Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Inferiority Complex Orang Indonesia: Ramah ke Bule, Galak ke Ras Sendiri

Nia Lavinia oleh Nia Lavinia
18 Januari 2020
A A
inferiority complex poskolonialisme bule ras kaukasia ras mongoloid minder mojok.co

inferiority complex poskolonialisme bule ras kaukasia ras mongoloid minder mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kalau kamu mendadak minder dan takut ngomong pas ketemu orang kulit putih, tapi cenderung mengejek dan meremehkan kalau ketemu orang dari Afrika atau negara Asia tapi sama-sama dunia ketiga, fix kamu punya inferiority complex sisa-sisa era penjajahan. 

Waktu magang di sebuah NGO di Jakarta tahun 2017 lalu, saya sempat diberi tugas menemani tamu seorang aktivis perdamaian asal Filipina. Aktivis itu mampir ke kantor kami untuk mencari materi best practice dalam upaya kontraterorisme melalui pemberdayaan perempuan.

Iklan

Waktu itu, saya sempat bertanya-tanya, ngapain kok belajarnya ke Indonesia? Best practice-nya kontra terorisme itu kan Inggris dan Australia?

Pertanyaan saya baru terjawab ketika saya seminggu penuh menemani si aktivis mengunjungi jaringan NGO yang kerja di isu ini, bagaimana pendekatan lokal yang mereka lakukan berhasil membangun ketahanan di level masyarakat. Barulah saya sadar kalau orang Indonesia tuh ternyata keren juga.

Ke mana aja sih saya selama ini?

Sebagai mahasiswa HI yang setiap hari terpapar bacaan-bacaan berbahasa Inggris, saya selalu merasa bahwa Barat adalah kiblat peradaban. Mereka akan menyelamatkan dunia dari kehancuran melalui teknologi-teknologi yang mereka ciptakan. Indonesia mah apa atuh, masih jauh ketinggalan.

Pemikiran bahwa apa yang tercipta di Barat selalu lebih baik, dari apa yang kita miliki sekarang, di masa depan, atau bahkan selamanya ini ternyata namanya inferiority complex. Freud yang awal mencetuskan, tapi dikembangkan oleh Frantz Fanon untuk menunjukan bagaimana orang-orang dari negara berkembang melihat orang-orang dari negara maju.

Saya, dan saya pikir kebanyakan orang Indonesia juga, nyatanya masih punya mentalitas peninggalan jaman kolonial ini. Ya mau gimana lagi, durasi kita bersama mereka tuh lama banget! Ratusan tahun, bro, kita dijajah. Bayangin berapa banyak doktrin dan trauma yang berhasil mereka tinggalkan dalam pikiran kita bergenerasi-generasi.

Standar cantik contohnya, jangan salahkan Lucinta Luna kalau dia bilang perempuan cantik tuh harus putih. Toh tanpa kita sadari, kita juga punya bias yang sama dalam hal lain. Standar pendidikan dan kepintaran misalkan, kita kok ya nerima-nerima saja kalau ukuran orang pintar itu adalah orang yang sekolah di luar negeri.

Gara-gara inferiority complex ini, orang-orang Barat, di mata kita selalu terlihat sempurna. Mereka berpendidikan, independen, cantik/ganteng, dan nyaris tanpa celah. Bahkan hanya dengan melihat mereka terlibat dalam aksi sosial sedikit saja, kita melabeli mereka sebagai makhluk yang begitu humble dan langsung memuji-muji mereka. Pokoknya apa pun hal-hal yang baik, adalah apa yang “menyerupai” mereka.

Karena kita sudah kadung ngerasa inferior, kita jadi merasa harus mengikuti aturan main dan cara-cara mereka. Ini jelas membuat mereka merasa semakin superior dan punya “kewajian moral” untuk menyelamatkan orang-orang yang mereka anggap terbelakang: orang-orang selain mereka, atau yang “liyan”. Mereka membentuk institusi-institusi, norma-norma sesuai dengan standar mereka mengenai apa itu yang dianggap ideal. Dengan sendirinya, kita yang inferior ini menunjukan kepatuhan. Di sinilah Barat menghegemoni pikiran kita.

