dan salah satu poin penting dalam penampilan adalah busana.

Baca juga:  Syahdunya Serah Terima Jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Tandingan

Dengan demikian, kampanye lewat kaos bisa saja sangat efektif. Kalau tidak percaya, lihat saja pawai akbar hajatan politik. Pasti kaos partai atau nama nama paslon selalu dijadikan bahan pertimbangan dalam peristiwa tersebut.

Hanya saja yang belum dilihat dengan cermat adalah soal slogannya: 2019 Ganti Presiden. Tentu saja kampanye ini benar sekali. Sebab pada tahun 2019 nanti, Indonesia pasti punya presiden baru karena masa bakti Presiden Jokowi sudah habis. Bisa saja yang menggantikan Prabowo, Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, atau yang lain. Tapi jangan lupa, yang menggantikan bisa saja Jokowi sendiri.

Jadi, masa jabatan Jokowi memang habis di tahun 2019, makanya dihelat pilpres lagi di tahun tersebut. Hanya saja, sangat mungkin Jokowi yang menjadi presiden lagi.

Coba cermati bahasa konstitusinya: masa jabatan presiden adalah lima tahun, setelah itu dia bisa dipilih kembali. Dengan demikian, secara konstitusi, memang bakal ada pergantian jabatan presiden. Hanya saja Jokowi bisa terpilih kembali.

Kesimpulannya: 2019 memang bakal ada pergantian presiden di Indonesia.



Tirto.ID
Loading...

No more articles