MOJOK.COSeperti halnya pacaran, proses taaruf sering disalahpami. Keduanya sering diukur pada sukses atau tidaknya lanjut ke pelaminan. Padahal kan nggak gitu.

Saya pertama kali mengenal konsep taaruf saat duduk di bangku SMP. Saat itu, saya lagi rajin-rajinnya membaca fiksi Islam. Saya langganan Annida dan punya banyak sekali novel islami. Dalam cerita-cerita fiksi itu, ada banyak kisah-kisah pasangan yang taaruf, lalu kemudian hidup bahagia dalam pernikahan.

Indah sekali…

…kayaknya.

Cerita-cerita itu memengaruhi saya untuk tidak pacaran. Saya mulai menganggap bahwa pacaran adalah sebuah dosa yang membuat cemburu Tuhan. Huhuhu.

Jadi perlu kamu tahu, sebelum ada gerakan anti-pacaran yang ramai belakangan ini, saya ternyata udah bikin gerakan itu dalam skala kecil—paling tidak ke diri saya sendiri. Cuma bedanya, saya nggak sempet bikin komersil. Bukan karena sok idealis, tapi karena nggak ada modal aja waktu itu.

Dalam pikiran saya, relasi romantik nir-interaksi semacam itulah yang ideal. Penuh cinta, tapi ditahan di dalam dada. Walaupun tak bisa saya pungkiri bahwa ada letupan-letupan asmara yang sangat sulit diredam kayak masak nasi kebanyakan aer.

Masa SMP adalah masa di mana saya berkeyakinan bahwa naksir pada lawan jenis adalah sebuah kesalahan besar saya sebagai generasi penerus sejarah umat manusia. Saya belum tahu bahwa sir-siran itu jebul hanyalah konsekuensi biologis dari pertumbuhan yang normal aja. Maklum, saat itu masih sentrap-sentrup.

Lagipula, bagaimana bisa kita menyalahkan diri sendiri jika hati yang berdesir adalah cara Tuhan untuk mempersiapkan transisi kehidupan manusia dari masa kanak-kanak menuju dewasa?

Merasa jatuh cinta adalah satu hal, tapi pacaran adalah hal lain. Mirip seperti kemecer lihat mangga tetangga adalah satu hal, tapi nyolong mangganya adalah hal lain. Lagipula, alasan awal mula seseorang berpacaran, adalah merupakan ajang perkenalan (baca: audisi pencarian bakat) sebelum memasuki jenjang pernikahan.

Meskipun tidak menutup kemungkinan ada yang berpacaran supaya tidak diledek jomblo, balas dendam pada mantan pasangan, atau sekadar nggak enak nolak seseorang (ada lho yang begitu, seriusan deh). Ya, motivasi perilaku orang kan emang bisa apa saja.

Namun, bagi sebagian orang pacaran itu bukan hal yang bisa diterima. Ada orang-orang yang berpandangan aktivitas pacaran itu berlawanan dengan standar moral yang mereka pegang.

Ada kemungkinan-kemungkinan yang ingin mereka tutup dengan (((mengharamkan))) pacaran. Sebagaimana kita tahu, godaan interaksi fisik dalam pacaran itu besar sekali. Untuk menghindari hal-hal yang diharamkan, maka diperkenalkanlah konsep taaruf.

Baca juga:  Ide Jenius Ridwan Kamil untuk Menekan Angka Perceraian

Belakangan, kata taaruf menjadi istilah yang banyak digunakan untuk menyebut suatu proses perkenalan yang bertujuan untuk pernikahan. Tujuannya secara normatif sama seperti pacaran, tapi dengan cara yang sedikit berbeda.

Pertemuan langsung adalah cara orang pacaran untuk saling mengenal, tapi dalam taaruf pertemuan-pertemuan itu dibatasi. Dalam proses taaruf, upaya-upaya untuk saling mengenal diperantarai oleh pihak ketiga. Dan, pihak ketiga itu tentu saja bukan setan, bukan hakim garis, tapi komunikator.

Selain harus diperantarai oleh pihak ketiga, durasi waktu taaruf juga disarankan jangan kelamaan karena konsep ini cepat basi dan berisiko membusuk dari dalem. Apalagi, secara agama, pernikahan diyakini sebagai salah satu urusan yang harus disegerakan. Ketika hati sudah terasa mantap, maka pernikahan harus segera dilangsungkan.

Tapi ingat, “disegerakan” itu beda dengan “buru-buru” lho. Nanti deh, di lain waktu kita bahas lagi soal beginian.

Nah, dengan segala pembatasan-pembatasan tadi itu, apakah taaruf dapat membuat seseorang benar-benar mengenal calon pasangannya? Apakah informasi mengenai calon pasangan  yang didapat melalui proses taaruf cukup valid dan reliabel?

