Hanya berhitung pekan setelah kerusuhan Mei ‘98 di Jakarta, dan dampak rembetnya di banyak daerah, termasuk di kecamatan saya (ketika massa yang marah menjarah kantor dan gudang KUD Minatani Brondong dan rumah ketuanya yang kaya raya), saya berangkat ke Jogja. Kami naik bus kecil Puspa Indah dari depan Pasar Babat pagi-pagi sekali, turun Jombang jelang siang, ganti naik Sumber Kencono, dan tiba di Jogja selewat Magrib. Itu perjalanan yang secara umum menyenangkan karena kami beramai-ramai, tak kurang dari delapan orang. Tapi juga mendebarkan, sebab itulah untuk pertama kalinya kami menuju Jogja bukan untuk tujuan berdarmawisata. Dan, bagi saya pribadi, keberangkatan ini juga tak bisa sekadar dikata sebagai “ingin kuliah di Jogja”. Itu kalimat yang terlalu lugas, juga terlalu mewah.

Saya ingin kuliah di Jogja, ya, itu gambaran umumnya. Saya ingin diterima di UGM, lebih spesifiknya boleh dibilang demikian. Tetapi selebihnya tak ada yang bisa dikatakan. Terlalu banyak pertanyaan yang belum bisa dipecahkan, baik di sepanjang perjalanan bus Babat-Jogja, maupun selama tiga pekan tinggal di Jogja sembari menunggu tes Ujian Masuk tiba. Hingga sehari sebelum waktu ujian, saya belum bisa menentukan jurusan yang ingin saya tuju dan tembus. Dan jika saya nanti gagal tes lantas mau apa, juga sama sekali belum terpikirkan. Jangankan rencana B dan C dan D, bahkan rencana A pun jauh dari memadai untuk disebut “rencana”. Tapi ada yang lebih buruk dari itu: bukan saja saya tak yakin bisa masuk, saya bahkan tak cukup yakin jika pun nanti masuk.

Di luar itu, Jogja, dalam segala aspeknya, bukan saja sesuatu yang benar-benar baru, tapi juga mewakili semua hal yang berada di luar bayangan. Ia seperti hutan belantara bagi seorang remaja yang selama tujuh belas tahun usianya hanya memelototi satu pohon. Sekelumit hal berkait Jogja yang saya bawa dari masa SMA tak saja terlalu kecil, tapi sama sekali tidak relevan. Jogja bagi saya, sebagaimana semua kota besar bagi bocah udik, tak terjelaskan sekaligus mengancam.

Banyak anak kampung yang berangkat ke kota besar dengan tujuan mulia: untuk meraih cita-citanya. Saya anak kampung, tapi saya pasti bukan salah satu dari mereka, sebab saya bahkan tak punya cita-cita. Saya ingin sekolah tinggi dan menjadi pintar—siapa tidak? Tapi bahkan saya tak tahu harus kuliah apa, setidaknya sampai akhirnya saya benar-benar mendapatkannya. Teman-teman seangkatan saya, atau mereka yang lebih muda, atau bahkan yang jauh lebih tua, sering bercerita (sebagian dengan penuh glorifikasi, sebagian lagi dengan melankoli) bahwa Jogja adalah tempat yang mereka bayangkan akan memberikan apa yang tak mereka dapatkan di kampung kelahiran atau kota asal: bertemu orang-orang pintar, belajar di kampus-kampus hebat, membaca buku-buku, mengenal para seniman, dan mungkin masih banyak lagi. Terlalu banyak hal yang tak saya dapatkan di masa kecil hingga remaja saya, dan saya tak tahu mana yang akan memperoleh tebusannya di Jogja, dan karena itu saya tak tahu memulainya dari mana.

