Curhat Penjaga Gerbang Wisata Kaliurang Hadapi Trik Wisatawan yang Nggak Bayar

Ilustrasi Curhat Penjaga Gerbang Wisata Kaliurang Hadapi Siasat Wisatawan yang Ogah Bayar. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Penjaga gerbang kawasan wisata Kaliurang, Sleman harus berhadapan dengan siasat wisatawan yang nggak mau bayar. Namun, petugas ini juga punya trik membedakan warga lokal asli dengan yang pura-pura.

***

Kawasan wisata Kaliurang jadi salah satu penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang cukup besar buat Kabupaten Sleman. Pundi-pundi rupiah itu salah satunya tertampung lewat gerbang wisata atau Tempat Pemungutan Retribusi (TPR).

Maklum saja, Kaliurang ini punya banyak destinasi menarik untuk dikunjungi. Mulai dari tempat kuliner, museum, sampai spot-spot menikmati suasana alam. Sejuknya hawa Kaliurang jadi primadona bagi banyak orang.

Demi memaksimalkan potensi pendapatan dari destinasi tersebut, wisata Kaliurang punya tiga gerbang dengan penjagaan petugas retribusi. Pintu utamanya terletak di Kaliurang Timur di mana ribuan wisatawan biasa keluar masuk setiap harinya.

Di tempat itu pula, jamak terdapat para pelancong maupun warga Jogja yang mencari siasat supaya tidak perlu membayar retribusi. Sebagai orang yang sudah tinggal cukup lama di Jogja, saya pernah beberapa kali berupaya menyelonong. Pernah berhasil, tapi tak jarang akhirnya harus berhenti karena tidak enak hati dengan penjaga yang sudah melambaikan tangannya.

Salah satu hal yang membuat kesulitan adalah plat motor saya yang bukan AB. Beberapa teman warga asli Jogja mengaku lebih percaya diri untuk melenggang karena plat kendaraan mereka.

Selain itu, ada pula bebera trik lain yang menjadi rahasia umum di kalangan anak muda Jogja. Namun, bagi penjaga gerbang wisata Kaliurang, trik-trik itu sudah mereka pahami betul.

“Ya kami tahu. Tapi kalau mereka nyelonong begitu saja ya bagaimana berbahaya kalau kami cegat paksa,” curhat Andi Hidayat (33), pegawai Dinas Pariwisata Sleman yang bertugas di TPR Kaliurang.

Kamis (7/9/2023) siang saya menemui Andi saat ia sedang menjaga pintu masuk khusus motor. Lelaki ini sudah dua tahun menjaga pendapatan pariwisata Sleman di titik ini.

Gerbang wisata kaliurang.MOJOK.CO
Andi Hidayat (33) setia menunggu kendaraan roda dua di gerbang wisata Kaliurang (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Sulitnya menjaga retribusi di Jalan Kaliurang

Sebelum bertugas di sana, Andi berpengalaman menjaga pintu retribusi wisata candi. Sekilas memang tampak serupa. Namun, dua jenis pintu gerbang ini menghadirkan tantangan berbeda buat para penjaganya.

Di candi, ia menarik retribusi dari para wisatawan yang hendak masuk dengan berjalan kaki. Kondisinya tentu lebih tertib dan tidak ada potensi curi-curi kesempatan untuk masuk.

Namun, hal berbeda ketika pos masuk berada di jalan raya. Mereka perlu menghentikan pengunjung yang sedang berkendara. Tidak jarang mereka tidak mengurangi kecepatan.

“Pernah juga ada yang enggan bayar, ngegas sampai nyerempet cone pembatas jalan bahkan kursi di pinggir pos,” ujar Andi.

Para petugas ini mengaku tidak ambil risiko untuk mencegat pengendara yang melintas di tengah jalan. Mereka memilih melambaikan tangan saja. Bukan karena malas, tapi menghentikan kendaraan yang sengaja melaju cepat cukup berisiko.

Gerbang wisata Kaliurang di sisi timur menjadi pintu masuk utama. Setiap harinya ada enam petugas dari Dinas Pariwisata Sleman yang berjaga sejak pagi jam delapan hingga jam empat sore. Setelah itu, penjaga berganti menjadi pihak dari kalurahan setempat.

Sambil berbincang, mata Andi awas mengamati pengendara roda dua yang mendekat. Terlihat beberapa wisatawan yang tertib berhenti dan membayar retribusi sebesar Rp6 ribu per orang. Jika berboncengan biayanya menjadi lebih murah yakni Rp10 ribu.

Sesekali ia membiarkan kendaraan dengan plat AB melintas bebas. Mereka saling menyapa seperti sudah saling kenal dan paham.

Trik wisatawan di mata para penjaga gerbang wisata Kaliurang

Menurut Andi, mereka yang bebas melenggang merupakan warga asli Kaliurang. Setelah dua tahun bertugas di pos, ia sudah bisa menghafal wajah-wajah warga setempat. Selain warga juga orang-orang yang memang bekerja di kawasan wisata tersebut.

“Awalnya saya juga bingung mana yang warga asli mana yang bukan,” ujarnya sambil menyerahkan karcis retribusi ke wisatawan.

Namun, setelah beberapa bulan bekerja, berkat bantuan dari para seniornya, Andi perlahan mulai hafal wajah-wajah mereka. Secara sederhana, warga juga biasanya tidak menggunakan helm. Pakaian mereka juga berpakaian sederhana layaknya sedang beraktivitas sehari-hari.

