Sisi Gelap Kultur Suporter Porsenigama UGM

porsenigama mojok.co

Porsenigama 2018. (IG: porsenigama)

UGM tidak selamanya menyimpan cerita baik. Ada beberapa sisi gelap yang jarang terungkap. Kejadian demi kejadian muncul dalam tradisi suporter Porsenigama. Saling ejek, baku hantam, gigi copot, kening bocor, dan banyak kejadian lainnya. Ini cerita mereka.

***

Ius Setyo (26) mendorong mundur enam orang Suporter Solid Teknik atau yang biasa disingkat Supersonik (nama untuk basis kelompok suporter Fakultas Teknik UGM). Ia marah karena perutnya yang tambun dicolek oleh basis Supersonik. Ius menjelaskan dengan berapi-api bahwa saat itu, Supersonik dan Philoscontong (nama untuk basis kelompok suporter Fakultas Filsafat UGM) saling ejek.

Philoscontong hanya berjumlah 12 orang ketika mendukung tim voli mereka. Sedang Supersonik, menurut penuturan Ius, jumlahnya lebih dari 50 orang. Chants (lagu) berbau mengejek dilempar Supersonik kepada Philoscontong yang saat itu kalah suara. “Saling melempar chants bernada ejekan itu sebenarnya hal lumrah dalam dunia suporteran. Tapi kondisi kami memang sedang nggak baik,” begitu kata Ius.

Ketika bercerita, Ius sedang makan bakwan. Saya kembali bertanya kenapa kondisi Philoscontong saat itu sedang tidak baik, terdapat jeda hening obrolan di antara kami. Ius melanjutkan cerita bahwa Philoscontong sedang mabuk. Alhasil, adu tegang dua kelompok suporter kian menjadi.

Suasana makin panas ketika pertandingan usai. Di sebuah lorong, Ius dengan tubuh besarnya mendorong enam orang Supersonik dan mencari pemimpin Supersonik. Setelah Ius mendorong, beberapa kawannya langsung menerjang ke arah puluhan Supersonik dengan membabi-buta. Adu pukul tak bisa dihindarkan.

Ius lantas berkata bahwa hal itu masih biasa dalam suporteran Porsenigama. “Kamu kira itu kejadian paling medeni (menakutkan)? Itu masih belum ada apa-apanya. Masih banyak kejadian yang lebih besar lagi. Yang anehnya nggak pernah ada di media-media manapun kecuali Balairung Press.”

Porsenigama dan kultur suporter 

Porsenigama (Pekan Olahraga dan Seni Gadjah Mada) merupakan agenda tahunan yang mempertemukan berbagai fakultas untuk mengikuti lomba. Berbagai cabang, baik itu olahraga maupun seni dikompetisikan. Tujuannya memang mulia, yakni menyatukan. Namun kondisi di lapangan terkadang berbeda.

Pagebluk Covid-19 hadir, Porsenigama tidak kehilangan gairah. Pada November 2020, mereka tetap sukses digelar meski dengan konsep virtual. Walaupun konsepnya dipertanyakan karena pelaksanaannya melalui unggah video. Namun, menjadi sebuah pujian lantaran pada tahun tersebut ada cabang baru yang dilombakan yakni e-sport.

Sedang pada 2021 Porsenigama diadakan dengan sistem bauran. Ada perlombaan yang dilakukan secara daring dan luring. Namun gairah Porsenigama sejatinya ada di balik layar. Yakni bagaimana para suporter menyiapkan kontribusi terbaik untuk delegasi mereka. Porsenigama selama pandemi memang seperti kuburan. Namun pada tahun-tahun sebelumnya, para mahasiswa UGM selalu memadati venue pertandingan.

Saya menghubungi Rizqi Hadi (23), yang pernah menjadi ketua penyelenggara Porsenigama tahun 2018. “Porsenigama itu ajang kegiatan bersama. Menjalin hubungan bersama antar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UGM,” terangnya. Ia menuturkan bahwa UKM di luar olahraga dan seni juga dilibatkan dalam sektor kepanitiaan. Seperti Pramuka di medis dan Menwa di keamanan.

Rizky menceritakan bahwa Porsenigama dulunya bernama Pordias atau Pekan Olahraga Dies Natalis UGM yang melibatkan mahasiswa, karyawan, serta tenaga pengajar. Seiring berjalannya waktu, Pordias berjalan sendiri dan mahasiswa membuat Pormagama yang hanya melibatkan mahasiswa saja.

