MOJOK.COAlih-alih pakai istilah “laran” (蠟染), media di Cina malah menulis pakai istilah “batik” segala. Wah ya siap bikin ramai netijen Indonesia ini namanya.

Dua wasap grup yang saya ikuti kompak membahas video klaim “batik Cina” yang diunggah akun Twitter resmi kantor berita milik Pemerintah Cina, Xinhua. Bedanya, yang satu didominasi oleh orang-orang yang kalem ke Cina, sedangkan yang satunya mayoritas gahar-gahar ke Cina. Kenapa saya bisa masuk ke semuanya? Namanya juga agen ganda.

Di wasap grup yang kalem ke Cina, ada yang nyeletuk begini:

“Wajar Tiongkok kayak gitu. Karena saat ini Tiongkok ‘negara kaya’. Kalau Indonesia ‘negara kaya’, kita juga akan melakukan hal serupa.”

Itu komentar kawan saya yang barangkali kelupaan kalau Cina selalu mendaku dirinya sebagai ‘liyi zhi bang‘ (negeri norma dan susila). Dia lulusan Cina. Kini bekerja di perusahaan telekomunikasi Cina yang jadi sasaran utama perang dagang yang dikobarkan Donald Trump, Presiden Amerika. Pada waktu senggangnya, ia kerap turun ke jalan menyuarakan nasib buruh kita di tengah kian mencekiknya cengkeraman korporasi global.

“Dari tempat di mana kita semua benar, bunga-bunga tidak akan pernah bermekaran di musim semi.”

Karena terngiang puisi penyair Israel Yehuda Amichai ini, akhirnya saya bergegas pindah ke wasap grup yang gahar ke Cina. Sebab, mustahil menemukan pencerahan bila saya hanya ngetem di sela-sela kerumunan orang yang membenarkan Cina melulu.

Ketemulah saya dengan guru besar emeritus ahli Cina yang ikut urun rembuk. “Dalam sejarah Indonesia, salah satu penyebab kerusuhan anti-Tionghoa adalah ketika etnis Tionghoa terjun ke bisnis batik,” tulisnya agak ngeri-ngeri sedap.

“Itu kerusuhan yang terjadi di Solo tahun 1912, ya, Prof? Sehabis itu terjadi lagi di Kudus lantaran persaingan bisnis rokok antara Tionghoa versus Sarekat Islam, kan?” tanya saya, menimpali.

“Betul.”

“Cina sebaiknya pakai istilah ‘laran‘ (蜡染) saja. Suku Miao yang banyak tinggal di Provinsi Guizhou itu memang punya budaya laran. Persis budaya batik pada suku Jawa di Indonesia,” kata saya.

“Betul kata Anda, Novi. Mestinya media Tiongkok tidak pakai istilah ‘batik’. Bilang saja seni di video itu mirip dengan seni batik di Indonesia. Tapi problemnya Tiongkok selalu menganggap dirinya sebagai pusat kebudayaan dunia. Makanya mereka cenderung menganggap rendah bangsa lain,” terang profesor itu.

Ingatan saya seketika dibawa melayang pada waktu ketika saya masih kuliah di Xiamen, kota cantik nan kaya raya di Cina selatan yang pernah dijadikan tempat persembunyian Tan Malaka.

Baca juga:  Prabowo Meminta Kader Gerindra dan Masyarakat Dukung Penuh Pemerintahan Jokowi

Kala itu saya sedang makan bersama seorang tokoh Tionghoa yang merupakan bos salah satu koran berbahasa Cina yang oplahnya cukup luas di Indonesia. Kami membicarakan banyak hal, namun silang budaya antara Cina dengan Nusantara adalah topik utamanya.

“Banyak sekali budaya Indonesia yang berasal dari Cina. Tahu, mi, bakso, itu aslinya dari Cina semua. Termasuk juga soto!” tegas lelaki sepuh itu seraya menjelaskan asal muasal kata ‘soto’ yang katanya merupakan perubahan kata (verbastering) dari ‘shaodu‘ dalam bahasa Cina.

Saya yang tengah khusyuk menyeruput kuah bakso hampir saja tersedak mendengar penjelasannya yang terkesan diterawang pakai ilmu cocokologi itu. Terlebih, sampai detik ini saya belum menemukan ada istilah ‘shaodu’ dalam bahasa Cina. Kalau ‘zhudu’ sih ada. Tapi itu artinya jeroan babi, dan naga-naganya sulit sekali untuk dikait-kaitkan dengan soto.

Ya kecuali kalau ‘zhudu’ yang dibaca ‘cutu’ ini diklaim lama-kelamaan bermetamorfosis menjadi ‘coto’ sebagaimana dilafazkan makhraj orang Makassar itu. Tentu dengan premis Nusantara tak punya kebudayaan sendiri dan hanya mengimpor dari luar belaka.

