Indomaret Tak Akan Pernah Bisa Mengancam Toko Kelontong, kalau Ada Pemilik Toko Bilang Indomaret Bikin Bangkrut, Itu Salah Mereka Sendiri

Indomaret Tak Akan Pernah Bisa Mengancam Toko Kelontong, kalau Ada Pemilik Toko Bilang Indomaret Bikin Bangkrut, Itu Salah Mereka Sendiri

Indomaret Tak Akan Pernah Bisa Mengancam Toko Kelontong, kalau Ada Pemilik Toko Bilang Indomaret Bikin Bangkrut, Itu Salah Mereka Sendiri

Isu Indomaret vs toko kelontong seperti tiada habisnya. Banyak yang bilang bahwa keberadaan minimarket terbesar di Indonesia ini mengancam keberadaan usaha rakyat. Dagangan lengkap, tempat nyaman, bersih, dan menarik, jadi senjata yang kerap dianggap bisa menggilas toko kelontong. Wajar jika berpikir seperti itu.

Per November 2022, dilansir dari situs Indomaret, ada 21.026 gerai jaringan minimarket ini di Indonesia. Tersebar di Jawa, Bali, Madura, Nusa Tenggara Barat, Sumatera, Batam, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Sorong-Papua. Jumlah yang jelas fantastis, dan bagi banyak orang, jadi fakta yang tragis.

Gerai ini akan jelas bertambah selama beberapa waktu ke depan. Tak susah, meski tak murah. Bagi pemilik toko kelontong, ini bisa jadi ancaman yang tak bisa diremehkan. Rezeki memang tak tertukar, tapi toko sekecil itu melawan korporasi raksasa, tetaplah bukan hal yang mudah. Tak mengagetkan, jika satu Indomaret yang berdiri menghancurkan beberapa toko kelontong yang ada di sekitarnya.

Tapi, benarkah toko kelontong selalu kalah melawan Indomaret?

Ardi, pemilik toko kelontong di Pakem, Sleman, justru berkata sebaliknya.

Amati, tiru, modifikasi

Ardi, saat saya wawancarai pada 5 Maret 2024, bilang secara gamblang bahwa dia tidak setuju kalau toko kelontong akan mati gara-gara Indomaret. Dia bilang, bahwa itu semua tergantung toko kelontongnya, mau mengikuti zaman atau tidak.

“Ini semua tinggal toko kelontongnya mau mengikuti zaman atau tidak. Misal, penataan display yang bagus, tokonya bersih, dan pelayanan harus ditingkatkan. Justru karena ada Indomaret itu, mereka bisa meniru strateginya dan meraup untung dari itu. Bedanya kan cuman nggak ada AC dan ATM, selain itu ya, kelontong dan Indomaret itu sama saja.”

“Kalau ada cerita minimarket menghancurkan toko kelontong, ini juga nggak bisa diterima secara mentah-mentah. Mungkin aja orang-orang nggak mau dateng ke warung yang berantakan, nggak rapi, mungkin aja pelayanannya juga buruk. Barang-barang cuman digantung, kan ngganggu. Kalau kasusnya gitu, ya Indomaret jelas menang.”

Ardi menekankan, bahwa bisnis itu tidak mungkin lepas dari pesaing. Jadi alih-alih menyalahkan pihak yang lebih maju, dia memilih untuk memperbaiki tokonya dari segala aspek. Toh, yang untung nanti juga tokonya.

“Indomaret itu ada izinnya, ada aturannya, jadi mereka tidak bisa dibilang mengancam. Secara aturan, mereka boleh berdiri. Mereka bukan pesaing yang jahat, secara aturan ada kok.”

Justru untung karena Indomaret

Indomaret, secara tidak langsung, memberikan keuntungan untuk toko kelontong. Tinggal tiru bagaimana minimarket menjalankan bisnisnya, dan gas.

“Di warungku, aku ganti rak display yang bagus. Bekas nggak apa-apa, punyaku bekas kok. Terus warungku dijaga kebersihannya, sama penerangannya diperbaiki. Harus terang. Plus, pembukuannya kudu bagus.”

“Modale juga gede sih. Tapi, kan nanti warungnya yang untung?”

“Warung juga kudu punya strategi, Mas. Nggak mungkin jualan modal percaya.”

Selain keuntungan dari meniru display dan bagaimana mereka berjualan, ada satu hal yang toko kelontong bisa lakukan, tapi Indomaret hampir tak mungkin bisa, yaitu kedekatan penjual dengan pembeli.

“Bapakku pernah menanyai pembeli yang jelas orang kaya, kenapa dia nggak belanja saja di Indomaret. Pembelinya berkata, nggak mau belanja di Indo karena nggak bisa ngobrol sama pegawainya. Kayak gini penting lho, Mas.”

Baca halaman selanjutnya

Strategi melawan korporasi

Strategi melawan korporasi

Sebenarnya banyak strategi yang bisa diimplementasi oleh toko kelontong agar bisa survive melawan korporasi. Ardi mengakalinya dengan mengubah jam operasi. Jika toko pada umumnya buka dari pagi hingga malam, Ardi justru baru buka toko sore hingga dini hari.

Strategi ini berhasil karena dia berhasil memanfaatkan celah bahwa di Sleman, Indomaret (katanya) wajib tutup jam 10. Saya kira awalnya ini imbas pandemi, tapi katanya juga sudah jadi aturan wajib. Entah wajib atau tidak, bagi warga Jogja pasti tahu bahwa memang jam segitu kebanyakan Indomaret sudah tutup.

Selain itu, dia menyarankan untuk menekan keuntungan. Tidak perlu untung besar, tapi perputaran uangnya kencang. Hal ini tentu saja kudu ditunjang dengan pembukuan yang bagus. Biar bisa dilacak.

Memang ini langkah bakar duit di awal, tapi jika sudah stabil, keuntungan masuk dengan sendirinya.

Memang akan bangkrut

Saya kembali menanyakan, adakah toko yang benar-benar bangkrut karena Indomaret. Ardi bilangnya Indomaret hanya mempercepat toko tersebut bangkrut, bukan jadi faktor utama. Sebelum ada minimarket besar, memang toko tersebut sudah sepi dan tidak memberikan kenyamanan.

Jadi ya, minimarket besar justru tidak ada efeknya sama sekali ke omzet para pengusaha toko kelontong. Kalau memang tidak serius dalam menggarap, ya bakal kalah.

“Jika pemilik toko nggak pengin berubah, nggak pengin memajukan toko sendiri, ya bakal kalah melawan Indomaret. Jadi kalau bilang minimarket besar merusak toko kecil, itu menurutku alasan aja.”

“Warung juga kudu punya strategi, Mas. Nggak mungkin jualan modal percaya.”

***

Korporasi besar vs usaha rakyat adalah cerita menyedihkan, menyebalkan, sekaligus menarik. Kita akan disuguhi betapa tak berdayanya rakyat, betapa menyebalkannya polah pihak penguasa, dan, tentu saja kita betah menontonnya karena kita menaruh harapan, bahwa David, akan menang melawan Goliath.

Dan pada cerita korporasi vs rakyat kali ini, rakyat menang.

Reporter: Rizky Prasetya
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Rahasia Warung Madura Berani Head to Head dengan Indomaret dan Alfamart

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Exit mobile version