Demonstrasi Itu Biasa Saja

jokowi pandemi virus corona sri mulyani bpjs kesehatan agus mulyadi gibran rakabuming calon wali kota solo mojok.co dijatuhkan presiden jokowi puthut ea opini tulisan nonfiksi esai mojok.co analisis politik angkatan 2019

jokowi pandemi virus corona sri mulyani bpjs kesehatan agus mulyadi gibran rakabuming calon wali kota solo mojok.co dijatuhkan presiden jokowi puthut ea opini tulisan nonfiksi esai mojok.co analisis politik angkatan 2019

MOJOK.CODemonstrasi yang bermunculan di mana-mana adalah tanda anak-anak muda Indonesia masih waras.

Tujuh tahun lalu, saat Jokowi masih menjabat sebagai wali kota Surakarta, ia bersoloroh di depan hadirin Indonesia Young Changemaker Summit di Bandung, “Saya kangen sebetulnya didemo.”

Mungkin ujaran itu adalah sinisme. Tapi, saya berprasangka baik karena ia mengatakan lagi, “Karena apa? Apa pun… apa pun… pemerintah itu perlu dikontrol. Pemerintah itu perlu ada yang peringatin kalau keliru. Jadi kalau enggak ada demo itu keliru. Jadi sekarang saya sering ngomong di mana-mana, ‘Tolong saya didemo.’”

Dua minggu terakhir ini, demonstrasi dalam skala kecil dan menengah mulai bermunculan. Tensinya semakin meningkat. Dalam minggu ini, di berbagai kota akan digelar demonstrasi dalam skala yang makin masif.

Isu yang dibawa beragam. Mulai dari penolakan atas revisi UU KPK yang baru saja disahkan, penolakan atas RUU KUHP, sampai penolakan atas RUU Pertanahan. Termasuk juga tuntutan agar segera diproses secara hukum, perusahaan yang nyata melakukan kejahatan ekologis, yang mengakibatkan kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan.

Saya sebetulnya heran, kenapa ada pihak pro Presiden Jokowi yang meradang dengan isu-isu tersebut. Saya nyaris tak habis pikir. Mungkin mereka kurang membaca. Tapi, masak sih? Kebanyakan dari mereka kan mantan aktivis. Bisa jadi kurang peka saja.

Kalau kita lihat dari daftar tuntutannya, tidak ada yang tidak masuk akal dari kacamata masyarakat sipil. Ini bukan tuntutan yang aneh. Kalau dilihat dari subjek yang dituju, juga tidak ada yang mengarah kepada pemakzulan presiden. Jadi kenapa marah-marah?

Tapi kemudian saya berpikir, dulu ketika hampir semua mahasiswa terlibat di politik jalanan ‘98, juga berhadapan dengan suara-suara seperti ini. Suara yang jika kita uji secara politik dan moral, tidak menemukan bobotnya. Sebabnya sederhana: sentimen dan waham masa lalu yang tak tuntas. Argumen tidak dibutuhkan. Mereka lebih suka asumsi, praduga, gosip, dan sekian hal tak jelas lain. Politik yang jelas, jernih, dan argumentatif tidak akan punya tempat di kepala mereka.

Menyuarakan pendapat, protes, demonstrasi itu boleh. Kenapa boleh? Karena penting. Ketika kita sudah memilih jalan demokrasi, otomatis kita memaklumatkan diperbolehkannya demonstrasi.

Lalu dari sisi isu, sebagaimana yang saya paparkan di atas, tidak ada yang aneh. Justru akan aneh kalau isu-isu penting di atas tidak direspons oleh masyarakat sipil. Dan malah itu menandakan ada penyakit ganas dalam psiko-sosial kita. Setidaknya dengan adanya gelombang demonstrasi ini, kita jadi tahu, ada yang masih waras. Banyak. Alhamdulillah.

Tapi bagi saya ada hal lain yang lebih prinsip. Usia saya sekarang 42 tahun. Ketika gelombang demonstrasi ‘98 terjadi, usia saya 24 tahun. Saya sekarang bukan lagi orang muda.

Indonesia sekarang ini dikelola seperti seolah untuk generasi tua. Padahal negeri ini secara tinjauan moral adalah pinjaman dari generasi muda. Kita yang tua ini harus mempertanggungjawabkannya kepada mereka.

Kalau negeri ini dikelola bukan dalam konsepsi moral di atas, maka beginilah jadinya. Kita bisa bayangkan, 10 atau paling lama 20 tahun lagi, seluruh sumber daya alam kita bakal habis tak tersisa untuk generasi mendatang.

Jadi, ketika generasi muda meradang, menuntut perubahan cara pikir dan tata kelola negara, mestinya generasi saya ke atas ikut bangga. Itu peringatan yang mulia. Karena kegagalan generasi tua harus segera direvisi sejak dini.

Jangan hanya karena tumpahan kekuasaan, remahan harta, membuat cara pandang kita picik. Tidak mampu berpikir dengan lebih dalam. Indonesia akan baik-baik saja kalau mau mendengar suara generasi mudanya. Bukan berkepala batu.

Hanya saja, wajar sih kalau setiap tindakan kritis akan mendapatkan perlawanan. Sepertinya, hukum alamiahnya memang begitu. Walaupun, saya lihat, generasi tua yang jernih, bijak, kaya dengan khazanah keilmuan, hampir tak ada yang tak setuju dengan unjuk rasa ini.

Jadi kalau ada dalam satu babak di hidup saya hanya punya dua pilihan: apakah memilih bersama elite politik Indonesia atau memilih mahasiswa dan anak muda Indonesia, saya memilih bersama mahasiswa dan anak muda Indonesia. Suara mereka memang keras, tapi lebih bisa dipertanggungjawabkan. Protes mereka memang pedas, tapi kebenaran sering kali harus disuarakan dengan pedas. Tindakan mereka memang frontal. Begitulah anak muda. Tidak ada basa-basinya. Tidak perlu eufemisme dalam berbahasa.

Sejak usia saya melewati 40 tahun, saya membangun sikap di diri saya bahwa saya siap dipimpin oleh mahasiswa dan anak muda Indonesia. Sebab sejarah negeri ini memang digerakkan oleh mereka. Bukan oleh generasi tua yang mungkin sudah dibebani oleh terlalu banyak pertimbangan dan kepentingan.

Mahasiswa dan anak muda Indonesia, ambil waktumu. Kini saatmu. Jangan ragu.

BACA JUGA Hari-hari Terberat Presiden Jokowi atau artikel rubrik KEPALA SUKU lainnya.

Exit mobile version