“Porsenigama itu lebih profesional. Tujuannya penjaringan atlet,” kata Rizqi. Penjaringan yang dimaksud untuk Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) dan Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida).

Rizqi mengakui bahwa tantangan yang paling sulit adalah perihal suporter. “Yang penting keep in touch dulu, meluangkan waktu untuk para senior-senior suporter tersebut,” kata laki-laki yang mengenyam pendidikan di Sekolah Vokasi UGM ini. Kesalahpahaman menjadi gerbang utama dalam terciptanya konflik. Ditambah adanya provokator.

Kultur suporter di Porsenigama ini membuat bingung banyak panitia. Dari tahun ke tahun. “Kejadian demi kejadian ini bukan hanya terjadi ketika saya menjabat saja,” terang Rizqi ketika saya tanya apakah ada kasus tawuran ketika ia menjabat sebagai ketua panitia.

Pengamat kultur suporter di UGM, Antonius Harya (25) mengamini apa yang dikatakan oleh Rizqi. Ia menjelaskan bahwa Porsenigama adalah pengaruh utama hadirnya kelompok-kelompok suporter ini. “Walau yang pertama hadir di UGM itu Pordias, namun gairah makin jadi memang ketika Porsenigama. Karena Porsenigama hanya dari mahasiswa aja. Lebih seru,” terangnya.

Ketika ditanya kenapa banyak kelompok suporter ini yang begitu fanatik, Anton mengatakan bahwa itu bersifat primordialisme. Ia menjelaskan kebanyakan lahir dari rasa bangga akan fakultas mereka. Lantas mereka menciptakan basis suporter untuk mendukung delegasi fakultas mereka dalam Porsenigama. Menurut Anton, fanatisme adalah berkah tapi jika datangnya kebanyakan justru hadir menjadi musibah.

Lebih dalam mengenai fanatisme—terutama dalam sepakbola—Johan Cruyff pernah berkata, “There is only one ball, so you need to have it.” Anton berpendapat, fakultas-fakultas yang memiliki suporter fanatik, berusaha menjaga kultur tersebut dengan pengkaderan. Kebanyakan, pengkaderan ini dilakukan ketika masa orientasi untuk mahasiswa baru.

Tiap fakultas punya basis suporter sendiri. “Bahkan mereka juga mengadopsi kultur itu sendiri. Entah itu Ultras, Hooligan, atau Mania.” Anton merinci daftar panjangnya. Philoscontong untuk Fakultas Filsafat, Sastrocontong untuk Fakultas Ilmu Budaya, Supersonik untuk Fakultas Teknik, Kapak Rimba untuk Fakultas Kehutanan, dan Garasi untuk Sekolah Vokasi.

Ada lagi, Sospoligan untuk Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Badai Alam untuk Fakultas MIPA, Ongoligan untuk Fakultas Peternakan, Ultras Traktor untuk Fakultas Teknologi Pertanian, Hollidjon untuk Fakultas Pertanian, FA Mania untuk Fakultas Farmasi, Pesut KG untuk Fakultas Kedokteran Gigi, SGM untuk Fakultas Geografi, dan Trisula Purba untuk Fakultas Psikologi.

Gelanggang UGM tak pernah tidur

Ada tulisan menarik dari Balairung Press, judulnya Tong Kosong “Segera Dibangun” Bunyinya. Benar, Gelanggang UGM sudah diratakan sejak April 2020 lalu. Bangunan itu tak hanya menyimpan cerita, namun sejarah panjang pergerakan UGM sejak 1975.

Menurut laporan Balairung Press, lambannya proses pembangunan ulang ini terjadi karena pihak Keraton Yogyakarta tidak memberikan izin pembangunan dengan desain menggunakan ruang bawah tanah. Pihak rektorat menyatakan bahwa Ngarsa Dalem melarang karena bertentangan dengan kebijakan tidak tertulis milik Keraton Yogyakarta yang terbaru.

Sebelum Gelanggang UGM berubah menjadi reruntuhan, mari ‘berwisata’ ke tahun 2014, di mana di suatu malam adalah malam yang panjang, penuh keringat dari para atlet, dan penuh pisuhan (makian) dari kelompok suporter. Sebenarnya, malam di bulan November 2014 itu adalah malam yang hangat. Malam yang asik untuk melakukan apa saja. Ya, seperti memadati Gelanggang Mahasiswa, mendukung fakultas kita yang sedang bertanding.