Satu hal yang sering luput dipahami, proses taaruf yang sakses bukan hanya yang berujung dengan pernikahan, tapi yang benar-benar menyediakan informasi valid tentang calon pasangan. Artinya, orang taaruf terus gagal nikah itu juga wujud dari keberhasilan dalam konsep ini. Meski itu bakal jadi bahan obrolan di tongkrongan seeh.

Ta, tapi, ya lebih bagus begitu dong, ketimbang setelah menikah ternyata merasa nggak cocok karena saat taaruf merasa tak diberi informasi yang benar dan akurat. Kan mending gagal nikah ketimbang kepikiran langsung kepengin jadi janda usai nikah, iya kan?

Nah, berangkat dari sana, salah satu kunci keberhasilan taaruf terletak pada perantara yang tepat dan sumber informasi yang akurat. Jika sudah begitu, validitas dan reliabilitas informasi diharapkan menjadi semakin tinggi.

Itulah yang jadi sebab mengapa perantara adalah koentji.

Begini, karena taaruf menghendaki pembatasan pertemuan, maka perantara menjadi saluran informasi utama dalam proses saling mengenal. Konsekuensi dari cara ini ialah informasi yang diterima oleh orang yang menjalani taaruf tidak didapat langsung dari calon pasangannya.

Artinya, yang diterima oleh orang yang menjalani taaruf adalah olahan informasi dari si perantara. Informasi yang diterima adalah persepsi si perantara terhadap calon pasangan, bukan informasi yang dipersepsi oleh indera yang bersangkutan.

Lalu, apa masalahnya?

Tidak ada. Mengenal calon pasangan melalui perantara tentu boleh-boleh saja. Namun, perlu diingat bahwa semakin panjang rantai informasi, maka semakin besar pula kemungkinan informasi itu menyimpang dari sebenarnya.

Baca juga:  Ancaman “Jalani Dulu Aja” dalam Kehidupan Budak-Budak Cinta

Saya tidak sedang mengatakan perantara akan menyampaikan hal-hal yang tidak benar, tapi setiap manusia memiliki kekhasannya sendiri dalam menerima dan mengolah informasi. Indera setiap manusia menafsir stimulus dengan cara yang berbeda. Stimulus yang sama dapat dimaknai secara berbeda oleh dua orang yang berbeda.

Misalnya, uang satu juta bagi saya adalah jumlah yang banyak, tapi bagi jutawan dari aplikasi trader Binomo (misalnya) nilai satu juta itu nilai yang receh saja. Maka dari itu, selalu ada kemungkinan perbedaan penafsiran antara orang yang bertaaruf dengan perantaranya.

Mungkin, ini juga yang membuat beberapa orang yang bertaaruf merasa pasangannya sosok yang berbeda dari apa yang mereka bayangkan sebelum menikah.

Lalu, apakah kemudian pacaran menjadi cara yang lebih baik karena memungkinkan seseorang mengamati langsung calon pasangannya?

Tidak juga, pacaran pun masih memungkinkan terjadinya bias penilaian. Orang biasanya memutuskan berpacaran setelah tumbuh benih-benih cinta di hatinya. Dan ketika benih cinta itu mekar, dengan segera ia menurunkan fungsi otak depan manusia yang bertanggung jawab untuk membuat penilaian dan mengambil keputusan.

Dengan fungsi otak yang sedang menurun, tentu bucin tidak bisa diandalkan untuk melakukan penilaian dan mengambil keputusan dengan tepat. Karena, pesan lama Agnes Monica itu selalu aktual: “Cinta itu tak ada logika.”

Trus, gimana dong? Kok kayaknya taaruf dan pacaran mengandung risiko semua? Lha, emang di dunia ini ada hal yang nggak mengandung risiko? Wong pernikahan saja ada risikonya lho, ya.

Hal yang harus diingat adalah baik taaruf maupun pacaran sama-sama bertujuan untuk saling mengenal. Apapun yang dipilih untuk dijalani, fokuslah dengan tujuan awal. Yakni, untuk M-E-N-G-E-N-A-L. Dan, kerahkan semua cara dan sumber daya untuk mencapai tujuan tersebut.

Toh dengan begitu kamu juga bakal sadar bahwa keduanya justru jadi gerbang pembuka sebuah hubungan, bukan tujuan akhir. Pacaran 10 tahun ditinggal nikah atau taaruf 10 menit gagal menikah itu nggak apa-apa, banyak temennya.

Soalnya, kadang-kadang kita emang perlu kenal 10 tahun untuk tahu watak orang seperti apa. Ya wajar aja sih. Lah wong yang nikah 10 tahun kemudian cerai juga ada kok, apalagi ini baru pacaran doang.

Masalahnya, yang repot adalah yang baru kenal 10 menit tapi ngelupainnya butuh 10 tahun. Wah, pahit itu, Luuur, pahiiiit. Kayak hidupmu.

BACA JUGA Jangan-Jangan, Pencetus Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran adalah Tan Malaka atau tulisan Lya Fahmi lainnya.