MOJOKMojok membuat kesalahan. Mojok meminta maaf. Respons orang bermacam-macam. Mulai dari memaklumi, mengingatkan, hingga ada yang menunjukkan sikap fasistik ngintelektual.

Mojok baru saja membuat kesalahan. Dan ini bukan kesalahan yang pertama. Sepanjang umur media ini yang hampir 3 tahun, saya ingat persis bahwa ini kesalahan keenam.

Sebagai Kepala Suku, sejak awal, saya ingin setiap kesalahan yang dilakukan Mojok tidak cukup dengan dikoreksi. Atau misalnya hanya memberi catatan di bawah tulisan. Tidak cukup. Mojok harus juga meminta maaf kepada pembacanya.

Media dikelola oleh orang-orang. Maka dia bisa salah. Kalau orang salah atau keliru, dia minimal melakukan 2 hal: meminta maaf dan memperbaiki kesalahannya.

Di dunia ini, tidak ada media yang tidak pernah salah. Namun mereka selalu punya mekanisme untuk memperbaiki kesalahan.

Tentu saja setiap kesalahan ada risikonya. Sama kayak kita manusia. Kita berbuat salah, kita meminta maaf, tapi belum tentu semua orang memaafkan kita.

Namun ada saja yang menggelikan, terutama yang barusan saya baca. Ada seorang intelektual (lebih tepatnya “sok ngintelektual”) yang bilang bahwa Mojok pernah mati, karena kesalahan ini sebaiknya memang dulu tidak hidup lagi.

Intelektual dengan model berpikir fasistik seperti itu memang kadang ada. Biasa saja. Fasistik dalam keilmuan itu sebetulnya menandakan setidaknya dua hal: ceteknya pemikirannya, atau memang secara moral terbiasa membabat, membasmi, dan membumihanguskan. Anda bisa bayangkan kalau semua media yang melakukan kekeliruan mesti membubarkan diri. Berarti tidak ada media massa, dong.

Kalau semua orang yang keliru lalu dihukum pancung, tidak ada lagi manusia. Kecuali si pemancung terakhir. Selain karena tidak ada lagi orang yang memancungnya, juga tidak lagi ada orang yang tahu kesalahannya.

Baca juga:  Derita Anak Magang di Mojok

Bagi saya, soal beginian perlu menjadi renungan bersama karena kita punya rentetan fenomena sosial yang mengkhawatirkan akhir-akhir ini. Makin kerasnya orang yang bertentangan satu sama lain. Apa yang tidak disetujui harus bubar. Apa yang dianggap keliru harus dihancurkan. Tapi mungkin banyak yang tidak sadar bahwa kita semua bisa berpotensi menjadikan semua itu makin keras. Kita bisa saja berkontribusi memberi lahan bagi tumbuhnya kaum fatalis dan fasistik macam itu.

Itu bisa dilihat kita gemar sekali mencerca dengan keras siapa saja yang keliru. Bahkan membuli. Atau tidak ada refleksi dan otokritik pada diri sendiri, benarkah apa yang kita pikir, adilkah, apakah itu sesuai dengan kaidah keilmuan atau standar cara berpikir kritis?

Kalau kekeliruan mendapatkan respons negatif, itu wajar. Itu soal ekspresif saja yang biasanya spontan. Seperti kita yang mau tertabrak sepeda motor lalu mengumpat: jancuk! Sudah. Ketika orang yang mau menabrak meminta maaf, ya kita maafkan walaupun mungkin masih dongkol. Tapi yang jelas tidak kita pukuli.

Mojok keliru dan meminta maaf, respons orang macam-macam. Ada yang tetap marah. Tapi habis itu tertawa lagi setelah kemarahan mereka sirna. Ada yang langsung memaafkan. Ada yang salut sama Mojok karena mau meminta maaf. Macam-macam lah.

Tapi yang khusus membungkus diri dengan sikap ngintelektual macam itu, memang harus dikasih perhatian dikit dari Kepala Suku. Biar setidaknya dia tahu, ada yang korslet di cara pikirnya. Karena memang ada orang sok ngintelektual yang asal ngintelektual saja. Atau ada yang memang secara mental gak suka sama Mojok. Jangankan Mojok salah, Mojok benar saja tetap dianggap salah. Karena hidup orang-orang semacam itu disetir dan didorong oleh rasa tidak suka pada apa pun. Termasuk pada Mojok.

Baca juga:  Mojok Adalah Diri Saya yang Lain

Selamat menjalankan ibadah puasa, bersikaplah biasa saja lazimnya manusia. Tak perlu ada yang merasa jadi dewa. Salam hangat…