Inisiatif warga Dusun Kedungrong, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, membuat dusun mereka tetap menyala meski sejumlah wilayah mengalami pemadaman listrik.
Ketika sebagian wilayah di Pulau Jawa sempat mengalami pemadaman listrik pada pertengahan 2026, warga Dusun Kedungrong, Kalurahan Purwoharjo, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, menjalani hari seperti biasa. Lampu rumah tetap menyala, bengkel tetap beroperasi, dan aktivitas warga berlangsung tanpa gangguan.
Pasalnya, warga Kedungrong, Samigaluh, tidak bergantung pada jaringan listrik besar dari PLN. Mereka memanfaatkan aliran air yang mengalir di lereng Perbukitan Menoreh sebagai sumber alternatifnya.
PLTMH: awalnya hanya untuk penerang jalan
Semula, fungsi utama aliran irigasi Kalibawang adalah untuk mengairi lahan pertanian warga setempat. Sampai akhirnya, pada 2009 muncul gagasan dari mahasiswa KKN Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memanfaatkannya sebagai sumber listrik karena melihat besarnya potensi debit air Sungai Kalibawang yang mampu menggerakkan turbin mikrohidro.
Sejak 2012, aliran irigasi Kalibawang akhirnya tidak hanya mengairi lahan pertanian, tetapi juga menjadi sumber energi yang menerangi rumah-rumah warga Kedungrong, Samigaluh, Kulon Progo, melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Kedungrong.
“Awalnya hanya kecil untuk penerangan jalan. Kemudian pada 2012 dibangun lebih baik dengan dukungan masyarakat, pemerintah daerah, Dinas PU ESDM DIY, dan BBWSO. Akhir November 2012 mulai beroperasi dan sampai sekarang alhamdulillah masih terus berjalan serta dikelola secara swadaya oleh warga melalui KMTI PLTMH Kedungrong,” tutur Ketua Pengelola PLTMH Kedungrong, Sumberini atau yang akrab disapa Rini, kepada Humas Pemda DIY, Selasa (30/6/2026).
PLTMH Kedungrong pun kini mampu melayani sekitar 50 kepala keluarga. Daya listrik sebesar 18 kilowatt yang dihasilkan bisa mencukupi kebutuhan penerangan rumah dan sekitar 30 titik lampu jalan. Selain itu juga menopang berbagai aktivitas ekonomi warga. Mulai dari bengkel, pertukangan kayu, usaha jahit, laundry, salon, hingga usaha pembuatan es kristal. Sehingga warga tidak bingung-bingung jika ada pemadaman listrik bergilir.
Dikelola warga Kedungrong, Samigaluh, secara swadaya dari iuran Rp12 ribu
Rini menjelaskan, pembangkit listrik ini dikelola secara swadaya oleh warga melalui Komunitas Mikrohidro Terpadu Indonesia (KMTI) Kedungrong. Pengelolaannya dilakukan secara mandiri dengan dukungan iuran perawatan yang terjangkau dari masyarakat.
Setiap keluarga secara rutin membayar iuran Rp12.000 setiap 35 hari untuk mendukung operasional dan pemeliharaan pembangkit. Kesadaran kolektif inilah yang membuat PLTMH Kedungrong mampu bertahan dan terus beroperasi selama 14 tahun.
“Waktu kemarin terjadi pemadaman listrik di Jawa, dusun kami tetap terang. Bahkan banyak warga tidak tahu kalau ada pemadaman karena listrik mikrohidro tetap berjalan. Selama aliran air lancar, listrik kami aman,” ujar Rini.
Pemeliharaan bikin sistem bekerja optimal
Didorong kesadaran betapa vitalnya keberadaan PLTMH tersebut, maka pemeliharaan rutin pun dilakukan oleh warga setempat terhadap PLTMH Kedungrong.
Teknisi PLTMH Kedungrong, Rejo Handoyo, menjelaskan sistem mikrohidro memanfaatkan aliran air yang dialihkan melalui sodetan menuju bak penampungan sebelum masuk ke turbin. Putaran turbin kemudian menggerakkan generator yang mengubah energi mekanik menjadi energi listrik untuk dialirkan ke rumah-rumah warga.
“Dari saluran irigasi kami membuat sodetan untuk menampung air dengan kapasitas sekitar 800 hingga 1.500 meter kubik. Air kemudian diatur masuk ke turbin sesuai kebutuhan. Ketika turbin berputar, energi mekanik diteruskan ke generator dan diubah menjadi energi listrik yang kemudian disalurkan ke rumah-rumah warga,” jelas Rejo.
Menurutnya, teknologi mikrohidro menunjukkan bagaimana potensi lokal dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Saat ini PLTMH Kedungrong menggunakan dua generator berkapasitas 18 kW yang dioperasikan secara bergantian.
“Selama debit air mencukupi dan saluran terjaga dengan baik, listrik akan terus mengalir. Karena itu kami bersama warga rutin melakukan pemeliharaan agar sistem tetap bekerja optimal,” tambah Rejo.
Semangat handarbeni jadi alasan bertahan saat pembangkit mikrohidro di daerah lain berhenti beroperasi
Dukuh Kedungrong, Suprihatin menegaskan keberadaan PLTMH telah memberikan rasa aman sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Kami sangat terbantu. Masyarakat tidak lagi khawatir jika ada pemadaman listrik. Bahkan banyak warga tidak tahu kalau ada pemadaman karena listrik di sini tetap menyala. Ini semua karena masyarakat ikut menjaga dan merasa memiliki,” ungkapnya.
Semangat handarbeni atau rasa memiliki itulah yang membuat PLTMH Kedungrong tetap bertahan ketika banyak pembangkit mikrohidro di berbagai daerah berhenti beroperasi. Warga tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga penjaga keberlangsungan energi yang mereka nikmati bersama.
PLTMH Kedungrong juga berkembang menjadi ruang belajar terbuka yang menarik perhatian banyak kalangan. Mahasiswa, peneliti, hingga pelajar dari berbagai daerah datang untuk melihat secara langsung bagaimana energi air dapat diubah menjadi listrik.
Bahkan sejumlah perguruan tinggi, termasuk dari luar negeri, pernah melakukan kunjungan untuk mempelajari model pengelolaan energi berbasis masyarakat yang diterapkan di Kedungrong.
Sumber: Humas Pemda DIY
BACA JUGA: Memanen Hujan dari Tanah Gersang, Belajar Memelihara dari Masa Lalu untuk Masa Depan Manusia atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