Bahkan ketika kemudian saya benar-benar diterima di UGM (satu-satunya dari delapan orang yang berangkat bersama itu), saya tak dengan segera tahu apa yang ingin saya cari dan capai di Jogja. Seorang teman sejurusan dari Surabaya dengan yakin datang ke Jogja ingin menjadi penyair, dan untuk itu ia mendaftar di unit pers mahasiswa agar segera bisa menerbitkan puisi-puisinya; seorang teman sekelas di SMA ingin menjadi pemred Republika, ia pun mendaftar di pers mahasiswa dan tiga bulan kemudian ia menerbitkan tulisannya di koran umum; saya, sementara itu, ingin secepat mungkin mendapatkan kos gratis, dan seorang tetangga yang kuliah di UMY bisa meyakinkan pengurus sebuah masjid di tepi Kali Code untuk menampung saya. Masalah saya pun selesai—setidaknya untuk sementara. 

Betapa tak jelasnya apa yang ingin saya tuju dan dapat di Jogja tergambar dari apa yang saya bawa pulang ketika untuk pertama kalinya saya balik dari Jogja. Ketika mahasiswa lain pulang dengan jaket almamater dan buku puisi Rendra atau buku Nietzsche atau fotokopian Das Kapital, saya pulang dengan jaket almamater dan dua kaset dari grup nasyid Malaysia, Nada Murni. Saya membelinya di toko kaset Popeye Jln. Mataram, sehari sebelum pulang liburan. Dan itu adalah sekali-kalinya saya masuk toko kaset sepanjang hidup saya.

Tak tahu kaset itu di mana sekarang, tapi saya masih hapal beberapa lagu dari album yang penuh nyanyian jihad dan perayaan kematian itu. Saya ingin mengutip sebait lirik dari lagu “Di Pondok Kecil” yang mengharukan tersebut (setidaknya saat itu), tapi saya khawatir pembaca kolom ini akan berprasangka bahwa di akhir usia belasan saya pernah punya rencana untuk meledakkan pos polisi terdekat.

Berbulan-bulan setelah membeli kaset itu, baru saya membeli buku pertama saya dan mulai belajar menulis.

***

Hal paling jelas tentang Jogja yang saya simpan di kepala sebelum saya tiba adalah apa yang pernah disampaikan oleh (Alm.) Kyai Muchlis Sulaiman, pengasuh pesantren tempat saya mondok. Dalam salah satu kesempatan, beliau berpesan kepada siapa pun santrinya yang kelak kuliah di Jogja, untuk datang ke apa yang disebutnya sebagai “dua perpustakaan terbaik di Jogja yang tempatnya berdekatan”, yaitu Perpustakaan Ahmadiyah dan perpustakaan di kompleks Gereja St. Ignatius, keduanya ada di Kotabaru.

Sebagai santrinya, pesan itu membanggakan di satu sisi, namun menimbulkan rasa bersalah di sisi lain. Sebagai tokoh partai Islam yang sangat vokal dan disegani di kawasan pada puncak kekuasaan Orde Baru, ulama modernis yang teguh, pernah ngenger pada pahlawan nasional K.H. Abdul Kahar Muzakir, beliau tak hanya menunjukkan penghormatannya yang tinggi kepada pengetahuan, tapi juga menggambarkan sikap keterbukaan yang blak-blakan. Sayangnya, dengan berbagai alasan (sebagian besarnya dicari-cari), sampai hari ini saya tak pernah mengunjungi dua tempat itu—meskipun saya bisa berkilah bahwa itu bukan amanat yang bersifat personal.

Di awal-awal kuliah, saya tak punya alasan untuk mengunjungi dua perpustakaan itu: untuk keperluan kuliah (yang gampang itu) dan memulai belajar menulis, Perpustakaan Fak. Sastra lebih dari cukup; jika pun ada buku di Perpus Fakultas tak ketemu, saya punya beberapa teman yang bukunya menggunung. Di akhir masa kuliah, terutama saat mengerjakan skripsi, saya tak berani ke banyak perpustakaan terutama karena saya takut menemukan buku yang wajib saya baca padahal saya tak bisa membacanya (biasanya karena kendala bahasa). Ketika sudah lulus, bekerja, dan memulai masa-masa keranjingan membeli buku, saya segera mendapati bahwa betapa banyak buku di rak sendiri yang tak terbaca, dan saya pun semakin tak punya alasan untuk ke perpustakaan—mana pun.

