Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Ingin Ikan Sungai Bervariasi dan Alasan Lain di Balik Pelepasan Ikan Invansif

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
22 Februari 2021
A A
Salah satu ikan invansif, aligator yang ditemukan di sungai di Jogja
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tidak semua makhluk hidup dikaruniai kemampuan travelling ke berbagai belahan dunia. Kalau ada ikan invansif dari benua lain kok tiba-tiba ada di sungai dekat rumahmu,  tentu berkat bantuan agen travel gratis, yakni manusia.

Bukan hanya ikan dari benua lain, hampala misalnya, ikan ini hidupnya di hilir Sungai Opak tapi menurut Stasiun Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu dan Keamaanan (SKIPM) Yogyakarta belakangan ini sering ada laporan pemancing yang menemukannya di hulu. “Mereka nyamannya di perairan hilir dan ekosistemnya bagus di sana, kalau dipindah ke hulu ya nanti ikan lain di sana lama-lama habis,” jelas Kepala SKIPM Hafit Rahman, didampingi Koordinator Pengawasan Pengendalian Informasi Haryanto.

Tak hanya jadi obrolan warga Jogja, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti bahkan turut mengingatkan agar para penghobi binatang liar yang sudah tak mau mengurusi agar diberikan ke instansi yang berwenang. Hal itu disampaikan lewat akun Twitter @susipudjiastuti, merespon berita tentang penangkapan aligator di Jogja.

Yg punya hobby koleksi binatang liar .. apapun itu kalau kalian sudah tidak mau urus berikan ke dinas lingkungan atau musnahkan. Trmksh

— Susi Pudjiastuti (@susipudjiastuti) February 21, 2021

Dari sejumlah wawancara, saya menemui beberapa alasan mengapa orang melepasliarkan ikan di habitat yang bukan semestinya.

Ongkos Memelihara Ikan Predator itu Mahal

Ikan predator seperti aligator mempunyai porsi makan yang cukup banyak. Tentu makanan yang berprotein tinggi. Biasanya diberi makan jangkrik, ikan jenis lain, hingga daging ayam. Herdy Herlambang Saputra (22) mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII), enam bulan lalu membeli seekor aligator jenis spatula berukuran sekitar 10 cm seharga 15 ribu rupiah.

Kini ikan peliharan yang dulu diletakkan di akuarium harus dipindah ke kolam karena sudah tumbuh mencapai panjang 50 cm. Berbagai pakan ia berikan, mulai dari jangkrik, ikan kecil, hingga kini bangkai ayam. “Untung di dekat tempatku memelihara ada peternakan ayam, jadi bangkai ayam yang mati bisa dimanfaatkan secara gratis,” ungkapnya pada Sabtu (20/2). Ia mengaku dua pekan terakhir menghabiskan dua ekor ayam mati berukuran masing-masing dua kilogram untuk seekor aligator tersebut.

Bagi mereka yang tak seberuntung Herdy yang dekat dengan kandang ayam sepertinya perlu merogoh kocek lebih untuk memberi makan peliharannya. Hobi ikan predator itu tak cuma butuh cinta, tapi juga duit.

Ongkos Besar, Harga Jual Minim

“Itu channa yang besar berapa harganya Pak?” sambil menunjuk channa berukuran kisaran 40 cm , “Empat juta mas.” Jujur saya kaget mendengar harga jual channa yang sedang begitu tinggi. Namun hal yang sama tak berlaku bagi beberapa predator lain, seperti aligator. Menurut penjual ikan bernama Koko (29) tersebut, sedang tak ada yang menjual aligator di Pasty. Pasalnya harganya kini tergolong murah.

Dulu, orang tua Koko pernah menjual seekor aligator berukuran sekitar 50 cm dengan harga satu jutaan. “Dulu tahun 2005-an itu masih mahal, sekarang dengan ukuran yang sama, paling harganya 100-200 ribu Mas,” tambah Koko.

Saya lalu pindah ke deretan ruko penjual ikan di Muja Muju, Umbulharjo, Jogja dan akhirnya menemukan lapak yang menjual aligator. Di sana, untuk ukuran 40-an cm dibanderol dengan harga 200 ribu dan ukuran 15 cm 25 ribu. Saya yakin, itu masih bisa ditawar. Sebab dari beberapa penjual di komunitas pecinta ikan predator di Facebook saya melihat harga jual yang lebih miring. A1 (kode untuk harga 100 ribu) iseh susuk, banyak tertera di unggahan penjual aligator ukuran serupa.

Kepala SKIPM Hafit Rahman mengatakan contoh ikan invasif yang awalnya dalah ikan hias dengan harga mahal adalah ikan louhan. Kini ikan tersebut menjadi ikan sungai yang keberadaanya ditemukan juga di perairan tawar di sekitaran Jawa Tengah dan Jogja.

