Kuliah di Cina, Fathan Putra Tifatul Sembiring: ‘Bokap Gue Itu Paling Dikit anti-Cina-nya’

Fathan A. Sembiring, Putra Tifatul Sembiring yang Kuliah di Cina: ‘Bokap Gue Itu Paling Dikit anti-Cina-nya Ketimbang yang Lain’

MOJOK.COFathan A. Sembiring lima tahun lebih kuliah dan kerja di Cina; sementara bapaknya, Tifatul Sembiring mantan Ketua PKS, lekat dengan citra anti-Cina.

Saya mulai meragukan kesahihan adagium Cina, “you ci fu si you ci zi,” yang semakna dengan pepatah Indonesia, “buah jatuh tak jauh dari pohonnya,” setelah kenal Fathan Asadudin Sembiring. Wabilkhusus untuk urusan politis.

Pasalnya, pemikiran Fathan (khususnya terkait Cina) tampak berbeda dengan ayahnya, Tifatul Sembiring, yang tak lain dan tak bukan adalah mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sekaligus mantan Menteri Kominfo Indonesia.

Fathan pernah lima tahun lebih kuliah pascasarjana dan bekerja di Cina; sementara bapaknya, beserta partai yang diketuainya, lekat dengan citra anti-Cina.

Makanya saya biasa memanggil Fathan dan vice versa dengan sapaan “Bong”, kendati saya tak tahu apakah preferensi politiknya dapat menggolongkannya sebagai “cebong” atau bukan. Pun dengan Fathan yang juga sering manggil saya “Bong”.

“Bong” sengaja kami pilih, semata-mata untuk menjunjung tinggi budaya adiluhung netizen budiman negara ber-flower +62 yang acap membabi buta mengecap mereka yang tidak anti-Cina sebagai “cebong”—padahal belum tentu juga kami-kami ini pro-Jokowi.

Fathan sebenarnya berbicara detail sekali, tapi karena keterbatasan ruang, saya terpaksa tidak mentranskripnya di sini. Ini juga untuk menjaga nama baik dia. Kariernya masih panjang, soalnya.

Bila kelak dia jadi orang besar, berkat ketulusan hati saya yang tidak menuliskan “kenakalannya” dalam mengomentari PKS dan orang-orang di sekitarnya, bukan tidak mungkin dia akan menghadiahkan jabatan strategis kepada saya. Namun, kalau dia tidak tahu berterima kasih, membeberkannya ke publik tentu itu akan jadi jalan ninja saya.

Baiklah, usah berlama-lama, sila seruput dulu itu kopi lalu nikmatilah obrolan saya dengannya ini.

Bong, bisa diceritain alasannya kenapa dulu antum melanjutkan pendidikan ke Cina setelah lulus dari UNPAD?

Sebenarnya nggak ada alasan spesifik, sih. Gue dari awal memang cari beasiswa. Ke Cina. Ke negara-negara lain juga. Termasuk ke Singapura, Malaysia, dan Australia.

Ngapain masih nyari beasiswa? Antum kan banyak fulusnya.

Soalnya pada jaman itu banyak excitement yang timbul soal studi ke luar negeri melalui jalur beasiswa.

Tapi kenapa akhirnya pilih Cina?

Waktu itu belum ada LPDP, sehingga beasiswa bukan sesuatu yang mainstream atau dipromosikan besar-besaran seperti sekarang.

Dan yang perlu diingat, tahun 2010 akhir ketika gue udah tahun-tahun terakhir kuliah di UNPAD, teknologi atau internet belum sebagus sekarang. Jadinya gue dan para pemburu beasiswa lainnya kudu cari informasi dengan serba manual.

Itu juga yang membuat semuanya jadi serba yang-penting-apply-dulu-deh. Coba-coba tanpa bener-bener berpikir tempat yang kita apply itu negara yang begini-begini.

Nah, karena kita tahu gimana susahnya apply beasiswa di jaman ketika internet masih lemot dan kuota masih sangat terbatas itu, jadi pemikiran untuk mempertimbangkan negara tujuan itu sudah tidak ada. Langsung ambil aja beasiswa yang dapat yang mana. Pada waktu itu kebetulan beasiswa CGS (Chinese Government Scholarship) itu yang paling awal kasih pengumuman.

Jadi antum nggak punya gambaran Cina itu negara yang gimana ya?

Kalau itu sama aja sih dengan teman-teman yang lain. Jadi ketika memutuskan untuk studi ke Zhongguo (Cina) itu, ya banyak mitos-mitos dan desas-desus yang ternyata juga tidak bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya.

Misalnya?

Banyak lah. Mulai dari Cina itu jorok. Cina itu negara asal narkoba. Di Cina itu banyak tukang tipunya. Cina itu negara yang anti-agama. Segala macam. Tapi gue akhirnya berangkat juga.