Boleh jadi, saya memang tak segemar membaca yang selama ini saya bayangkan. Dan dugaan itu menjadi jauh lebih gampang disimpulkan jika ukurannya adalah frekuensi kunjungan dan keterikatan dengan perpustakaan.

Di saat saya menemukan banyak teman yang gandrung filsafat punya puluhan buku “berat” berbahasa Inggris hasil fotokopian bercap Perpustakaan Kolsani St. Ignatius, sementara teman lain bahkan mandi-cuci-tidur di Perpustakaan American Corner UPT I UGM untuk merintis jalannya menjadi sastrawan, saya tak memiliki kisah istimewa dengan perpustakaan yang layak saya banggakan. Dibanding buku-buku yang saya pinjam atau yang saya curi (rasanya tak pernah), Perpus Sastra saat itu lebih saya ingat karena wajah-wajah cemberut petugasnya; Perpus Pusat UGM luas dan banyak buku, tapi itu membuat saya malah bingung pinjam buku yang mana, dan jika ke sana untuk tujuan membaca, saya justru lebih sering tertidur karena luas ruangnya dan silir anginnya. Perpustakaan Fisipol Sekip, tempat yang saya kunjungi nyaris setiap hari selama tak kurang dari tiga bulan awal mengerjakan skripsi (guna mengumpulkan kutipan dari buku-buku yang tak bisa dipinjam mahasiswa fakultas lain), mesti saya kenang dengan pahit karena hasil catatan selama berbulan-bulan itu lenyap bersama tas saya yang diangkut pemulung di sebuah rumah di Perum Dosen Bulaksumur tempat saya biasa tidur dan numpang mengerjakan skripsi. Sementara Perpustakaan Umar Kayam yang kecil dan sunyi, yang terletak di salah satu ruangan Pusat Studi Kebudayaan UGM, saya kunjungi hampir di sepanjang bulan-bulan terakhir menjadi mahasiswa bukan karena buku-bukunya yang unik, melainkan karena perpustakaan itu nyaris hanya saya yang mengunjungi, sehingga begitu sepi, dan oleh karena itu saya bisa menulis dengan tenang di situ.

Dan di sini saya bahkan belum sempat menyebut perpustakaan-perpustakaan unik dan penting lain, semisal Perpustakaan Seminari Kentungan, Perpustakaan Hatta (di seberang Kampus UIN Suka yang kini telah hilang), dan Perpustakaan Karta Pustaka (saat itu di Jl. Suroto), dan pasti masih ada yang belum saya sebut.

Sampai saya lulus, jika dijumlah total, bisa saya katakan, buku yang saya pinjam dan baca dari perpustakaan mana pun di Jogja kalah banyak dan bisa jadi kalah penting dibanding buku-buku yang saya pinjam dan baca dari buku koleksi teman-teman saya sendiri. Tentu itu tak sepenuhnya terlihat buruk. Setidaknya, saya pasti lebih baik dibanding para mahasiswa yang kuliah di Jogja dan sama sekali tak tertarik membaca—dan itu tak sedikit jumlahnya. Tapi, jelas sudah, saya bukan hanya melewatkan pesan guru saya; saya juga melewatkan apa yang boleh jadi paling khas dari Jogja, yang akan sulit dicarikan padanannya di kota lain di Indonesia: perpustakaan-perpustakaannya.

***

Di Perpus Sastra saya menemukan Pater Pancali, buku yang mengubah saya—baik sebagai pribadi maupun sebagai pengarang. Di sana juga untuk pertama kalinya saya berjumpa Pram—bukan Tetralogi Buru tentu saja, karena saat itu masih haram masuk sana, melainkan Di Tepi Kali Bekasi, yang sejujurnya sama sekali tak lagi berbekas. Saya tak ingin mengecilkan hal itu, tapi, sejujurnya, saya sulit untuk terlalu membesar-besarkannya.

