Pulang kampung, bagi saya, adalah sebuah jeda. Dari apa pun. Dan karena satu-satunya hal yang betul-betul saya kerjakan hanya menulis, pulang biasanya memberi saya jeda dari dan berkait dengan kepenulisan.

Dalam keadaan buntu, bundet, macet, disorientasi, pulang adalah upaya kecil dan sering kali efektif untuk mengebor kebuntuan, mengurai simpul yang mati, meninjau kembali kelokan-kelokan tak perlu, menata ulang tujuan, mengisi kembali logistik yang menipis, atau hal-hal semacam itu. Saya tak bisa menghitung berapa banyak ide tulisan baru saya dapat, ide cerita segar saya tangguk, paragraf yang bertahun-tahun macet saya jebol, alur yang ruwet saya sederhanakan, tokoh menentukan saya temukan, ketika saya pulang. Dan semua itu tentu saja punya dampak besar bagi kepenulisan saya sejauh ini.

Tapi itu hanya satu sisi. Di sisi lain, ketika saya sedang mengalami musim semi menulis, sedang lancar-lancarnya membuat kalimat, ada di tubir menyelesaikan sesuatu (entah buku atau novel baru), sedang betul-betul nyaman bekerja, pulang adalah jeda yang memutus siklus. Ia seperti segayung air yang disiramkan ke tungku yang sedang menyala: tak hanya membuat bara yang sedang panas-panasnya segera menjadi arang dingin, ia juga menggagalkan air yang sedang menuju masak di atasnya. Ia adalah penumpang yang tiba-tiba nongol mengacungkan jempol ketika kendaraan sedang melaju kencang; ia mengganggu ritme perjalanan, bahkan berisiko membuat mesin mati; dalam beberapa kasus, mesin itu mati untuk seterusnya, dan saya tinggal begitu saja sebagai rongsokan menyedihkan.

Saya tak mempercayai takhayul menulis seperti Isabel Allende, yang selalu memulai novel barunya pada 8 Januari. Saya juga melihat siklus kerja harian yang konstan dan mekanik dari Murakami sebagai sesuatu yang konyol. Walau demikian, saya sangat menyukai menulis dengan ritme tertentu. Saya selalu mencari pola yang cocok dan, setelah sekian waktu bersusah payah mencoba dan gagal, akhirnya menetapkannya satu pola tertentu untuk saya pakai pada masing-masing jenis tulisan yang saya kerjakan, entah itu novel baru, buku/tulisan pesanan, kolom, atau tulisan yang lebih personal. Bentuknya bisa macam-macam. Bisa jadi tempat di mana saya bekerja, jam berapa saya akan menulis, musik apa yang mesti saya dengar, minuman apa yang saya hirup (teh atau kopi), bahkan font apa yang saya pakai, termasuk di dalamnya berapa ukuran font-nya dan bentuk format halamannya di layar laptop (apakah normal view atau print layout view). Namun, secara kontradiktif, saya juga membenci kerutinan; hati dan kepala saya biasanya akan mulai menjadi ogah-ogahan ketika pola itu sudah terlalu mengikat, memaksa saya benar-benar patuh, dan ia telah berlangsung terlalu lama. Dan itu bisa membuat sebagian diri saya, kadang secara terang-terangan, bersekongkol dengan hal-hal yang bisa merusak pola yang dengan susah payah saya bangun dan dalam rentang waktu tertentu bekerja dengan baik itu. Yang paling sederhana adalah meninggalkan pekerjaan untuk hal-hal tak penting, semisal nongkrong dengan teman atau menonton sepakbola yang menguras emosi. Namun, yang biasanya punya dampak agak mencolok adalah memutuskan pulang kampung di waktu yang tak seharusnya.

Saya sudah berulang kali mengalaminya. Kadang saya percaya bisa mengatasinya, dan saya memang sesekali bisa mengatasinya. Namun, saya sering lupa kenapa saya mengalami hal semacam itu secara berulang-ulang; tentu saja karena saya sebenarnya tak pernah benar-benar bisa mengatasinya.

Sisi positifnya, setidaknya saya mencoba mengatasinya. Sebagian dengan cara yang paling gampangan: karena saya sering mengeluhkan bahwa di rumah membuat saya jauh dengan buku-buku saya di Jogja, maka saya membawa sebagian buku itu pulang; saya juga merasa perlu menyusun ruangan yang setidaknya mendekati apa yang saya punya di Jogja, meski dengan ukuran yang lebih sempit, meja yang jauh lebih mungil, kursi yang lebih keras, dan “suasana yang jauh berbeda dengan Jogja”.

