MOJOK.COSudah direncanakan berangkat lebih awal agar tidak telat, tapi kok bisa ujung-ujungnya datang telat juga? Apa jangan-jangan kita kerasukan Jin dan harus dirukiyah dulu ya agar tidak telatan?

Pagi tadi saya menemukan sebuah artikel yang berjudul 10 kebiasaan orang indonesia yang harus ditinggalkan. Dalam artikel itu, disebutkan kalau salah satu kebiasaan buruknya adalah suka mager dan suka telatan. Saya langsung kepikiran diri sendiri sambil ngebatin kalau saat ini saya sedang ikut berkontribusi dalam melanggengkan kebiasaan buruk bangsa Indonesia itu.

Yhaa lihat aja, daripada siap-siap berangkat ke kantor, saya malah asik berselancar di internet, scroll-scroll timeline, membaca artikel tadi, menonton tiga video Pewdiepie, dan melakukan hal nggak berguna lain yang tiba-tiba menjadi sangat menyenangkan untuk dilakukan ketika seharusnya saya mandi karena 10 menit lagi harusnya sudah di kantor.

Kebiasaan layah-leyeh dan melakukan hal nggak berguna tadi membuat saya selalu terlambat datang ke kantor. Saya bilang selalu karena hampir terjadi di setiap waktu. Termasuk di kondisi ekstrem seperti ketika harus mengejar kereta–yang berakhir dengan ketinggalan kereta atau kalau tidak pasti melupakan sesuatu yang penting untuk dibawa karena packing yang selalu terburu-buru.

Saya kemudian mencari tahu kok bisa saya selalu terlambat padahal saya tidak pernah punya niatan untuk terlambat. Jangan-jangan benar lagi kalau perilaku ini adalah tanda ada jin yang masuk ke dalam diri saya seperti yang pernah saya baca di suatu portal berita islam. Apakah itu artinya saya harus dirukiyah? Dan karena ini salah satu kebiasaan umum orang Indonesia apakah artinya seluruh rakyat Indonesia juga harus dirukiyah???

Di tengah kesibukan saya yang harusnya menggarap laporan bulanan, saya malah sibuk (((menggali))) lebih dalam dan sangat berdeterminasi untuk menjawab pertanyaan ini, lalu sampailah saya di sebuah artikel yang membahas penelitian tentang orang yang suka terlambat sebenarnya orang yang penuh optimisme.

HAH?? Gimana, gimana?? Kok bisa-bisanya alasan seseorang punya kebiasaan buruk adalah karena mereka punya sifat yang baik?

Saya kemudian membaca lebih serius. Dalam artikel itu dijelaskan bahwa orang yang suka terlambat sebenarnya orang yang sangat penuh optimisme. Mereka percaya bahwa mereka bisa menyelesaikan banyak hal dalam waktu singkat dan lebih multitasking dibanding orang lain.

Setelah baca tulisan itu saya tiba-tiba malah jadi bangga ya sebagai orang yang suka telat? Wiss, menjadi orang yang penuh optimisme terdengar keren. Tapi di sisi lain saya juga ingin menyanggah perasaan bangga saya ini dengan makian, “Cuuuk, koen telat iku ngerugeni wong liyo, kok iso-iso ne bangga”.

Yhaa, manusia waras memang harus marah dengan orang yang tidak tepat waktu. Bukankah ketika seseorang tidak tepat waktu artinya dia tidak memikirkan bahwa waktu orang lain sama pentingnya dengan waktu yang dia miliki? Dan parahnya, di zaman sekarang, orang yang suka telat ini sering ngerasa kalo dosanya bisa langsung dimaafkan setelah ngechat atau ngasih tahu kalau dia bakal telat. Tuh kan nggak tahu diri! Ya harus dimarahin lah!!1!

