ADVERTISEMENT

Mas Tatang dari Majenang: Tinggalkan Jakarta Meski Punya Gaji Tetap, Pilih Buka Usaha Jahit Keliling di Jogja yang Pendapatannya Tak Menentu

Mas Tatang dari Majenang: Tinggalkan Jakarta Meski Punya Gaji Tetap, Pilih Buka Usaha Jahit Keliling di Jogja yang Pendapatannya Tak Menentu MOJOK.CO

Meski pendapatan jahit keliling tak menentu, bersyukur bisa atur waktu

Menurut Mas Tatang, salah satu yang ia rasakan setelah pergi dari Jakarta dan membuka usaha di Jogja adalah ia punya banyak waktu. Ia tidak bergantung kepada pemilik perusahaan ketika izin karena ada keperluan keluarga. 

“Waktu fleksibel itu bukan berarti kita bisa santai-santai, tapi waktu fleksibel itu kita bisa ngatur waktu misal ada acara dadakan atau kangen dengan keluarga bisa segera ketemu,” kata Tatang. 

Setiap hari rata-rata Mas Tatang melayani 10 konsumen yang menggunakan jasanya. (Agung P/Mojok.co)

Ia sendiri biasanya pulang ke Majenang setiap bulan sekali. Namun, khusus bulan ini, ia akan pulang mepet dengan Idul Fitri. Alasannya, biasanya jelang hari raya, banyak konsumen yang menggunakan jasanya. 

“Ramadan saya berjauhan sama anak dan istri nggak papa, eman-eman kalau ditinggal, yang penting pas pulang nanti bawa rezeki,” kata Tatang. 

Bisa tekan biaya hidup karena di Jogja masih murah

Tatang mengatakan, biaya perbaikan pakaian bervariasi dari Rp10 ribu untuk tiga lubang di celana hingga rombak total yang berkisar Rp30 ribu. “Paling banyak itu potong celana, atau jahit celana sobek. Murah kok, Rp10 ribu itu untuk 3 pakaian yang sobek,” kata Tatang. 

Dengan rata-rata sehari dapat 10 konsumen, itu sudah bisa memenuhi kebutuhan hidupnya di Yogyakarta dan menabung untuk kebutuhan keluarga. “Untuk uang kos 400 ribu sebulan, adik saya juga ikut saya di sini, jahit keliling juga,” kata Tatang. 

Istrinya di kampung juga membuka usaha jahit di rumah. Tatang mengakui, ia menikah dua kali. Dari istri pertamanya yang kini sudah berpisah ia punya anak yang kini berusia 12 tahun. Ia kemudian menikah kembali dengan perempuan yang sudah memiliki anak. Saat ini anak bawaan istrinya itu duduk di kelas 2 SMP. 

“Saya nggak buka di Majenang karena pasti nggak fokus, karena pasti ada urusan kemana-mana. Kalau merantau seperti ini kan waktunya bisa fokus,” ujar Mas Tatang. 

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Pulang Kampung ke Wulunggunung Magelang dan Jadi Tukang Sayur Keliling, Keputusan Terbaik Mas Kris Pergi dari Jakarta yang Panas

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 6 Maret 2024 oleh .

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.

Exit mobile version