Beban kuliah Sastra saya tak pernah terlalu memberatkan. Dan karena saya tak cukup punya uang saku untuk nongkrong berlama-lama di kantin, sebagian jam di kampus sebenarnya saya habiskan di perpus. Namun, jangan berbaik sangka dulu. Sebagaimana dulu saya memperlakukan perpustakaan SMA sebagai tempat nonton siaran langsung NBA dan Copa Amerika (karena disediakan pesawat TV di sana), saya banyak menghabiskan waktu di Perpus Sastra untuk hal-hal yang lebih berurusan dengan penghiburan dibanding pemikiran.

Tentu saja, di sana adalah tempat paling enak untuk menyelinap sebentar setelah meminjam fotokopian bahan ujian dari teman, membacanya tergesa, dan dengan cara itulah sebagian besar ujian mata kuliah saya lewati, dan itu biasanya mencukupi untuk mendapatkan minimal nilai B. Di sana juga, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan calon sarjana sastra, saya membaca skripsi-skripsi lama, mempelajari polanya, kalau perlu menirunya sepersisnya, lalu memakainya untuk skripsi punya kita. Tapi percayalah, itu menghabiskan sebagian kecil waktu saja.

Untuk sebagian besarnya, saya nongkrong di sana untuk antre baca tabloid Bola dan koran-koran lainnya. Karena tak selalu bisa menonton siaran langsung, dari tabloid Bola-lah saya mengikuti dengan deg-degan perjalanan AC Milan menjuarai Serie A di musim 1998/99. Dan melebihi novel-novel pop penuh air mata yang saya pinjam di sana (dari Mira W., Marga T., La Rose, Ike Supomo), di Perpus Sastra-lah saya berlinang air mata membaca surat terbuka Gabriel Batistuta kepada pendukung La Viola, saat ia pergi dari Fiorentina ke AS Roma pada awal musim 2000/01. Saya juga lumayan mengikuti berita artis di masa itu, karena di tempat yang sama tersedia tabloid Nova dan Wanita Indonesia.

Kalau mau sedikit dipaksakan, tentu saja hal itu bisa diambil sisi seriusnya. Meskipun keranjingan baca berita sepakbola sejak kanak-kanak, jangan-jangan di tahun-tahun inilah, tanpa saya sadari, seorang penulis sepakbola diam-diam tumbuh dalam diri saya. Sementara tabloid-tabloid gosip itu, tanpa benar-benar saya akui sumbangsihnya, menginduksi gaya bergunjing yang kerap saya pakai dalam novel-novel saya. Di sisi lain, pada masa inilah, bisa jadi saya adalah salah satu dari sedikit orang, yang bisa bersaksi tentang betapa seriusnya seorang pakar Ilmu Komunikasi bernama Ade Armando, dua puluh tahun lalu.

Penggemar kolom politik mungkin tak akan sulit mengingat nama Ade di kolom “Resonansi” di halaman belakang Republika, yang bersama nama seperti Amien Rais, Syafii Maarif, atau Zaim Uchrowi meletakkan platform politik dan ideologi koran ICMI ini; saya, sebaliknya, mengidentikkan Ade, bersama istrinya, Nina Armando (yang saat itu menyebut diri mereka Yayasan Media Ramah Keluarga [MARKA]), dengan ulasan televisi mereka. Saya lupa apa nama kolom ini, dan muncul pada tiap hari apa, tapi saya ingat betul ulasan-ulasan mereka dan, terutama rekomendasi-rekomendasi tontonan mereka. Saya kira, karya-karya awal Deddy Mizwar di televisi, seperti Hikayat Pengembara dan Lorong Waktu, saya dapatkan dari kolom ini.

Sekali lagi, ini jelas tak sepenuhnya buruk. Tapi, hendak bercerita tentang perpustakaan, dan yang muncul tak lebih dari kisah sedih Gabriel Batistuta dan kenangan tentang kolom Ade Armando tentang sinetron Deddy Mizwar, adalah hal yang… sangat tidak Jogja.

BACA JUGA Iri dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.

Baca juga:  Long Distance Marriage di Masa Pandemi Bukan LDR dan Sekadar Menahan Sange