Iya, tidak ada yang tidak tahu bahwa Cina adalah negara yang mempunyai peradaban yang sangat tua di planet biru ini. Tetapi, mungkin karena itu pula Cina jadi seperti yang dikeluhkan mahaguru tadi, “selalu menganggap dirinya sebagai pusat kebudayaan dunia.”

Bila benar begitu, saya kok curiga Cina masih terkungkung pola pikir ‘tian xia‘ (di bawah langit). Pandangan dunia (weltanschauung) Cina kuno ini termanifestasi dalam kalimat yang termaktub dalam kitab klasik sohor Shijing, “pu tian zhi xia, mo fei wang tu; shuai tu zhi bing, mo fei wang chen.”

Terjemahan ugal-ugalannya kira-kira, “di bawah langit, tak ada yang bukan tanah kaisar; siapa yang menggarap tanah, tak ada yang bukan rakyat kaisar.”

Sungguh ini mirip dengan sejoli yang lagi mabuk cinta yang menganggap dunia dan segala isinya ini hanya milik mereka, sementara yang lainnya numpang saja.

Coba tengok Bab 2 buku tebal On China karya bekas Menlu Amerika Henry Kissinger. Di sana ada cerita tentang Kaisar Dinasti Qing yang dengan jemawa mengirim maklumat kepada penguasa Britania Raya bahwa mereka tidak tertarik dengan barang-barang modern nan canggih yang diperdagangkan Inggris karena Cina sudah “punya segalanya”. Padahal, jelas-jelas Cina tidak punya itu semua.

Kesal, Inggris akhirnya menginvasi Cina. Hong Kong dicaplok. Anehnya, meskipun kedaulatannya dianeksasi penjajah, Kaisar Cina masih dengan santainya bilang, “Dah, ambil aja, wong cuma kampung nelayan seupil gitu kok.”

Baca juga:  Jumlah Kasus Corona Melampaui China, Indonesia Berpotensi Menjadi Episentrum Corona Asia

Untungnya, ketika media pelat merah Cina menulis, “Batik adalah kerajinan tradisional yang umum di kalangan kelompok etnik Cina,” Pemerintah Indonesia tidak bertindak sebrutal pemerintah Inggris nan imperialis itu terhadap Cina.

Kemenlu Indonesia hanya menyindir tapi ogah me-mention, “Batik adalah warisan leluhur yg erat dgn kehidupan kita,” sambil memamerkan foto ketika “membatikkan ruang sidang Dewan Keamanan PBB.”

Mungkin karena tak ada kalimat langsung yang mengindikasikan Cina sungguh-sungguh hendak mengeklaim batik yang sejak 2009 ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya nonbendawi kebanggaan Indonesia.

Andai Cina bersikukuh mengeklaim pun repot. Kitab Yiqie Jing Yin Yi yang dielu-elukan sebagai literatur historis terawal Cina yang menulis tentang ‘laran‘ di negerinya, malah menyatakan kesenian itu dikabarkan berasal dari “Xi guo” (negeri Barat)—yang kemungkinan besar merujuk pada Xinjiang tempat kebanyakan muslim Uighur tinggal.

Gara-gara penulusuran ini saya jadi bertanya-tanya, jangan-jangan di tiap-tiap negara memang punya kesenian “membatik” sendiri-sendiri? Keseniannya sama, penyebutannya berbeda. Di Cina disebut laran, di Indonesia disebut batik. Bahkan konon di India, Sri Langka, sampai negara-negara di Afrika pun punya tradisi “batik”-nya masing-masing.

Cuma, yang bikin runyam, kita emang suka ribut sesuatu ketika akan lenyap dari genggaman. Ketika udah mau diklaim orang lain aja, jadi mencak-mencak tak karuan peduli. Nggak Natuna, nggak batik diklaim Cina, nggak artis pindah Agama (eh?).

Kenapa saya bisa bilang begitu? Ya karena meski kita bangga dengan batik khas Indonesia, eh kita toh sebenarnya tak peduli-peduli amat, di balik kerahnya ada label “Made in China” juga.

Kalaupun bukan batik yang bikinan Cina… kainnya, benangnya, jarum jahitnya, penitinya, kawat untuk pengait jemurannya, paku-pakunya, pewarna buatannya, itu produk siapa yang punya?

Ya Cina laaah, masak iya Made in Madagaskar.

Dan apakah kita peduli? Nggak juga. Kita udah seneng pol mentok kok dengan pernyataan “batik adalah budaya asli Indonesia”. Udah cukup. Cukup banget itu buat kita. Produk budaya kita emang bikin bangga, tapi bangsa lain yang kaya raya dari sana.

Kampanyenya sih “cintailah ploduk-ploduk Indonesia”, tapi bahan bakunya tetep beli yang Made in Cina juga. Karena sebagai bangsa yang selalu ingin terlihat kaya, jadi kaya beneran itu buat apa?

BACA JUGA Yang Cina Ajarkan ke Dunia untuk Melawan Corona atau tulisan Novi Basuki lainnya.