Tapi, tapi sebagai orang yang suka nggak sengaja telatnya, saya kok ya nggak mau dirasani kayak gitu… Saya tidak pernah bermaksud untuk tidak menghargai waktu orang lain, saya juga sangat menyesal kenapa bisa-bisanya saya terlambat, dalam kondisi itu, saya lebih membenci diri saya sendiri dibandingkan orang yang berhak marah karena dibuat menunggu oleh saya.

Saya lalu menemukan sebuah tulisan yang memberikan saya pencerahan tentang masalah sering terlambat ini. Dalam artikel berjudul Why I’m Always Late, dibilang kalau ada dua jenis orang yang suka telat.

Orang yang nggak merasa bersalah ketika dia telat: Tipe jenis ini adalah orang yang terlalu percaya diri yang merasa lebih spesial dari orang lain, dan merasa sangat penting untuk ditunggu oleh orang lain. Tipe brengsek kaya gini nggak usah dibahas lah ya sudah jelas. Bukan cuman perlu dimarahi tapi perlu ditenggelamkan sekalian sama bu Susi.

Orang yang merasa bersalah ketika dia telat: Nah ini adalah tipe orang yang seperti saya (atau kamu juga mungkin?) Yang berusaha untuk tidak telat tapi tetap berakhir telat. Orang tipe ini ternyata disebutkan punya beberapa kelainan. Mari kita bahas satu-satu.

Kelainan pertama kenapa seseorang bisa selalu telat adalah dia sering meremehkan dan punya persepsi yang berbeda terhadap waktu. Alias sering mikir “Ah, ngerjain ini tuh cepet sekian menit juga bisa selesai”.

Pikiran, “ini tuch cepet, bisa dikerjain 5 menit doang koq.” adalah penyebab saya selalu terlambat melakukan packing–yang menyebabkan terlambat juga mengejar kereta ketika hendak pulkam.

Baca juga:  Yang Ajaib dari Kasus Novel Baswedan: Menunggu Ridho Tuhan sampai Dituduh Rekayasa

Nah, pikiran ini juga yang sering terjadi kepada orang-orang yang suka telat setiap janjian. Seringkali orang-orang yang suka telatan ini bikin rencana supaya nggak telat lho. Mulai dari mikirin harus mulai berangkat jam berapa, dan harus tiba di lokasi jam berapa.

Tapi praktiknya, seringkali kita mudah terdistraksi dan ‘tergoda’ untuk tiba-tiba melakukan sesuatu yang tidak mendesak untuk dikerjakan. Dengan pikiran bahwa “Ini sebentar doang koq dikerjainnya,” jebul malah nggak selesai dalam waktu sebentar.

Hal ini kemudian diperparah dengan ketika merencanakan berapa lama kita akan sampai ke tempat janjian, kita sering melupakan kejadian-kejadian tidak terduga seperti lupa simpan kunci motor di mana, lupa kalau jam-jam segini jalanan macet, dan lupa-lupa lainnya. Mampus kau makin telat dan makin dikoyak-koyak rasa malu dan perasaan bersalah!

Alasan lain yang sering menjadi penyebab seseorang bisa terlambat yang kedua adalah bingung memutuskan apakah jadi berangkat atau tidak. Dan baru yakin memutuskan untuk berangkat ketika sudah dekat-dekat waktu janjian. Yha kalo ini rasanya memang sudah jadi kebiasaan semua orang, nunggu adrenalin rush, baru deh punya motivasi.

Alasan terakhir yang sering menjadi penyebab kita telat adalah, udah otw mau berangkat, eh malah terdistraksi hal lain. Tiba-tiba lihat kamar berantakan malah pingin beres-beres dulu, tiba-tiba lihat ada uang receh berantakan malah dengan sangat niat ingin nyelotipin uang dulu. Atau udah mau otw eh lihat ada anak kucing di pinggir jalan, jadinya malah main-main dulu.

Jangan-jangan alasan nyelotipin uang receh atau main sama kucing itu juga yang jadi alasan kenapa para dewan suka terlambat kalau datang di sidang paripurna ya?