Saya mengingat bahwa itu cukup menolong. Saya pernah menghasilkan kolom-kolom Piala Dunia dari ruang dan meja tersebut; pada satu bulan Puasa yang lumayan produktif, saya juga pernah mencicil penerjemahan Galeano di tempat yang sama. Kadang kala, keberhasilan-keberhasilan kecil inilah yang saya besar-besarkan untuk diri saya, dan oleh karena itu saya merasa yakin bahwa saya bisa mengulangnya. Tentu saja saya salah—atau setidaknya sering salah.

Kenapa saya pakai kata “pernah”? Karena sebenarnya ia jarang berhasil. Atau, agar saya lebih waspada, seharusnya lebih memilih frasa “cenderung gagal”. Dan itulah yang terjadi dengan saya kali ini. Alih-alih memindahkan pekerjaan ke kampung, saya justru kehilangan jalan kembali ke pola sebelumnya yang telah saya jalani dengan setia.

***

Pada suatu ketika, sepulang libur Lebaran yang pendek, mekanis, dan jauh dari menyenangkan, saya balik ke tempat kerja dan menjadi sama sekali tak tertarik untuk menyentuh keyboard komputer saya. Itu terjadi dalam rentang waktu yang lebih panjang dibanding puasa Ramadan. Yang lebih buruk lagi, saya merasa itu alamiah semata, terjadi pada siapa pun yang menulis—“Karena saya manusia, bukan mesin,” demikian alibi saya pada diri sendiri waktu itu. Karena saya bekerja di sebuah perusahaan penerbitan buku sekolah, orang upahan di sebuah unit usaha yang ingin mengambil manfaat sebesar-besarnya dari buruh yang dipekerjakannya, tentu saja saya pada akhirnya ditegur atasan. Saya tak hanya telah melanggar tenggat, tapi juga sangat mungkin menebar energi buruk di seluruh ruangan, yang dipenuhi oleh puluhan penulis-editor, karena berpekan-pekan hanya sibuk manggut-manggut menyimak secara berulang-ulang lirik lagu-lagu Muse tentang teori-teori konspirasi Emperium Baru ala Chomsky.

Tahu apa penjelasan saya ketika diminta menghadap dan ditanya apa masalah saya? “Daripada menulis jelek, saya mending tidak menulis, Pak,” kata saya waktu itu.

Saya mengatakan itu dengan wajah memelas, bibir mengulum senyum penuh penyesalan, bahu turun, menandakan bahwa saya tak bisa apa-apa, tak berdaya setelah berkali-kali mencoba. Tapi, bagi seseorang yang mesti mempertanggungjawabkan kinerja dan tingkah laku bawahannya kepada pemilik perusahaan, sangat mudah membayangkan apa yang dipikirkannya tentang saya, seorang karyawan baru sombong, sok pintar, berlagak seniman, dan sedang menunjukkan pembangkangan kecilnya dengan cara paling dangkal dan kuno: memanjangkan rambut dan bermalas-malasan.

Tapi bahkan saya tidak berhenti sampai di situ. Saya menambahkan janji yang lebih dekat dengan sesumbar: “Kalau saya sudah dapat feel-nya, saya menjamin saya bisa bekerja dengan cepat, menebus semua keterlambatan saya.”

Buruknya, saya bisa membuktikan apa yang saya katakan dengan sombongnya itu. Ketika saya benar-benar mulai bisa menulis kembali, saya melahap semua pekerjaan yang diberikan ke saya, bahkan yang terasa sebagai semacam tes yang mungkin diharapkan tak bisa saya selesaikan. Misalnya, saya pernah menyelesaikan menulis satu buku PPKn satu tahun ajaran dalam tiga hari saja. Mungkin karena itu, meski harus menunggu bertahun-tahun untuk naik gaji, setidaknya saya tak pernah menerima pemecatan.

Saya kadang berpikir keangkuhan-keangkuhan macam itu saya serap dari tradisi penulis dan kepenulisan Jogja yang nggaya. Mungkin benar untuk sebagiannya, tapi sebagiannya lagi sepertinya memang bawaan lahir saya sendiri.

Belum lama ini, misalnya, saya membongkar-bongkar buku-buku lama saya di kampung dan menemukan dua buku harian saya—saya tak terkejut dengan buku harian masa awal-awal kuliah, tapi saya sama sekali lupa ternyata juga menulis buku harian di masa SMA. Buku harian itu menggambarkan dengan jelas bagaimana pola saya kelak ketika menulis: deras di satu waktu, kosong melompong di waktu lain, dan keduanya sama-sama melepas bagian-bagian akhir dari masa yang seharusnya dicatat. Di antara banyak waktu yang berlobang di buku harian tersebut, libur semester atau pulang kampung tampaknya selalu menjadi jeda panjang. Secara agak konsisten, berulang-ulang, saya menemukan kalimat dengan bunyi semacam ini: “Sejak liburan semester yang lalu, lama sekali aku tak menulis apa-apa di buku ini.”

