[MOJOK.CO] “DWP tampil bersyariah dengan konsep joget sambil ibadah.”

Masyarakat Jakarta ini bagaimana, sudah tahu kota tercinta mereka sedang dilanda bencana banjir kiriman Allah SWT, kok masih berani-beraninya ingin mengadakan acara penuh dosa bernama Djakarta Warehouse Project, apa mereka nggak takut laknat Allah?

Acara yang awalnya diadakan kecil-kecilan di diskotek sampai kini jadi destinasi musik populer di Asia Tenggara memang bermasalah. Sejak awal saya sudah ngga setuju, konser yang sering ngundang DJ sama penari seksi ini pasti nggak jauh-jauh dari kata maksiat.

Saat banyak ormas menolak diselenggarakannya DWP, saya langsung berada di garda paling depan untuk ikut mendukungnya. Saya malah kaget saat melihat masyarakat Jakarta malah nyinyir ke Bang Sandi. Sudah benar itu Bang Sandi bilang lebih baik maulidan dari pada umroh nggak pulang-pulang, maulidan ada manfaat dan faedahnya.

Namun sayang, karena ini acara tahunan, penyelenggaraan Djakarta Warehouse Project ngga bisa begitu saja dihentikan.  Daripada dihentikan, mengapa tidak mengikuti arahan Bang Sandi dan para ormas islam ini dengan membuat Djakarta Warehouse Project yang lebih santun, bersyariah, dan yang paling penting mengandung kearifan lokal.

Karena kebetulan saya pernah datang dan meliput kegiatan ajep-ajep tersebut pada 2015 silam, saya bisa menawarkan konsep baru DWP. Ini merupakan hasil akulturasi budaya antara pesta dan ibadah. Djakarta Walimatul Project – walimatul yang berarti resepsi dalam bahasa Arab – diharapkan mampu membawa DWP ke arah yang lebih elegan tapi nggak berlebihan, modern tapi ada tradisionalnya, dan tentu saja klean bisa tetap tampil maksimal, seperti nikahan-nikahan pada umumnya.

Ada dua permasalahan utama yang menyelimuti DWP, yakni aurat dan alkohol. Keduanya tentu dilarang oleh agama Islam. Perihal aurat, Bang Sandi memberikan saran untuk memakaikan para penampil dengan busana yang menjunjung adat ketimuran. Jika saya tangkap, maksud Nang Sandi soal busana ketimuran ialah busana seperti orang timur, misalnya orang India yang kelihatan pusarnya, orang Thailand yang kelihatan pundak dan pahanya, bukan sesuatu yang tertutup.

Tapi instruksi Bang Sandi ini masih ambigu, mau timur yang mana? Wajar karena Bang Sandi tidak pernah datang ke acara rave party, blio tidak tahu keadaan sebenarnya dari festival DWP. Melalui pandangan saya 2015 silam tentang DWP, saya bisa katakan DWP adalah festival paling sumuk, berantakan, ramai, bahkan dibandingkan festival paling metal sekalipun.

Semua orang berjoget sambil asik dengan dunianya sendiri, tidak ada satupun yang berdiam diri, asik Yoga apalagi bermain catur, sama sekali tidak ada. Setelah lelah berjoget, mereka biasanya lanjut duduk-duduk membentuk lingkaran. Akibat hal tersebut, berjalan pun saya harus berhati-hati untuk tidak menginjak tangan atau kaki seseorang. Lebih anehnya lagi, saya tidak jarang menemukan orang-orang yang tidur sembarangan di lokasi, apa mungkin dia terlalu lelah berjoget hingga ketiduran? Wallahualam bi’shawab.

Lewat pantauan sederhana, saya simpulkan jika pemakaian celana gemes dan pakaian you can see tentu menjadi pilihan taktis guna menyiasati lokasi festival yang memang panas. Apalagi untuk para turis mancanegara, cuaca malam Kemayoran sudah panas, ditambah suasananya pun sumpek, bugil pun pasti mereka jabani.

