Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Kami Ngobrol dengan Para Guru soal Pembelajaran Jarak Jauh yang Dikeluhkan Siswa dan Orang Tua

Erwin Setia oleh Erwin Setia
26 Juli 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Selain para orang tua dan siswa, guru adalah entitas yang tak boleh dikesampingkan dalam pembelajaran jarak jauh. Guru juga punya cerita.

Sebelum masa pandemi korona, kita sudah akrab dengan ragam berita memprihatinkan terkait dunia pendidikan. Mulai dari kepedihan guru honorer yang gajinya kalah telak dari anggota DPR (yang doyan bolos dan tidur di tengah rapat), bangunan-bangunan sekolah yang ambruk, hingga kisah-kisah perjuangan siswa di pedalaman yang mesti menyeberangi sungai melewati lembah bak Ninja Hatori demi berangkat ke sekolah.

Semua berita itu nyata di depan mata kita. Sekalipun Mendikbud yang sekarang menggembar-gemborkan slogan “merdeka belajar”, tetap saja masih banyak anggota masyarakat yang terkukung oleh keterbatasan dalam mengakses pendidikan. Sedih kalo diceritain semua mah, Bos.

Masa pandemi yang mengharuskan pembelajaran dilakukan dari jarak jauh (daring) kian menegaskan betapa kualitas pendidikan di negeri ini masih kelewat kwerew. Ada siswa yang mesti pinjam hape tetangga buat ikut kelas, siswa naik atap untuk mendapat sinyal, hingga orang tua yang nekat mencuri laptop agar anaknya bisa ikut pembelajaran jarak jauh. Itu cerita pendidikan atau cerita horor, ya? Ngeri gitu.

Terkait pembelajaran pada masa pandemi, saya berkesempatan berbincang dengan tiga orang guru guna mendapatkan perspektif tambahan dari mereka. Selain para orang tua dan siswa, guru adalah entitas yang tak boleh dikesampingkan. Mereka juga punya keluh kesah, cerita, dan kegelisahan tersendiri mengenai pembelajaran pada masa pandemi.

Rizki Aji adalah orang pertama yang saya ajak berbincang. Guru sejarah di SMA Future Gate Bekasi ini menyebut bahwa pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi tidak mengenakkan.

“Mengajar via daring itu ibarat seorang pembalap MotoGP yang seharusnya main di kelas 1000 cc terpaksa main di Superbike 250 cc. Mungkin substansi mengajarnya sama, tapi kedekatan dengan siswa, prinsip untuk menanamkan karakter, kepribadian, dan adab sebagai asas pendidikan menjadi hilang,” ujar Rizki.

Meski begitu, Rizki tidak menampik sejumlah dampak positif pembelajaran jarak jauh. Misalnya ia jadi memiliki banyak waktu untuk bercengkerama bersama keluarga. Selain itu, sebagai guru ia juga mengaku jadi lebih banyak belajar lagi dan mengulang masa-masa indah saat masih menjadi mahasiswa, salah satunya dengan mengikuti webinar-webinar yang belakangan marak kayak gulali di pasar malam. Wah, tampaknya beliau tipe guru penyayang keluarga dan rajin belajar. Idaman banget.

“Kendalanya ada di waktu, sulit mengatur prioritas waktu saat di rumah. Ketika (proses mengajar bisa dilakukan) di rumah, pikiran jadi bukan tentang mendidik semata,” kata Rizki.

“Macam-macam pikirannya. Kadang-kadang melihat kok ada yang nggak beres sama saklar, dapur, kamar mandi, pipa toilet, hingga gembok pagar. Waduh, jadi banyak banget yang harus diurus.”

Yunita, guru di SMPN 10 Bengkulu Tengah punya kegelisahan lain soal pembelajaran jarak jauh. “Dalam hal penyampaian materi pelajaran, umpan balik siswa masih jauh dari harapan. Banyak kendalanya. Mulai dari sinyal yang kadang-kadang kurang bagus, keterbatasan kuota internet, memori ponsel yang tiba-tiba penuh, banyaknya siswa yang tidak memiliki gawai, hingga anak-anak dan orang tua yang tidak kooperatif dengan tugas-tugas sekolah.”

Ia menuturkan reaksi para anak didiknya mengenai pembelajaran jarak jauh amat beragam. Ada yang antusias, ada yang sering curhat merindukan belajar seperti biasa, dan ada juga yang kegirangan karena bisa belajar santai di rumah.

“Nah, kabar baiknya, pembelajaran jarak jauh ini memberikan saya kesempatan untuk lebih dalam mempelajari dan memahami penggunaan teknologi informatika yang sebelumnya tak terlalu saya pedulikan. Misalnya, saya jadi mempelajari penggunaan Google Classroom. Bagi saya yang terbiasa dengan pembelajaran konvesional, itu menjadi wawasan baru yang cukup berharga,” sebut Yunita.

Sementara itu, Firdaus Rahmatullah, seorang guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Panarukan Situbondo mengaku pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi penuh dengan tantangan.

Iklan

“Saya jadi mempelajari berbagai macam aplikasi untuk PJJ. Itu menjadi tantangan tersendiri buat saya. Adapun halangannya juga macam-macam, mulai dari koneksi internet yang lemot, rumah siswa yang tidak terjangkau internet, hingga ada siswa yang tidak punya gawai atau punya gawai tapi tidak mampu membeli kuota internet.”