Abah antum nggak nentang “putra mahkota”-nya kuliah ke negeri aseng?

Hahaha… karena gue kuliah di UNPAD dan jarang pulang ke Depok dan ditambah bokap sibuk jadi Menteri Kominfo, gini-gini gue anak menteri, Bong! Hahaha… nah, itu dia nggak mengikuti prosesnya.

Jadinya dia hanya tahu ketika gue udah dapat pengumuman kalau gue keterima di Cina, full scholarship untuk belajar bahasa Mandarin di Peking University, sampek lanjut S-2 di UIBE Beijing, dan kerja 1 tahun di Tianjin.

Fathan dan kawan-kawannya setelah lulus S-2 dari UIBE, Beijing. Dia berada di depan dan paling kiri. Mau menunjukkan kekirianmu ya, Than?

Gila lu! Itu reaksi Pak Tifatul Sembiring gimana?

Habis gue dapat pengumuman keterima di Cina itu, gue sebagai anak yang kurang berbakti dan minim akhlak, langsung aja minta beliau belikan tiket. Waktu itu gue minta yang mahal. Gaya, dong, gaya! Orang Depok udik, kan? Mau ke Beijing, gitu lho.

Nah, tanpa bisa berkelit lagi, Sang Menteri Kominfo itu langsung tergopoh-gopoh membelikan ana tiket. Dan mungkin satu minggu setelahnya, dia baru siuman dan baru sadar bahwa dia sudah dibodohi sama anaknya yang kurang akhlak ini.

Jadi waktu itu kesan beliau sebenarnya netral saja. Mungkin karena beliau ini sedang di posisi Menteri, banyak bertemu dengan counterpart asing dan aseng. Jadi mungkin oke dia masih selow. Sensitivitas itu, kan, naik turun. Pas jadi menteri mungkin dia masih selow. Sekarang mungkin mulai kenceng lagi.

Bisa gitu juga ya?

Sebenarnya pas gue udah masuk UNPAD pada satu tahun pertama, sama bokap itu gue pernah dikirim ke Madinah buat belajar di Universitas Islam Madinah, jurusan Ushuluddin. Tapi pas ikut tes untuk kuliah di Arab, gue dah lupa juga apa nama tesnya, gue sampek terbata-bata ngomong bahasa Arab, pontang-panting segala macem karena nggak ada persiapan.

Untungnya sih kagak lolos. Kalau lolos gue udah nggak bakal ke Cina. Orang udah enak-enak kuliah di UNPAD, eh malah disuruh tes kuliah lagi. Ya akhirnya nggak lolos. Emang udah takdir gue ke Cina, kali.

Kalau dengerin cerita antum tadi, Pak Tifatul kayaknya nggak anti-anti banget dengan Cina ya?

Sebenarnya gini, Bong. Dari awal gue masuk di Lambe Turah itu, justru gue pikir bokap gue yang bisa dikatakan paling sedikit anti-Cina-nya kalau dibandingkan dengan beberapa orang yang memiliki sikap seperti itu.

Dalam artian, bokap gue ini alhamdulillah mulai selow ketika dia jadi menteri which is itu tahun 2009 sampai 2014.

Maksud antum, sebelum jadi menteri itu Pak Tifatul Sembiring nggak selow orangnya?

Sebelumnya, kan, dia jadi presiden partai. Ya waktu itu dia mungkin masih kenceng. Getooo…

Masalahnya, kan, sekarang bokap antum tetap dicitrakan sebagai orang yang kenceng.

Almarhum Kepala Jurusan gue di UNPAD pernah bilang bokap gue itu dari dulu memang news maker. Ada mulu di berita. Media darling, lah, ibaratnya. Tapi, ya, suweknya itu dia jadi media darling dalam hal-hal yang kontroversial dan cenderung negatif.

Ada orang yang media darling-nya itu diangkat yang positif-positif. Tapi ini giliran bokap gue kena smash ke bawah langsung!

Repot juga, ya, jadi Pak Tifatul Sembiring. Ini antum malah nambahin rempong beliau karena kuliah di Cina.

Itu dia!

Sering kali isu-isu yang berkaitan dengan Cina ini sangat memengaruhi luar dan dalam. Termasuk ke bokap gue. Gue ini, kan, the one and only: anak biologis yang mestinya juga jadi anak ideologis Tifatul Sembiring tapi membelot kuliah di luar negeri yang negaranya seperti itu.

Pak Tifatul Sembiring pasti prihatin dong?