Untuk itu, saya menyarankan Bang Sandi memindahkan DWP ke tempat yang lebih dingin, misal di Bromo atau di Dago, etapi kalau pindah lokasi, namanya juga ikut berubah dong. Lalu saran kedua saya adalah membuat festival DWP on ice, acara dengan tema seperti itu kan sedang jamak ada di Jakarta, kenapa DWP tidak mengikutinya, saya yakin semua pengunjung DWP nantinya tidak ada yang memakai pakaian terbuka. Semuanya menutup diri dengan mantel dan berusaha saling menghangatkan, festival tentu jadi lebih guyub dan romantis.

Permasalahan kedua adalah alkohol. Semua pengunjung DWP tentu tahu jika sebagai besar sponsor DWP adalah perusahaan liquor (baca: miras). Di lokasi pun tersebar bar-bar semi permanen – tentu dengan kualitas lebih baik dari rumah semi permanen di bantaran kali Cisadane. Segala jenis miras mulai dari bir, jamu, sampai aspal ada. 

Di bar-bar semi permanen yang memutari venue tersebut, para pengunjung bisa melakukan open table (membuka meja) dan mimik-mimik lucuk bersama teman-teman. Para VIP Access pun lebih asyik, mereka disediakan bar semi permanen khusus yang memiliki akses langsung ke panggung utama, tentu saja dengan dibatasi barikade untuk memisahkan VIP dan orang biasa. Hih, segregasi kelas terjadi, bahkan Marx pun akan merasa jijik ketika mendengar kata DWP.

Ikatan antara perusahaan mirasantika dan musik rave memang erat. Maka untuk benar-benar membebaskan DWP dari minuman-minuman haram, genre musik DWP harus diganti.

Saya menawarkan musik-musik yang lebih santun tentu juga mengandung kearifan lokal, misal seperti musik nasyid, qasidah, atau seni-seni rakyat seperti keroncong campursari. Sebagai pemandu, saya usul kita menghadirkan Hansip Sukra, ya, dengan keberadaannya ya, DWP pasti Gemah Ripah Repeh Rapih Ya, sampai suntuk malam ya. Wah Bang Sandi pasti suka.

Acara sebaiknya dimulai ba’da Maghrib, para alumni 212 DWP bisa menggelar shalat berjamaah terlebih dahulu. Setelah itu malam dibuka dengan musik yang sedikit menghentak seperti keroncong, ingat, sedikit saja. Allah SWT sejatinya tidak suka segala hal yang berlebih-lebihan. Setelah keroncong, grup-grup nasyid lokal seperti Nasida Ria bisa naik panggung bersama Raihan, grup nasyid asal Malaysia untuk memberi siraman rohani menggunakan media suara. Sekali dayung dua pulau terlampaui, selain mendapatkan pencerahan, tentu para pengunjung juga pasti akan terhibur.

Kita bisa ngundang DJ Khaleed, Zayn Malik, dan Hadad Alwi. Nama-namanya udah arab semua, insya Allah barokah. Bayangkan, saat Hadad Alwi masuk, musik menggema pelan, lampu meredup, lampu menyorotnya kemudian sembari mengepalkan tangan ia mengajak pengunjung ikutan. “Take your hands up in the air and salawatan,” katanya yang disambut aksi tangis haru peserta DWP.

BACA JUGA:  Alit Jabang Bayi: Bapakku Pernah Diminta Ngelawak di Pemakaman

Lewat  kehadiran musik-musik tersebut, saya haqul yaqin bar-bar semi permanen yang dahulu menjual minuman haram akan disulap menjadi resto-resto semi permanen yang menjual nasi kebuli, kebab, roti canai, nasi briyani, dan kafe shisha untuk para pengunjung. Jangan takut, pengunjung yang ingin berkuda, memanah, dan berenang juga tempatnya akan disediakan oleh panitia.

Tempat favorit bang Sandi tentu saya tidak lupa; sport club semi permanen berisi alat-alat treadmill agar bang Sandi bisa tetap bugar, berlari sambil mendengarkan langsung alunan lagu Insha Allah yang indah dari Maher Zain, penampil utama dalam gelaran Djakarta Walimatul Project malam itu.

 

Komentar
Add Friend
No more articles