Padahal, kalau kita lepas pikiran-pikiran inferior ini, Indonesia tuh ya nggak surem-surem amat. Tanpa pengetahuan dari Barat, selama ini orang Indonesia punya caranya sendiri untuk bisa berjaya. Dulu kita nggak mengenal dokter dan ilmu kedokteran ala Barat, tapi kita punya tabib dan dukun beranak yang pengetahuannya memang tidak tertulis, tapi kan tetep pengetahuan.

Orang Barat mengenalkan konsep bekerja untuk menghasilkan uang dan memenuhi kebutuhan. Kerja dulu baru bisa makan, beli rumah, piknik, dan lain-lain. Tapi orang Indonesia, punya konsep srawung yang mana warga bergotong royong saling membantu. Tidak pernah ada orang kelaparan karena tidak punya pekerjaan.

Standar-standar yang dibikin Barat ini yang bikin kita merasa rendah. Karena saat cara hidup Barat menjadi barometer utama capaian kehidupan, maka yang lain mengalami proses “perliyanan” (subalterization).

Ini yang bikin orang Indonesia, hormat banget sama orang Barat. Memperlakukan mereka dengan ramah, memuji, dan memuja. Tapi eh tapi tidak melakukan hal yang sama kepada saudara, teman, atau tetangga. Suka julid lah, bacot lah, minjem uang tapi jadi lebih galak dari orang yang minjeminnya lah.

Dan yang jarang kita sadari, mentalitas ala kolonial ini sudah nempel juga di masyarakat. Selalu ada kelompok yang lebih merasa superior dari kelompok lain.

Orang kota selalu merasa lebih beradab dari orang desa, misal. Atau orang Jawa yang dianggap lebih baik dari orang luar Jawa. Lalu, yang merasa superior ini, melakukan kejahatan yang sama. Membuat standar-satandar moral, nilai, dan etika untuk menebalkan konstruksi “liyan” bagi orang di luar mereka. dengan cara itu lah, mereka mengatur dan mendisiplinkan orang-orang yang dianggap “liyan itu.

Hadeeh. Surem, ya? Ternyata jadi nggak ada ujungnya.

Iklan

BACA JUGA Catatan Mualaf Mudik ke Jerman atau esai NIA LAVINIA lainnya.

Terakhir diperbarui pada 18 Januari 2020 oleh

Tags: baratinferiority complexjajahanposkolonialtimur
Nia Lavinia

Nia Lavinia

Mahasiswa S2 Kajian Terorisme, Universitas Indonesia.

Artikel Terkait

Inferiority Complex dalam Dunia Doktor: Inferior Boleh, Kompleks Jangan

14 November 2021
Inferiority Complex atau Perasaan Minder Bagian dari Eksistensi Akademisi MOJOK.CO

Inferiority Complex atau Perasaan Minder Bagian dari Eksistensi Akademisi

3 November 2021
Klaim Konyol Kalung Anti-Corona dari Peneliti Gatal Publikasi dan Media yang Tak Peduli

Inferiority Complex dalam Dunia Riset Indonesia

24 Oktober 2021

Keutamaan Foto Bareng Bule di Tempat Piknik

23 April 2018
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026
InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata.MOJOK.CO

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata

18 Agustus 2026
GVD Resmi Rilis Single Perdana "VII", Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah.MOJOK.CO

GVD Resmi Rilis Single Perdana “VII”, Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah

23 Agustus 2026
Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

17 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Minus punya rumah di sekitar Jalan Tunjungan, Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Jujur Janggal, Saat Orang Lain Bilang Punya Rumah di Pusat Kota Surabaya Itu Menguntungkan

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026
Ambarukmo dan Cerita Panjang yang Tak Sekadar Soal Hotel

Ambarukmo dan Cerita Panjang yang Tak Sekadar Soal Hotel

28 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.