Gue rasa bokap gua soal anaknya yang lulusan negara yang istilahnya, dalam tanda kutip, “bikin kisruh mulu,” dia cukup bimbang. Adik gue lulusan Jepang. Ada juga yang lulusan UK. Lalu, ketika ada satu anaknya, dan ini kebetulan anak laki-lakinya yang paling besar, lulusan Cina, udah otomatis itu bakal nambah-nambahin pikiran beliau.

Emangnya kenapa?

Ya itu karena posisi dia dalam politik sudah susah untuk memberikan endorsement buat gue pribadi. Kalau misalkan bokap gue itu nggak ada posisi politik dan cuma zuo shengyi (berbisnis), nggak bakal ada masalah, malah bagus, kan?

Ya Cina emang enak buat jadi partner bisnis.

Itu!

Tapi intinya, dari awal bokap gue netral. Dalam artian, dia nggak support banget, dia juga nggak menolak banget gua ke Cina. Bahkan kayak gue yang masuk Metro TV dan CNN Indonesia itu, ya dia sempet tempel-tempel juga di Twitter-nya. Tapi jatohnya malah netijen ngomporin dia segala macam. Jadinya rusuh!

Eh, antum pernah cekcok nggak sih sama bokap? Misal karena beda pandangan soal Cina.

Kalau ini ente nggak usah mancing-mancing. Hahaha…. Ya sering lah, Bong!

Cekcok terakhir itu soal Uighur. Karena gue nulis di blog, bicara di podcast, dan diundang buat ngisi di beberapa tempat juga. Itu dia lihat sebagai sesuatu yang tidak perlu.

Dia bilangnya gue mestinya lay-low saja. Nggak perlu terlalu high profile. Tapi lucu sih. Gua anak Tifatul (Sembiring), kuliah di Cina, tapi disuruh low profile. Lah, dia sendiri sudah high profile. Gua gimana mau low profile?

Udah pasti gue ikut kesorot. Ya udah, mending sekalian.

Sudah kepalang basah, mandi aja sekalian, ya?

Bokap sama nyokap gue itu begitu. Yang minta gue lay-low dan tidak banyak komentar soal Cina itu dua-duanya, malahan. Tapi lucu!

Lha gimana nggak lucu? Mereka itu dulu pas lagi awal-awalnya tarbiyah di awal-awal tahun Reformasi, kemudian 1998, sampai puncaknya pendirian PK (Partai Keadilan) dan penggulingan Soeharto, mereka, kan, landasannya aktivisme juga.

Mungkin kakek-nenek gue dari kedua belah pihak, kalau dulu tahu bokap dan nyokap gua melakukan aktivisme melalui tarbiyah dan later on jadi partai yang menentang Soeharto, yang memiliki segala kemahaan dan kekuasaan, otomatis khawatir juga mereka.

Cuma bedanya apa? Jaman dulu nggak ada medsos, nggak rusuh kek sekarang.

Makanya jangan salahkan gue excited seperti ini karena gue punya darah dua aktivis yang akhirnya memadu kasih, dan lahirlah gua. Sekarang mereka malah mau melarang anaknya melakukan aktivisme, menyuarakan pentingnya komunikasi antara Tionghoa dan non-Tionghoa, dan objektivitas dalam melihat Cina.

Padahal dulu mereka menentang Soeharto yang notabene sesuatu yang outlier, sesuatu yang-jangan-dikerjain-deh.

Fathan sama Pak Tifatul sumringah sehabis makan di restoran halal Cina. Nggak takut fotonya digoreng netijen, Pak?

Antum masuk PKS dulu biar bebas…

Dengan saya yang lulusan Cina, saya sama sekali tidak merasa menjadi orang penting atau tokoh apa. Tapi, yang jelas ketika ada orang-orang yang ingin mendapatkan informasi seputar studi ke Cina, bahasa Mandarin, dan insight mengenai kehidupan di Cina secara objektif, tentu dengan senang hati saya akan membagikan pengetahuan saya secara gratis.

Saya juga tidak merasa bahwa PKS membutuhkan saya. Belum tentu juga pemikiran-pemikiran saya dibutuhkan saat ini, karena dari perspektif kebutuhan di internal PKS sendiri mungkin masih memiliki prioritas sumbangsih pemikiran untuk hal-hal lain yang lebih pokok seperti pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan nasional, penegakan hukum, keadilan sosial, dan sebagainya.

Sumpah, antum cocok banget masuk PKS kalau udah pakek bahasa gitu! Hahaha… Nanti antum bisa jadi kayak Deng Xiaoping yang merombak Partai Komunis Cina dari dalam.

Adanya malah gue yang dirombak, Bong!

Iyakah? Emangnya PKS beneran anti-Cina?

Kalau ngomongin soal itu, cukup klise, ya, Bong. Awalnya, kan, dibilangnya PKS itu Wahabi segala macam. Wahabi atau bukan, itu sebenarnya terserah perspektif yang menilai.

