Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Histori

Sejarah 3 Bandara Yogyakarta, Salah Satunya Nyaris Terlupakan

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
12 Desember 2023
A A
Bandara Yogyakarta.MOJOK.CO

Salah satu sudut Bandara YIA (Dicky Satria/Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jika berbicara bandara Yogyakarta, mungkin kebanyakan hanya tahu ada dua dalam sejarah. Keduanya yakni Adisutjipto dan Yogyakarta International Airport (YIA). Namun, sebenarnya ada lapangan terbang lain yang pernah eksis di wilayah ini sebelum keduanya hadir.

Puluhan tahun Adisutjipto menjadi bandara satu-satunya di Yogyakarta. Melayani semua penerbangan domestik dan internasional sampai akhirnya perannya tergantikan oleh YIA pada 2020 silam.

Dahulu, Bandara Adisutjipto bernama Bandara Maguwo. Pembangunan bandara tersebut atas inisisasi pemerintah kolonial pada 1939-1941. Pembangunan ini berada di berdiri di tanah bekas perkebunan tebu milik Pabrik Gula Wonocatur yang bangkrut pada 1937.

Peresmian Bandara Maguwo ditandai penanaman pohon oleh Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 13 Agustus 1941. Mulanya, Bandara Baguwo menjadi basis militer udara Belanda, beralih menjadi pangkalan udara landasan pesawat-pesawat Jepang, sampai akhirnya menjadi basis perjuangan AURI pada masa awal kemerdekaan.

Tak heran jika pada Agresi Militer Belanda II, bandara tersebut menjadi sasaran pengeboman pasukan Belanda. Di sana, banyak pesawat peninggalan Jepang yang saat itu digunakan oleh AURI.

Lapangan terbang Sekip UGM yang terlupakan

Namun, sebelum bandara Yogyakarta Adisutjipto berdiri, pernah ada lapangan terbang yang eksis terlebih dahulu. Keberadaannya kini hampir terlupakan karena memang kawasannya sudah berubah total.

Lapangan terbang pertama di Yogyakarta itu terletak di kawasan Sekip, UGM. Saat ini, area itu sudah menjadi kompleks gedung-gedung perkuliahan.

Saat itu status lapangan terbang Sekip adalah landingsterrein atau landasan rumput. Landasan itu punya dimensi sepanjang 620 meter dengan lebar 220 meter dengan alas tanah rata dan rerumputan. Kendati begitu, tetap cocok untuk sejumlah pesawat yang ML-KNIL gunakan saat itu.

Pendaratan pertama pesawat di Bandara Sendowo terjadi pada Jumat, 4 Agustus 1927 pagi. Tiga pesawat De Havviland DH 9 dengan nomor registrasi H.120, H.126, dan H.130 F resmi mendarat di sana. Aga berpendapat, hari itu menandai pertama kalinya ada landasan udara di Yogyakarta.

Saya sempat mencoba mengunjungi kawasan yang dulunya menjadi bandara di Yogyakarta tersebut. Mencoba bertanya kepada beberapa warga untuk mengetahui secuil sejarahnya. Namun, sedikit sekali warga di sekitar sana yang punya memori tentang sejarah yang pernah ada.

Kepala Padukuhan Sendowo, Sudarno (54), bercerita kalau ia lebih ingat kawasan itu sebagai bekas lapangan tembak. Jejak lapangan terbang memang sudah tidak ada di tahun 1970-an saat Sudarno kecil. Saat itu, salah satu titik yang ia ingat adalah sebuah gundukan tanah yang dulunya menjadi lapangan tembak.

“Dulu sebelum tidur kadang diceritakan soal lapangan terbang dan lapangan untuk latihan menembak tentara kolonial Belanda,” kenangnya saat saya temui, Jumat (18/8/2023).

Gundukan tanah mirip bukit dulunya terletak di utara Fakultas Kedokteran Gigi. Gundukan tanah itu ia sebut sebagai “gumuk”. Pada era 1970 sampai akhir 1980-an, tumbuhan memadati atas gundukan itu.

Sejumlah sumber menyebut bahwa penamaan Sekip berasal dari kata schietschijf yang berarti sasaran tembak. Kawasan itu menjadi titik lapangan yang biasa serdadu gunakan untuk melatih kemampuan menembaknya. Kawasan sekitar lapangan tembak itu yang akhirnya sempat menjadi lokasi landasan pesawat.

Iklan

Baca selanjutnya…

Akhir riwayat lapangan terbang Sekip UGM

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 12 Desember 2023 oleh

Tags: adisutjiptobandara yogyakartasekip ugmYIA
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Menikmati Layanan Baru Mobil Listrik Gojek di Bandara YIA: Cepat, Aman, Nyaman, dan Cocok Untuk Perjalanan Wisata.MOJOK.CO
Ragam

Menikmati Layanan Baru Mobil Listrik Gojek di Bandara YIA: Cepat, Aman, Nyaman, dan Cocok Untuk Perjalanan Wisata

11 Oktober 2024
ugm jogja.MOJOK.CO
Ragam

Sisi Lain Area UGM yang Tak Banyak Diketahui, Bekas Lapangan Terbang Pertama Jogja dan Gedung Mangkrak Bersengketa

18 April 2024
Mencari Jejak Lapangan Terbang Sekip UGM yang Eksis Sebelum Adisutjipto MOJOK.CO
Liputan

Mencari Jejak Lapangan Terbang Sekip UGM yang Eksis Sebelum Adisutjipto

19 Agustus 2023
Aktivitas Sesar Opak Bantul Meningkat, BMKG Sebut Bandara Yogyakarta Jadi Tempat Perlindungan Teraman. MOJOK.CO
Kilas

Aktivitas Sesar Opak Bantul Meningkat, BMKG Sebut Bandara Yogyakarta Jadi Tempat Perlindungan Teraman

2 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Ketika Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa MOJOK.CO

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?

19 Januari 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

20 Januari 2026
Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Adalah Daihatsu Sigra MOJOK.CO

Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat

20 Januari 2026
2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
sate taichan.MOJOK.CO

Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

20 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.