• 142
    Shares

MOJOK.CO Keputusan untuk tidak menyia-nyiakan waktu pergi ke TPS dan ikut pemilu adalah sebuah keputusan politik. Setuju atau tidak setuju, itu realitas politik juga.

Tidak semua orang suka pemilu, baik pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden. Bagi mereka, ikut pemilu adalah hal yang dianggap tidak penting dan kadang menggelikan, apalagi jika dikaitkan dengan sukses tidaknya hidup seseorang.

Seorang kawan saya pernah bilang, dia sukses berbisnis bukan karena SBY yang jadi presiden atau Jokowi yang jadi presiden. “Ke depan, bisnisku berjalan dengan baik atau tidak, bukan karena Prabowo yang menang atau Jokowi yang menang.”

Pendapat serupa ini juga pernah saya dengar dengan versi yang lebih dalam dari seorang alim seperti Gus Baha’. Beliau kurang-lebih berkata begini: Kekeliruan yang sering terjadi adalah menyandarkan kesuksesan dan ketidaksuksesan pada siapa yang menjadi presiden, gubernur, atau bupati. Padahal persoalan utamanya, ya, ada pada diri orang itu sendiri. Mau presidennya hebat, gubernurnya bekerja dengan baik, bupatinya baik hati, tapi kalau cara mengelola  keuangan seseorang ngawur dan perilakunya buruk, ya tetap saja tidak sukses.

Pendapat seperti itu banyak diamini oleh orang, apalagi yang bertarung sebagai seniman, wiraswasta, dan intelektual. Ditambah, soal politik makin riuh, sementara makin banyak politikus yang kena kasus korupsi. Kalau golongan ini dianggap apolitis, justru keliru. Mereka sangat politis. Sangat paham politik. Sangat melek politik. Dan justru karena itu, keputusan mereka untuk bersikap biasa saja termasuk tidak mau menyia-nyiakan waktu pergi ke TPS adalah sebuah keputusan politik. Setuju atau tidak setuju, itu realitas politik juga.

Baca juga:  Partai Bulan Bintang Bisa Bersinar pada Pileg 2019

Nah, sekarang, kegiatan apa yang menarik dilakukan oleh kaum semacam itu, di saat orang lain sibuk mengantre nyoblos di TPS?

1. Berkumpul bersama keluarga

Bagi orang rumahan, hal yang paling mudah adalah tinggal di rumah. Memasak bersama anggota keluarga, makan enak, lalu berbaring di depan teve sambil menonton hitung cepat sehingga tahu siapa yang berpotensi besar menjadi presiden.

2. Belanja dan menonton

Sementara warga negara lain menggunakan hak pilihnya, ada juga yang memilih untuk menghibur diri bersama teman atau keluarga dengan pergi ke mal. Mereka berbelanja, menonton film, lalu ngopi di mal sambil berkelakar dan mengecek berita via gadget, mengikuti perkembangan tentang siapa yang menang pilpres versi hitung cepat.

3. Mancing

Klub mancing bertumbuhan di banyak tempat. Kali ini yang mewabah adalah klub mancing di sungai. Berbeda dengan klub mancing di laut, mancing di sungai berbiaya lebih murah dan lebih merakyat karena bisa dilakukan kapan saja dan ada banyak sungai kecil yang bisa dijadikan spot mancing. Pada bulan April, aliran sungai sangat deras karena masih ada sisa musim hujan. Pemancing sungai masih dimanjakan dengan ikan-ikan sungai yang melimpah. Dan ini alternatif kegiatan yang menarik bagi mereka yang tidak suka pergi ke TPS.

4. Kemping dan naik gunung

Nah, bagi mereka yang suka kegiatan luar ruang, ini juga saat yang pas untuk kemping dan naik gunung. Bagi pencinta alam, bulan April sampai Oktober adalah bulan yang baik buat mendaki gunung. April memang masih ada hujan, tapi curah hujan sudah tidak tinggi. Jadi, di saat orang lain deg-degan menyaksikan jagoan mereka menang pilpres atau tidak, para kaum yang memilih kemping dan mendaki gunung akan mendapatkan kepuasan yang berbeda: berada di alam terbuka, menghadap cakrawala, menyaksikan matahari terbit. Asyik!

Baca juga:  Surat Protes dari PNS untuk Jokowi dan Pendukung Garis Keras Salam Dua Periode

5. Umrah

Sementara bagi mereka yang punya cukup uang, punya cukup waktu, dan ingin mendekatkan diri kepada Tuhan, bisa melaksanakan ibadah umrah. Memang sih, ibadah ini tidak cukup dilakukan sehari. Biasanya butuh waktu antara seminggu sampai sepuluh hari, bergantung paket umrah yang dipilih. Tapi tentu ada sensasi sendiri di saat banyak orang di dalam negeri sedang dalam tensi tinggi, penuh emosi, sementara kita bisa berjarak dengan itu semua, lalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Tentu tidak lupa berdoa yang terbaik bagi bangsa ini.

Nah, lima kegiatan itu bisa dijadikan alternatif bagi Anda yang tidak ikut pemilu. Asyik, bukan? Mari kita kemon!