Dalam artian, kalau misalkan mau dikorek-korek, mungkin ada juga Wahabi-nya di dalam. Tapi ada juga yang sangat-sangat-sangat moderat. Ada juga yang sangat-sangat ekstrem. Dan seterusnya.

Namanya juga partai politik, Bong. Partai politik, kan, wadah aja. Ada untuk siapa aja yang memang dia berminat dan setuju dengan haluan ideologi maupun praksis yang dilaksanakan oleh suatu partai politik. Apapun bentuknya.

Cuma, kalau dilihat PKS sebagai partai secara utuh, setahu gue tidak pernah anti-Cina. Toh, kalau ngomongin praksis politiknya, kan PKS juga sebenarnya di beberapa daerah, dan ini bisa dibilang banyak, itu mereka bekerja sama dengan komunitas non-muslim, juga berkoalisi dengan partai lain. Inilah kenyataan politik.

Yang jadi masalahnya, focal points-nya adalah orang-orang yang menyuarakan anti-Cina itu kebetulan struktural PKS. Padahal mungkin itu pendapat pribadi, bukan PKS secara keseluruhan.

Coba misalkan ngobrol dengan Dr. Sohibul Iman yang Ph.D dari Jepang dan jadi presiden PKS sekarang, gue yakin pendapat dia 180 derajat berbeda dengan beberapa tokoh yang menjadi sorotan isu-isu soal ini.

Fathan hendak meng-aseng-kan PKS dari dalam. Sowan Habib Salim Al-Jufri saja dia pakai baju Cina. Tapi mereka tertawa bahagia. Hm, indahnya perbedaan.

Oh, berarti itu hanya oknum aja, ya, yang anti-Cina? Kalau kaitan PKS dengan Wahabi yang antum bilang tadi?

Itu sebenarnya isu lama juga. Generating issue.

Maksudnya hanya diisukan sebagai Wahabi?

Ya, terutama oleh temen-temen elu, cebong-cebong yang kurang akhlak itu.

Siapa?

Mungkin termasuk mereka-mereka yang mem-bully Bintang Emon, yang nge-bully gue juga, atau yang nge-bully orang-orang lain yang memang vokal terhadap pemerintah. Jadinya sekarang orang melihat teman-teman Salafi itu dibilangnya PKS. FPI dibilang PKS. 212 dibilangnya PKS. Padahal belum tentu juga, kan?

Intinya PKS bukan Wahabi?

Dinamis.

Misalkan gini, Presiden PKS yang sekarang, Dr. Sohibul Iman, itu Ph.D Jepang. Nggak terkesan sebagai ustaz. Nggak ada background pesantren. Kalau Ph.D Jepang masak mau dibilang konservatif?

Dinamika di luar negeri beliau pasti melihat dan menyadari. Proses pergantian kepemimpinan di dalam tubuh PKS juga bisa diamati bersama seperti apa.

Tapi, bisa dibilang ada, lah… yang konservatif. Mungkin beliau-beliau yang masih terjebak masa lalu itu. Kalau udah begitu, dikomporinlah sama tokoh-tokoh lain di luar PKS. Yang jadi bahan ngomporin adalah hal-hal yang berbau oposisi pemerintah.

Oke. Jadi kita mesti gimana melihat hubungan antara Tifatul Sembiring, PKS, dan Fathan Asadudin Sembiring yang lulusan Cina?

Biasa saja melihatnya. Tidak perlu mengambil ekstrem kanan, atau pun ekstrem kiri. Karena sesungguhnya dunia ini semakin datar. Ingat, bukan bumi yang datar, bumi itu bulat. Hahaha.

Apalagi kalau misalkan melihat konteks politik praktis atau dinamika perpolitikan di Indoneia dan hubungannya dengan relasi dua negara besar, Indonesia dan Tiongkok. Biasa saja melihatnya.

Cina itu juga negara yang masih belajar, masih bisa berkembang, dan mungkin, siapa tahu Cina suatu saat nanti akan menjadi negara yang sangat demokratis? Kita nggak ada yang tahu. Karena yang namanya kehidupan bermasyarakat, kebidupan bernegara, itu pasti selalu dinamis.

Kalau soal Tifatul Sembiring, tidak ada komentar yang banyak. Biasa saja. Lihat saja seperti halnya manusia lainnya. Bisa salah, bisa benar. Kalau misal salah, diingatkan. Kalau benar, ambillah yang baik itu.

Eh ini kok gua jadi kayak ceramah, Bong? Pertanyaan elu, ah. Emang dasar elu provokator! Hahaha.

BACA JUGA Mengagumi Jalan Pedang PKS untuk Menjadi Oposisi Sendirian atau tulisan Novi Basuki lainnya.

Exit mobile version