Jam menunjukan pukul 8 malam, artinya 45 menit menuju partai final Porsenigama cabor hockey putra antara Fakultas Teknik dan Sekolah Vokasi. Para pemain sudah masuk ke lapangan, pemanasan. Para suporter memadati sisi-sisi Gelanggang Mahasiswa yang selalu menghadirkan gelora. Sisi penonton Gelanggang Mahasiswa yang katanya Yudi Aprianto (26) tak pernah tidur.

“Selalu fantastis,” katanya. Yudi waktu itu masih mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi. Ia sengaja hadir, pertandingan antara dua kutub besar di UGM ini bukan hanya sekadar adu hockey dua instansi pendidikan, “Lebih dari itu ya pertandingan antara Supersonik dan Garasi,” katanya.

Yudi memberikan penjelasan, ia datang bukan untuk melihat dua kutub UGM ini bertanding hockey. “Aku lebih memilih melihat bagaimana cara suporter mereka mendukung,” jelasnya. Kedatangan Yudi harus dibayar mahal. Dua kelompok suporter tersebut harus bentrok dan membuat laga itu harus ditunda.

Kedua kelompok suporter memang sudah melempar chants yang bernada mengejek sejak awal. Panitia kelimpungan manakala harus membagi porsi antara mengamankan pertandingan di lapangan atau barisan di kursi penonton. Yudi mengatakan intrik dimulai dari chants mengejek kedua basis suporter ini. Namun dalam laporan Balairung Press menyebutkan, semua disebabkan oleh banner bernada mengejek dari Supersonik.

Banner tersebut bertuliskan “Universitas Gadjah Mada Sekolah?” dengan kata ‘Sekolah’ yang dicoret, merujuk kepada Sekolah Vokasi. Panitia bukan tanpa upaya, mereka mencoba mengamankan spanduk tersebut namun gagal. Saling lempar tak bisa dihindari. Malam yang asik untuk melakukan apa saja di bulan November itu ditutup dengan bentrok dua basis suporter paling besar di UGM.

Kejadian tahun 2014 bukan satu-satunya

Ius, salah satu kelompok suporter Philoscontong mengatakan, “Kalau nggak mabuk, kami kalah suara!” Hal ini merujuk kepada Fakultas Filsafat yang jumlah mahasiswa per angkatan lebih sedikit ketimbang fakultas lainnya. Ius menambahkan, jika Teknik dan Vokasi menurunkan puluhan orang, Philoscontong paling hanya mampu mengerahkan belasan orang.

Semboyan Philoscontong sendiri bunyinya begini: yang namanya serigala, walau sendiri tetaplah serigala. Kata Ius, “Kalau masalah suara, oke lah kami kalah. Kalau masalah berantem, tunggu dulu!”

Menurut Ius Apa yang dilakukan oleh Garasi, Supersonik, dan Philoscontong adalah potret kecil kericuhan yang terjadi di Porsenigama. Pernah ada kerusuhan di Gelanggang Mahasiswa, semua campur aduk masuk lapangan, kursi dilempar ke udara. “Coba cari beritanya atau videonya, pasti nggak ada,” katanya.

Rizki Hadi menjelaskan ketika ditanyai kenapa selalu ada clash di antara basis suporter yang sedang bertanding. “Secara general, apakah selalu ada clash tiap pertandingan, jujur jawabannya adalah tidak,” katanya dengan menekan suara ketika menyebut kata tidak.

Permasalahan Porsenigama memang menjadi problem menahun. Sejak tahun 2012, bahkan Kepala Direktur Kemahasiswaan saat itu, Drs. Senawi mengatakan bahwa perlu adanya kode etik yang  mengatur tingkah laku mahasiswa dalam kegiatan di kampus. “Hak-hak sebagai mahasiswa akan dicabut dengan kata lain hilangnya status mahasiswa jika kode etik tersebut dilanggar,” katanya seperti dikutip dari Balairung Press.

Reporter: Gusti Aditya
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Misteri Makam Tumenggung Pusponegoro, Penasihat Militer Pangeran Diponegoro liputan menarik lainnya di Susul.

 

Exit mobile version