“Pola” ini, yang selalu menjadi kendala kepenulisan saya tapi juga terus-menerus saya lakukan, coba ingin saya lawan—sebagaimana upaya-upaya yang pernah saya lakukan sebelumnya. Membayangkan pulang selama sepekan sampai sepuluh hari, saya bersiap menuntaskan sentuhan akhir novel yang sedang saya kerjakan, bahkan membayangkan bisa menabungkan barang dua hingga tiga tulisan untuk kolom ini. Asyik, kan? Tapi, begitulah. Selama nyaris sepekan, laptop saya bahkan tak sempat keluar dari tas. Apakah hal lain menyibukkan saya sehingga menghalangi saya bekerja? Tidak. Tak ada hal lain yang cukup untuk menjadi alasan. Dan, pada akhirnya, apa yang pernah terjadi kembali terjadi. Bukan saja saya abai dengan kegagalan demi kegagalan yang berulang; saya juga melupakan kecenderungan separoh diri saya, yang selalu dengan sukacita merayakan setiap jeda, bahkan di waktu yang tak seharusnya.

Jadinya, finishing touch itu terlewat begitu saja. Dan saya bahkan mesti berjuang di detik-detik terakhir untuk membuat tulisan alakadar untuk kolom ini. (Dan itulah “proses sangat tidak kreatif” dari tulisan yang sedang Anda baca ini.)

***

Para penulis, termasuk di dalamnya saya, terutama saat di depan para calon penulis yang terkagum-kagum dengan kita, kadang terlalu bersemangat menyebut mood sebagai sesuatu yang haram bagi penulis, harus dilawan, buruk dan tak profesional, bukan bagian dari etos yang budiman, dan masih banyak lagi atribut buruk. Ia berbatas sangat tipis dengan kemalasan, dan kadang seorang penulis pecundang dengan ceroboh mempertukarkan keduanya. Tapi, bahkan jika semua itu benar, bukan berarti mood tidak eksis. Ia mungkin memang hadir untuk dilawan setiap orang kreatif, sebagaimana dosa yang mesti dihalau oleh orang-orang yang beriman. Tapi, seperti orang beriman yang tak bisa sepenuhnya terbebas dari dosa, orang kreatif, khususnya penulis, juga tak selamanya bisa menjaga kesetimbangan ayunan mood-nya.

Tahu kenapa Affandi biasa melukis dengan sangat cepat? Karena ia mengandalkan mood. Ia ingin cepat-cepat memindahkan objek yang ditangkapnya ke kanvas. Ia melukis dengan seluruh emosinya. Menurut kesaksian Nasjah Djamin, Affandi rata-rata menyelesaikan lukisannya dalam dua jam. “Sehabis dua jam, emosinya habis. Habisnya emosi Affandi berarti lukisan itu selesai.” Karena ketergantungannya dengan mood ini, Affandi bahkan tak menghadiri pemakaman sahabatnya, penyair Chairil Anwar, dan memilih pulang, menggambar sang penyair. “Saya takut besok lusa saya tak menemukan lagi ke-Chairil-annya Chairil,” katanya.

Jadi, sekali lagi, mood itu eksis. Ia bukan mitos. Ia ada, dan beberapa orang betul-betul memerlukannya untuk mencipta. Ia, membentuk sejenis pola bagi orang-orang tertentu. Masalahnya, saya baru saja bicara tentang Affandi, salah satu (jika bukan yang nomor satu) seniman terbesar yang dilahirkan Indonesia.

Lagi pula, seberapa akurat kita melihat apa yang mendorong atau mencegah kita untuk menulis ini sebagai sebenar-benarnya mood? Jika dalam gambaran di atas Affandi jelas menjadikan mood sebagai alasan untuk melakukan sesuatu, seluruh tulisan ini menggambarkan bahwa saya memakai mood untuk alasan agar tak melakukan apa-apa.

Jika tadi saya bilang orang biasa salah menengarai dan mempertukarkan kemalasan sebagai mood, saya malah sering dengan sengaja mempertukarkannya. Sesekali saya pakai untuk membohongi orang lain, seperti yang saya pernah lakukan di tempat saya pernah bekerja; sisanya adalah rangkaian pembohongan terhadap diri sendiri—pembohongan yang panjang dan berulang-ulang.

Dan itu jelas sekali terlihat polanya.

BACA JUGA Dari Popeye sampai Ade Armando dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.

Baca juga:  Kolom: Festival