Terkait peran pemerintah untuk menyokong pembelajaran baru ini, Firdaus mengatakan pihak pemerintah setempat sebatas menyediakan subsidi pulsa untuk membeli kuota internet. Tapi, itu pun tak seberapa.

Soal partisipasi siswa, Firdaus menyebut masih ada siswanya yang kaku dalam menghadapi PJJ ini. “Ya, karena mereka baru mengenal PJJ seperti ini, dan tak sedikit juga yang tak acuh.”

Saat saya mengajukan pertanyaan soal mana yang akan mereka pilih, apakah mereka lebih sreg dengan pembelajaran jarak jauh atau metode pembelajaran tatap muka seperti biasa; Rizki dan Yunita lebih suka metode pembelajaran tatap muka.

“Tentu saja pembelajaran tatap muka lebih efektif digunakan. Dengan tatap muka semua aspek pembelajaran, baik pengetahuan, keterampilan, dan aspek sikap dapat diukur,” kata Yunita.

Adapun Firdaus berpendapat lain. “Sesuai sikon saja. Kita harus adapatif, sesuai tuntutan zaman. Belajar dan belajar lagi. Salah satu hikmah pandemi kita jadi mengenal istilah PJJ beserta aplikasi-aplikasi pendukungnya,” ucap guru yang juga aktif menulis puisi dan cerpen di berbagai media itu.

Pada akhirnya pembelajaran pada masa pandemi menyajikan tantangan bagi seluruh elemen, mulai dari pemerintah, siswa, orang tua, hingga guru-guru di berbagai penjuru negeri yang kemampuan dan latar belakangnya berbeda-beda.

Namun, berhubung kita tinggal di suatu negara berdaulat, bukan di rawa-rawa Planet Namec; patut rasanya kita meminta pemerintah untuk lebih serius dalam mengatasi berbagai sengkarut yang terjadi terkait pembelajaran pada masa pandemi ini.

Kita berharap “merdeka belajar” bukan jadi pencuci mulut belaka, tapi bisa menjadi sesuatu yang betul-betul terwujud. Iya dong, ya, Mas Menteri?

Mengenai peran pemerintah, layak kita simak tanggapan aduhai dari Rizki Aji di sela-sela perbincangan, “Sampai hari ini saya belum bisa melihat peran pemerintah secara signifikan (dalam mendukung pendidikan pada masa pandemi). Listrik makin naik, biaya kuota data tidak bisa dikendalikan, dan penyediaan bahan belajar semisal dalam bentuk PowerPoint yang terstruktur dan integratif pun tidak ada.”

Kemudian ia melanjutkan, “Jadi, saya nggak perlu menyampaikan apa-apa sama pemerintah. Begini aja sudah cukup, saya menjadi pemerintah bagi diri saya sendiri aja. Karena pemerintah yang ada, juga sibuk dengan dirinya sendiri mungkin ya, sama pikirannya kayak saya.”

Mantap betul, Pak.

BACA JUGA Menjadi Guru di Pelosok: Sedikit Lucu, Banyak Nggaplekinya atau tulisan LIPUTAN lainnya.

Terakhir diperbarui pada 9 Agustus 2021 oleh

Tags: coronagurupembelajaran jarak jauhpemerintahsiswa
Erwin Setia

Erwin Setia

Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tinggal di Bekasi. Aktif menulis cerita pendek dan esai.

Artikel Terkait

Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat MOJOK.CO
Esai

Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat

11 Februari 2026
guru, stem, guru honorer, pns.MOJOK.CO
Edumojok

Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM

31 Januari 2026
guru BK.MOJOK.CO
Ragam

Menjadi Guru BK Capek Mental dan “Tak Menghasilkan”, Memilih Resign dan Kerja Kantoran Meski Harus Mengubur Cita-Cita

29 Januari 2026
Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki MOJOK.CO
Esai

Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki

23 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sarjana nganggur diteror info loker di grup WA keluarga. MOJOK.CO

Grup WhatsApp Keluarga Besar Isinya “Teror” bagi Sarjana Nganggur, Sehari-hari Dikasih Info Loker Aneh-aneh

18 Februari 2026
Lulusan S1 UGM bikin skripsi soal perumahan rakyat di Belanda. MOJOK.CO

Skripsi tentang Perumahan Rakyat di Belanda vs Indonesia bikin Saya Lulus dari UGM dengan Predikat Cumlaude

18 Februari 2026
Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
pendatang di jogja.MOJOK.CO

Nasib Menjadi “Pendatang” di Jogja: Selalu Disalahkan Atas Masalah yang Terjadi, padahal Menjadi Sumber Penghasilan Para Akamsi

18 Februari 2026
Omong kosong menua dengan bahagia di desa: menjadi orang tua di desa harus memikul beban berlipat dan bertubi-tubi tanpa henti MOJOK.CO

Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti

21 Februari 2026
Sejahtera ekonomi di Negeri Jiran ketimbang jadi WNI. Tapi berat terima tawaran lepas paspor Indonesia untuk jadi WN Malaysia MOJOK.CO

WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!

21 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.