ADVERTISEMENT

Ubed, Anak Sampang yang Pernah Ingin Berhenti Main Bulu Tangkis, Jadi Penentu Emas Pertama Indonesia di Asian Games 2026

Ubed, Anak Sampang yang Pernah Ingin Berhenti Main Bulu Tangkis, Jadi Penentu Emas Pertama Indonesia di Asian Games 2026 MOJOK.CO

Mohammad Zaki Ubaidillah atau Ubed menjadi penentu kemenangan tim bulu tangkis beregu putra sekaligus medali emas pertama Indonesia di Asian Games 2026. Sebelum menghadapi pertandingan yang menentukan itu, Ubed melakukan satu “ritual” yang telah ia jalani sejak kecil.

Indonesia dan China imbang 2-2 pada final bulu tangkis beregu putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Satu pertandingan tersisa, dan Mohammad Zaki Ubaidillah harus memenanginya agar Indonesia membawa pulang emas.

Ubed, begitu ia biasa dipanggil, baru berusia 19 tahun. Di seberang net sudah menunggu Weng Hongyang, pemain China berusia 27 tahun. Sebelum masuk ke lapangan, Ubed masih berada di bangku pemain ketika ia mengambil telepon dan menghubungi kedua orang tuanya.

“Sebelum main, saya sudah telepon orang tua di bench itu. Minta doa dari mereka, karena saya merasa tegang,” kata Ubed seusai pertandingan di Ichinomiya, Jepang, dalam wawancara Antara yang dikutip Kompas.com.

Bagi Ubed, menelepon rumah sebelum bertanding bukan hal baru. Kepada reporter Mojok menjelang Indonesia Masters 2026, ia bercerita bahwa “ritual” atau meminta doa orang tua sebelum turun ke lapangan selalu ia lakukan. 

Bertahun-tahun sebelum panggilan dari bangku pemain di Jepang itu, telepon juga membantu Ubed melewati hari-hari sulit ketika ia tinggal jauh dari keluarganya di Sampang, Madura.

Saat rindu rumah, suara orang tuanya adalah energi tambahan

Pada September 2025, saya bertemu orang tua Ubed di sekitar GOR PB Djarum, Kudus, Jawa Tengah. Bambang Suharyadi dan Haryanti tengah bersiap pulang ke Madura bersama putra mereka yang lain, Muhammad Jaya. Jaya, yang saat itu berusia 10 tahun, gugur pada hari pertama Audisi Umum PB Djarum.

Bambang tidak tampak kecewa. Mereka menganggap kedatangan ke Kudus sekaligus sebagai perjalanan keluarga dan kesempatan menengok kembali asrama yang pernah ditempati Ubed sejak bergabung dengan PB Djarum pada akhir 2019.

Namun, masa-masa tinggal di asrama tidak selalu ringan bagi Ubed maupun orang tuanya. Haryanti bercerita bahwa pada awal hidup jauh dari rumah, anak sulungnya kerap menangis saat menelepon.

“Latihannya kan berat, jadi kangen ke orang tuanya, apalagi masih kecil,” kata Haryanti.

Bambang tahu bahwa tinggal di asrama menuntut lebih dari kemampuan memukul kok. “Saat di PB Djarum, saya yakinkan kalau tinggal di asrama PB Djarum, bukan hanya urusan teknik bermain bulu tangkis saja yang dilatih, tapi juga karakter dan mentalnya yang dibentuk,” katanya.

Bambang dan Haryanti harus terbiasa jarang bertemu Ubed. Putra mereka kadang pulang ke Madura dua kali dalam setahun, tetapi lebih sering hanya sekali.

“Kalau kangen ya video call, dulu awal ya nangis, tapi cita-cita jadi pemain kelas dunia itu juga keinginannya,” ujar Haryanti.

Pada Januari 2026, reporter Mojok Aly Reza mendengar cerita serupa langsung dari Ubed. Menjelang penampilannya di Indonesia Masters, Ubed mengaku sering menangis di asrama karena rindu orang tua. Ia menelepon rumah untuk mengobati rasa kangen itu. Namun, ia tidak ingin menghentikan latihannya. “Nggak mungkin aku berhenti,” katanya.

Layangan sempat membuat Ubed ingin mundur dari badminton

Ubed lahir di Sampang, Madura pada 26 Juni 2007. Bambang, yang menyukai bulu tangkis, menjadi orang pertama yang melatihnya. Ia mengajari Ubed secara otodidak, lalu mengikutsertakan anaknya dalam turnamen-turnamen lokal.

Haryanti melihat Ubed sebagai anak yang pendiam dan penurut. Ia juga mengingat masa ketika putranya sempat ingin berhenti bermain bulu tangkis karena lebih senang bermain layangan. Setelah dibujuk dan diarahkan keluarga, Ubed kembali berlatih.