Tidak Sengaja Terlepas

Risiko ikan predator lepas ke perairan bebas seperti sungai kerap muncul dari pemancingan. Menurut SKIPM hal itu terjadi karena pemancingan sering tak memiliki saluran pembuangan yang baik.

Tak jarang memang pemancingan yang menyediakan ikan predator untuk memanjakan para pengunjungnya. Oleh karenanya salah satu fokus SKIPM adalah sosialisasi ke berbagai pemancingan agar memperketat standar-standarnya. “Ikan walau di pemacingan kan kadang beranak pinak Mas, jadi yang kecil-kecil itu bisa lepas lewat saluran-saluran itu,” jelas Hafit Rahman.

Menambah Keanekaragaman Ikan di Sungai

Untuk hal ini, petugas SKIPM sudah mewanti-wanti sejak lama. Tidak sembarang ikan dapat dimasukkan ke perairan tertentu dengan dalih menambah variasi ikan di sungai. Alih-alih ikannya tambah beragam, memasukkan sembarang ikan justru bisa mengancam populasi ikan asli wilayah itu.

Ada banyak pihak yang mungkin melakukan pelepasan ikan dengan dalih tersebut, mulai dari pemelihara yang sudah bosan, hingga pemancing yang sengaja ingin populasi jenis ikan tertentu bertambah di suatu lokasi.

“Kalau penghobi yang sudah pengalaman itu biasanya paham bahwa ikan invansif tak boleh dilepaskan ke sungai, tapi yang penghobi dadakan ini sering belum teredukasi. Kalau pemancing, mungkin ada yang ingin jenis tertentu terutama predator agar ada di spot memancing favoritnya, mancing predator kan ada sensasinya,” tambah Kepala SKIPM.

SKIPM dan beberapa instansi terkait lain masih berupaya melakukan berbagai langkah preventif maupun tindakan pengurangan ikan invansif di perairan Jogja. Kini mereka sedang fokus memperluas pemetaan eksistensi ikan invansif di beberapa lokasi selain Waduk Sermo. Juga berupaya berkolaborasi dengan masyarakat melalui program khusus.

Iklan

Terakhir, bagi mereka yang sudah jenuh dengan ikan predator dan invansif peliharaan dan kesusahan dalam menjual, SKIPM menyatakan selalu terbuka bahkan siap menjemput ke rumah pemelihara ikan. “Nantinya, dengan persetujuan pemilik, ikan tersebut bisa dimanfaatkan untuk keperluan edukasi, saat ini stok seperti ikan aligator yang diawetkan masih kurang,” tutup Hafit.

Baca Juga Tulisan Susul : Teror Ikan Predator dan Invasif yang Mengancam Penghuni Sungai Jogja

 

[Sassy_Social_Share]

Terakhir diperbarui pada 22 Februari 2021 oleh

Tags: ikanikan invansifilan predatormancingSusi Pudjiastuti
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Iwak Kali Bu Jasman, Hidden Gems Langganan Emha yang Ramainya Pernah Kalahkan Soto Kadipiro MOJOK.CO

Iwak Kali Bu Jasman, Warung Langganan Emha Ainun Najib yang Ramainya Pernah Kalahkan Soto Kadipiro

31 Januari 2024
Pasar Ikan Higienis, Proyek Nasional yang Gagal Hidupkan Ekonomi Jogja Selatan  MOJOK.CO

Pasar Ikan Higienis, Proyek Nasional yang Gagal Total Hidupkan Ekonomi Jogja Selatan 

31 Januari 2024
pasar ikan giwangan atau jogja fish market mojok.co

Mengenang Pasar Ikan Giwangan yang Mati Total sebelum Jadi Besar

12 Agustus 2023
Cek Ombak Anies Baswedan-Susi Pudjiastuti, Hingga Sejauh Mana Kapal Mereka Berlayar?

Cek Ombak Anies Baswedan-Susi Pudjiastuti, Hingga Sejauh Mana Kapal Mereka Berlayar?

8 Agustus 2023
ikan wader major.co

Guru Besar UGM: Ikan Wader Rentan Punah, Kok Bisa? 

10 Mei 2023
kuota penangkapan ikan mojok.co

Potensi Perikananan di Indonesia Menurun, Kuota Penangkapan Ikan Nelayan Dibatasi

27 Februari 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

17 Agustus 2026
Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026
Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026
Pameran foto dalam Pesta Rakyat Jogja guna memeriahkan acara HUT ke-81 RI. MOJOK.CO

Potret Warga Jogja: Asyik “Pesta” Saat Pejabat sedang Upacara HUT ke-81 RI di Gedung Agung

17 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.