MOJOK. COSaya tidak banyak menghapal nama jalan. Tidak di Yogya atau di kota lain. Tapi ada jalan yang melumuri saya dengan banyak kenangan. Nama jalan itu adalah Jalan Kaliurang.

Mungkin karena sebagian hidup saya di Yogya selama 25 tahun banyak saya habiskan di sekitar salah satu ruas jalan paling panjang di Yogya itu. Saya kuliah di Fakultas Filsafat UGM. Semua orang tahu, UGM dibelah oleh Jalan Kaliurang. Saya hanya enam bulan tinggal di daerah Terban. Selebihnya, saya berpindah kos, yang hampir semuanya selalu merujuk pada Jalan Kaliurang. Setelah menikah, saya dan Istri mengontrak rumah di Jalan Kaliurang. Ketika kami sudah mampu mencicil rumah, kami tinggal di seputar Jalan Kaliurang. Hanya beda kilometer saja. Saat mengontrak, kami tinggal di sekitar Km 7. Setelah punya rumah mungil, kami tinggal di Km 9,3.

Saat tahun 1998, ada beberapa momentum bentrok mahasiswa dengan aparat di tiga titik yang selalu saya ikuti: Bundaran UGM, Jalan Gejayan (yang beberapa bulan terakhir dikenal lagi, kini dengan ikon gerakan mahasiswa-rakyat Gejayan Memanggil), dan Jalan Kaliurang. Bedanya, selama bentrok mahasiswa dengan aparat di Bundaran dan Boulevard UGM, saya tidak pernah di barisan paling depan. Karena saat itu tugas saya di bagian membuat selebaran dan menyebarkannya dengan cara sembunyi-sembunyi. Di Jalan Gejayan, saya ditunjuk sebagai salah satu orator, dan tetap di sana selama dua hari dua malam bentrokan itu. Tapi di Jalan Kaliurang, saya ditunjuk sebagai salah satu komandan lapangan. Instruksi bentrok, strategi, keputusan maju dan mundur, serang dan berpisah, termasuk bagaimana menyelamatkan diri, ada di bawah kewenangan saya bersama satu lagi komandan lapangan dan seorang pimpinan demonstrasi. Memimpin ribuan orang, dengan risiko tertembak atau mati, di usia yang masih sangat muda, membuat saya sempat gemetar menjalankan amanat itu.

Baca juga:  Halo Buzzer Jokowi, Sori Ya, Aksi ‘Gejayan Memanggil’ Tak Sesuai Harapan Kalian

Setelah saya hampir lulus kuliah, saya bergabung dengan sebuah lembaga nirlaba, dan saya belajar menjadi peneliti lapangan. Kantornya pun di seputaran Jalan Kaliurang. Selain itu, jalan ini adalah jalan yang paling lama merekam kisah asmara saya.

Mungkin karena itu semua, saya nyaris tak pernah bisa dipisahkan dengan Jalan Kaliurang. Kalau saya rindu Yogya, sejujurnya saya rindu kepada Jalan Kaliurang.

Sampai sekarang saya masih punya kebiasaan unik. Setiap hujan deras turun di malam hari, saya berkendara sendiri menyusuri jalan itu. Menyusuri saja. Tanpa ada lagu di dalam mobil. Hal itu pula yang mungkin bisa menjelaskan kenapa minimal dua malam sekali, saat pandemi corona berlangsung, saya tetap menyusuri jalan ini. Melihat dan menyaksikan perubahan demi perubahan di sana. Warung-warung yang mulai sepi. Lalu lintas yang masih padat, kemudian lengang, lalu kini mulai ramai lagi.

Tidak ada hujan yang lebih indah di mana pun selain hujan yang membasahi Jalan Kaliurang. Sekaligus saya ikut menjadi saksi saat jalanan itu mencekam. Misalnya ketika erupsi Merapi tahun 2010 dan saat pandemi corona mulai diumumkan.

Tidak setiap warung makan di jalan yang membujur dari mulai perempatan Mirota-UGM sampai ke taman wisata Kaliurang itu bisa saya kenali. Jalur ini makin hari makin ramai. Bahkan menjadi salah satu jalan teramai di Yogya. Maklum, orang-orang kelas menengah Yogya lebih memilih tinggal di Jalan Kaliurang. Mungkin karena itu pula, harga tanah di seputar jalan ini menjadi cepat sekali naik. Mungkin juga karena kesejukannya. Atau, saya punya dugaan lain, ada ribuan atau bahkan puluhan ribu orang yang punya kenangan dengan jalan ini, lalu ketika sanggup membeli rumah, sekalipun dengan cara mencicil, memilih tinggal di sini.

Baca juga:  Dokumen AS Berisi Prabowo Subianto Terlibat Penghilangan Aktivis 98 Tersebar Jelang Pilpres

Ada ruas khusus di Jalan Kaliurang yang begitu saya kenali. Mulai dari perempatan Kentungan sampai pertigaan Besi. Di jalur itulah biasanya saya menyusuri, ketika hujan turun di malam hari. Ini juga jalur yang sering saya lewati baik bersama keluarga atau ketika saya bekerja. Kantor Mojok terletak di daerah Besi-Jangkang, yang itu artinya, saya pasti akan mengendarai dengan pelan kendaran saya dari Km 9,3 ke Km 13.

Semalam, saya menyusuri lagi jalanan ini. Setelah lebih dari 3 minggu pandemi diumumkan. Jalanan memang mulai ramai lagi. Tapi warung-warung kaki lima makin banyak yang tutup. Setiap kali saya melihat bekas warung tenda yang sudah tidak ditempati lagi, atau kedai kopi yang gelap karena mungkin tutup sementara waktu, seakan ada yang rontok di hati saya. Sehelai demi sehelai.

Kenangan dan kerinduan mungkin punya pertautan yang rumit. Tapi ia hidup dan tumbuh. Ia ditakik oleh kebahagiaan dan penderitaan. Jalan Kaliurang bukan benda mati berisi aspal padat yang digelar dan senantiasa diperlebar. Ia adalah sebuah dunia. Tentang manusia dan kehidupannya.

Pandemi ini menerobos pori-pori jalan ini. Meninggalkan rasa gigil yang kelam. Sekalipun kendaraan tetap berseliweran.

BACA JUGA Banyak Bualan di Jalan Kaliurang Atas dan esai Puthut EA lainnya di KEPALA SUKU.