Sejak awal sekolah dasar, ia mulai pergi ke luar Madura untuk mencari tempat latihan. Ubed pernah masuk PB Rahmat di Pati, Jawa Tengah, lalu berpindah ke sejumlah klub di Gresik, Surabaya, dan Klaten. 

Pada akhir 2019 atau ketika usianya 12 tahun, ia lolos seleksi masuk PB Djarum di Kudus lewat jalur prestasi. 

Prestasi Ubed berkembang selama menjalani pembinaan di PB Djarum di Kudus. Ia menjadi bagian dari tim Jawa Tengah peraih emas beregu putra pada PON Aceh-Sumut 2024. Pada akhir tahun yang sama, ia dipanggil masuk jajaran utama Pelatnas PBSI.

Kesempatan itu datang setelah Ubed sempat memikirkan arah kariernya. Ia kalah pada babak delapan besar Seleksi Nasional awal 2024 dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika tidak berhasil masuk pelatnas. 

Pada 2025, Ubed menjuarai Kejuaraan Asia Junior setelah mengalahkan Liu Yang Ming Yu dari China pada partai final di Solo. Beberapa bulan kemudian, mereka kembali bertemu pada final Kejuaraan Dunia Junior. Kali ini Ubed kalah. 

Ia mengakui pikirannya kurang tenang dalam pertandingan tersebut. Ia merasa terlalu berambisi untuk menjadi juara. 

Menurutnya, masih banyak yang harus diperbaiki, termasuk fisik dan mental, untuk menghadapi persaingan di level senior.

Langkahnya di level senior mulai terlihat pada awal 2026. Ubed menjuarai Thailand Masters, turnamen BWF World Tour Super 300, setelah mengalahkan Panitchaphon Teeraratsakul di hadapan pendukung pemain tuan rumah. Laga berlangsung tiga gim. Dua gim di antaranya berakhir dengan skor 21-19.

Ubed mengatakan dukungan penonton untuk lawannya justru membuatnya lebih bersemangat. Ia mempersembahkan kemenangan tersebut kepada orang tua, keluarga, PBSI, dan PB Djarum.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Eng Hian, saat itu menyoroti kemampuan Ubed melewati poin-poin genting tanpa menyerah. Beberapa bulan kemudian, kemampuan itu diuji dalam partai terakhir final Asian Games.

Emas pertama badminton di Asian Games sejak 1998

Di partai final badminton memperebutkan emas beregu putra Asian Games, Indonesia lebih dulu kalah dalam dua partai pertama melawan China. Alwi Farhan kemudian merebut satu poin, disusul kemenangan pasangan Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin. 

Kedudukan menjadi 2-2 ketika giliran Ubed menghadapi Weng Hongyang.

Doa sudah ia minta dari orang tuanya, tetapi ketegangan belum langsung hilang. Ubed mengaku sempat kewalahan pada awal pertandingan. Pelatihnya terus mengingatkan agar ia lebih tenang dan mengejar satu poin demi satu poin.

Pada gim pertama, Weng mencapai game point saat unggul 20-16. Ubed menyelamatkan empat game point, membalikkan keadaan, dan menang 23-21. Ia lalu merebut gim kedua 21-13. Kemenangan itu memastikan Indonesia mengalahkan China 3-2 dan meraih emas beregu putra Asian Games untuk pertama kalinya sejak 1998. sport.detik

Mohammad Zaki Ubaidillah mengatakan dukungan rekan setim dan pelatih dari pinggir lapangan membantunya terus berjuang. Sejak awal, mereka saling meyakinkan bahwa Indonesia masih punya peluang meski sempat tertinggal 0-2. Ia tidak ingin mengecewakan tim yang telah membuka jalan hingga partai terakhir.

Emas itu milik seluruh anggota beregu putra Indonesia. Bagi Ubed, kemenangan tersebut juga menjadi ujung sementara dari perjalanan panjang seorang anak Sampang: pernah ingin bermain layangan ketimbang berlatih, berpindah dari satu klub ke klub lain, dan menangis karena rindu rumah.

Di Kudus setahun lalu, Haryanti bercerita bahwa panggilan video membantu mereka melewati masa ketika Ubed tinggal jauh dari keluarga. Sebelum turun pada final di Jepang, Ubed kembali mencari suara ayah dan ibunya. Setelah menutup telepon, ia masuk ke lapangan dan membantu timnya membawa pulang emas.

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Aly Reza

BACA JUGA: Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

Terakhir diperbarui pada 26 September 2026 oleh .

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.

Exit mobile version