ADVERTISEMENT

Masruroh, Ibu Penjual Burjo Gerobak yang Bahagia Bisa Antarkan Anak Lulus Cumlaude di UNY

Masruroh, Ibu Penjual Burjo Gerobak yang Bahagia Bisa Antarkan Anak Lulus Cumlaude di UNY MOJOK.CO

Gerobak warisan suami yang memberi barokah

Gerobak yang ia pakai saat ini adalah warisan suaminya yang dibuat tahun 1993. Meski terlihat kecil dan sederhana, gerobak tersebut jadi saksi perjuangan sekaligus memberi barokah untuk keluarga Masruroh. “Ini masih awet Mas, karena suami saya berpesan, gerobak itu harus masuk rumah. Kita tidur di dalam rumah, maka gerobak juga dimasukan ke dalam rumah,” kata Masruroh. 

Suaminya menganggap gerobak burjo bukan sekadar gerobak, sehingga sangat diperhatikan dan disayang. Maka meski sudah berusia lebih dari 30 tahun, gerobak itu masih awet. “Paling kemarin saya cat dan perbaiki sendiri, kalau lagi di rumah, gerobak ini nggak boleh kehujanan atau kepanasan, harus ada di dalam rumah,” kata Masruroh. 

Masruroh menceritakan suka dukanya jualan burjo selama lebih dari 30 tahun bersama suaminya. Ia biasa bangun pukul setengah dua malam. “Pertama saya curhat sama Allah segala hal, jam dua baru mulai masak bubur, jam 5 mulai jualan,” ujar Masruroh. 

Masruroh punya angan-angan memiliki kios untuk jualan burjo. (Agung P/Mojok.co)

Semangkuk burjo ia jual Rp5.000. Rata-rata Masruroh menghabiskan 1 kg bahan baku kacang ijo dalam sehari. Angka itu sama dengan sekitar 100-200 bungkus burjo.

“Jam setengah sebelas saya harus sampai rumah, jadi kalau misal jam 10 belum habis, biasanya saya kasih ke ojek online atau orang-orang,” kata Masruroh. 

Berharap punya kios burjo

Khusus hari Jumat, Masruroh menyiapkan bahan lebih banyak, sekitar 1,5 kg kacang ijo. Ini untuk ia gunakan program Jumat berkah. “Jadi saya jualnya Rp10 ribu dapat tiga bungkus,” katanya. 

Masruroh mengatakan, ia tidak punya hari libur dalam berjualan. Hampir setiap hari ia menjual bubur kacang ijo di tempat yang sama. Kalau sampai libur artinya ada keperluan yang mendesak. “Kalau cuma sakit ringan, saya usahakan jualan, nggak ada hari libur,” katanya ceria. 

Masruroh masih punya angan-angan bisa sewa kios untuk jualan burjo sekaligus ia ingin jualan makanan yang ia masak sendiri. Namun, ia menyadari hal itu tidak mudah, sehingga ia merasa bersyukur dengan apa yang ia dapatkan saat ini.

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Mas Tatang dari Majenang: Tinggalkan Jakarta Meski Punya Gaji Tetap, Pilih Buka Usaha Jahit Keliling di Jogja yang Pendapatannya Tak Menentu

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 6 Maret 2024 oleh .

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.