Bus yang membawa wisatawan ke Kaliurang. (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Kendati begitu, tidak semua yang berkendara tanpa helm merupakan warga Kaliurang. Para petugas bisa mengetahui siasat mereka yang ingin lolos dari penarikan retribusi.

“Di media sosial itu banyak yang bilang kalau plat AB lewat gerbang wisata Kaliurang tinggal nyalakan lampu dim atau klakson dua kali,” kelakarnya.

Bukan hanya motor, mobil juga ada yang ngegas dan enggan berhenti. Padahal sudah ada polisi tidur untuk menahan laju kendaraan yang hendak lewat. Menghadapi hal semacam itu, para petugas tak mau ambil risiko mencelakai diri sendiri.

Padahal, meski plat DIY, para pengunjung ini tetap harus membayar. Selama berbincang dengan Andi banyak juga kendaraan dengan plat AB yang tetap berhenti.

Selain warga lokal Kaliurang, kalangan yang biasanya ia biarkan melintas adalah orang-orang yang memang rutin ke daerah atas. Misalnya seperti kurir paket, pegawai koperasi, sampai guru sekolah.

“Intinya kami tenggang rasa juga. Kalau mereka menanyakan tujuan pembayaran akan kami jelaskan,” terangnya.

Banyak pengunjung yang keberatan membayar dengan alasan hanya ingin berkunjung sebentar atau sekadar membeli makan. Namun, petugas harus tetap menegakkan aturan penarikan retribusi. Tentu dengan penjelasan yang baik.

“Kami sebagai wajah pariwisata Sleman punya SOP. Harus menjawab setiap pertanyaan dengan baik. Meski kalau mereka bertanya dengan sedikit ketus kami juga merasa lelah,” curhatnya.

Tantangan membedakan bule dengan wisatawan lokal

Setelah berbincang dengan Andi, saya bergeser sedikit menemui Hari Sumedi (42) yang sedang menjaga pintu masuk mobil. Selain kendaraan roda empat, sejak tadi bus-bus besar juga melintasi pos retribusi.

Seperti di tempat wisata lain, ada perbedaan harga tiket untuk turis lokal dan mancanegara. Turis asing harus membayar Rp15 ribu per orang. Namun, ada tantangan tersendiri ketika berhadapan dengan para pelancong dari luar negeri.

“Kadang susah membedakan turis asing. Apalagi kalau dari Asia. Tapi yang mengagetkan itu kalau wajahnya bule tapi bisa ngomong Jawa,” kata Hari tertawa.

Pernah suatu ketika ia bertemu mobil berisi rombongan empat orang yang hendak wisata ke Kaliurang. Saat menengok ke dalam, ada satu orang berwajah Eropa duduk di sebelah sopir.

“Awalnya saya bilang kalau turis asing bayarnya beda,” ujar Hari.

“Eh ternyata bule itu bilang ‘kulo tiyang Jogja, Pak’,” sambungnya terbahak.

Hal-hal semacam ini jadi hiburan tersendiri bagi petugas. Saat pandemi sedang merebak juga ada fenomena menarik. Saat itu hampir semua orang yang melintas menggunakan masker dan berhelm.

Lha akhirnya saya tanyain satu per satu. Jebul wong Kaliurang kabeh,” kelakarnya.

Kerja bahagia

Di seberang Hari juga ada satu petugas lain yag berjaga. Namanya Ahmad Nuzul Fauzen (54). Meski sudah menjelang masa pensiun dan senior di antara yang lain, ia tampak paling bahagia saat bekerja.

“Ngelihat orang lewat itu kadang bosen tapi kadang menyenangkan juga,” ujarnya saat saya hampiri.

Ahmad Nuzul Fauzen (54) selalu ceria sambil menjaga TPR Kaliurang (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Tiba-tiba saja, sepasang turis Eropa tiba di pos. Sang lelaki langsung bertanya berapa biaya yang harus ia bayar. Dengan terbata-bata, Ahmad menyebut, ”thirty thousand for two people.”

Turis asal Swiss itu lalu bertanya ke mana arah menuju Museum Sentalu. Lagi-lagi, Ahmad sedikit kesulitan menjelaskan titik-titik penanda menuju lokasi itu. Ia ingin menyebut Patung Udang Kaliurang.

“Patung Udang apa Mas bahasa Inggrisnya?” ujarnya sambil menengok ke saya. Tiba-tiba, saya juga lupa apa terjemahan “tugu”  dalam Bahasa Inggris.

Fine..fine.. we have Google Maps,” kata lelaki itu.

Baru selesai kebingungan kami, bule itu kembali bertanya mengapa ia harus membayar padahal nanti akan membayar tiket lagi untuk memasuki museum. Kami lantas memberi penjelasan dengan Bahasa Inggris berantakan.

Bule itu manggut-manggut. Saat mereka hendak beranjak, tiba-tiba Ahmad berujar dengan lantang. “Kaliurang is fun. Have fun.”

Turis itu tertawa. Kami pun ikut terbahak. Dinamika ini menjadi sedikit kebahagiaan bagi para penjaga gerbang wisata Kaliurang.

Reporter: Hammam Izzuddin
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Sate Donal Pak Min Kaliurang, Racikan Lezat Penjaga Rumah Peristirahatan Sultan Jogja

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Exit mobile version