MOJOK.COTindakan-tindakan kecil membeli dan berbelanja ini kelihatannya sepele dan kecil. Tapi jika 20 juta kelas menengah kita yang ekonomi keluarga mereka telah mapan melakukannya, maka roda ekonomi tetap bisa berjalan.

Setiap kali ditanya oleh teman, apa yang sebaiknya dilakukan dalam situasi yang tidak menentu seperti ini?, tentu jawabannya banyak. Pertama, ikuti aturan pemerintah.

Ini tidak ada hubungannya dengan kalian suka Jokowi atau tidak. Suka Anies Baswedan atau tidak. Suka Ganjar Pranowo atau tidak. Suka bupati atau wali kota di daerahmu atau tidak. Tidak ada hubungan dengan suka dan tidak suka. Saat ini, mereka yang paling punya instrumen kekuasaan paling lengkap, dari mulai anggaran sampai perangkat kerja. Mereka yang bisa mengorganisasikan semua instrumen itu. Kalian boleh setuju atau tidak, tapi kita, warga negara, dalam posisi tidak menguasai semua instrumen itu. Kalau diminta jaga-jarak-tubuh, ikuti. Kalau diminta PSBB, ikuti. Ini bukan saatnya melakukan ketololan dengan membangkang. Jangan mentang-mentang kamu tidak suka Jokowi lalu kamu berkeliaran tanpa mematuhi protokol kesehatan dan aturan yang dibikin pemerintah. Karena kalau kamu sedang melakukan pembangkangan itu, artinya kamu sedang mencelakakan dirimu, keluargamu, dan orang-orang di sekelilingmu.

Kedua, bantulah apa yang bisa kamu lakukan. Sebarkanlah informasi yang benar kepada masyarakat luas. Menyebarkan kabar bohong sama saja dengan kamu tega mencelakakan nyawa manusia. Dalam konteks ini, kamu bahkan boleh menyebarkan analisis yang menurutmu baik, yang mungkin akan membantu banyak orang berpikir dan menerima informasi dengan baik. Informasi yang baik ikut membantu orang berpikir dengan tepat, dan itu akan memandu pada tindakan yang bijak.

Baca juga:  Pada Akhirnya Kita Harus Realistis

Ketiga, bantulah apa yang bisa kamu bantu. Silakan donasikan uang jika kamu punya. Silakan sumbangkan energi dan pikiran jika memang kamu punya kapasitas melakukannya. Pandemi corona tidak mungkin dihadapi sendiri oleh pemerintah dari tingkat pusat sampai daerah.

Keempat, ini saran dari saya, kalau kamu punya uang, jangan lupa untuk berbelanja. Berbelanja? Ya.

Ekonomi tetap harus bergerak sebisa mungkin. Sudah banyak terjadi pemecatan hubungan kerja. Sudah banyak orang kehilangan pekerjaan. Sudah banyak orang yang juga mengalami penurunan omzet. Jika kamu punya uang, berbelanjalah. Hanya kamu yang bisa menghitung berapa uang yang bisa kamu belanjakan setiap hari, dalam jangka tertentu.

Kalau mau makan, saya menyarankan kalian memesan dari warung makan terdekat. Ini mungkin tindakan sepele, tapi jika banyak orang melakukannya, maka akan membantu roda perekonomian tetap berputar. Warung makan membutuhkan bahan makanan, dari sayuran, bumbu, ikan, daging, dll. Itu artinya, petani masih bisa menjual hasil buminya sekalipun tidak bisa maksimal seperti di situasi normal. Peternak juga masih bisa menjual hasilnya. Nelayan juga.

Dengan kamu membeli warung makanan dari warung terdekat, apalagi lewat ojol, maka setidaknya kamu telah membantu pekerja ojol tetap bisa bekerja, warung makan tetap bisa buka dan mendapatkan keuntungan, pedagang sayur dan bahan makan tetap bisa bertahan hidup, dan petani, nelayan, peternak juga bisa melakukan kegiatan ekonomi.

Selain itu, kamu bisa mulai cerdas dalam memilih produk yang akan kamu beli. Usahakan yang mengandung produk atau bahan yang diproduksi oleh warga kita. Kamu bisa membeli kopi bubuk karena kita belum impor kopi. Kamu bisa membeli teh karena teh kita masih dihasilkan oleh perkebunan teh di Indonesia. Kamu bahkan bisa tetap belanja rokok karena cengkeh hanya ada di Indonesia, dan 95 persen tembakau masih dari petani-petani tembakau di seluruh Indonesia.

Baca juga:  Tugas Airlangga Hartarto Memang Mengkritik Anies Baswedan dan Menolak PSBB

Kalau ada tetanggamu yang membuat masker, belilah. Masker bikinan tetanggamu penting artinya buat keuangan mereka. Kalau ada tetanggamu membuat cemilan, belilah. Uang 10.000 rupiah itu penting buat mereka. Belanjalah! Jangan berhemat. Kamu mungkin bisa membuat sendiri, tapi dengan membeli, dan jika itu dilakukan oleh banyak orang, perekonomian masyarakat bawah tidak langsung benar-benar terpuruk.

Tentu saja masukan saya itu buat kalian yang punya tabungan cukup untuk hidup sekian tahun. Atau kalian digaji dan perusahaan kalian memberi jaminan tidak akan ada PHK. Ini bukan saatnya berhemat. Tapi juga bukan ajakan untuk boros. Toh itu semata baru pada ceruk konsumsi sehari-hari dan kebutuhan yang benar-benar kita butuhkan.

Tentu saja mekanisme pembelian dan belanja, harus tetap dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan. Tetap jaga jarak, sediakan keranjang di depan rumah, cuci tangan dengan sabun dan dibilas dengan air mengalir.

Tindakan-tindakan kecil membeli dan berbelanja ini kelihatannya sepele dan kecil. Tapi jika 20 juta kelas menengah kita yang ekonomi keluarga mereka telah mapan melakukannya, maka roda ekonomi tetap bisa berjalan. Karena kita tak pernah tahu kapan pandemi corona ini berakhir. Karena tidak ada yang tahu, kita lakukan saja yang kita mampu dan kita tahu: ya, berbelanjalah.

BACA JUGA Rindu pada Hal-hal Sederhana dan esai Puthut EA lainnya di KEPALA SUKU.