Menjadi pemain sepak bola tarkam di Wonosobo, meski bukan berlabel pemain liga, ternyata hasilnya lumayan. Cukup untuk tambahan biaya semasa kuliah sehingga tidak sering-sering meminta uang dari orang tua. Lebih dari itu, dari sana ternyata bisa membuka peluang tahap demi tahap ke sepak bola profesional.
***
Di masa merantau—menjadi mahasiswa teknik di sebuah PTN di Magelang, Jawa Tengah—Dika (21) merasa betapa cepat isi dompetnya terkuras. Bahkan, belum genap satu tahun masa perkuliahan, Dika sempat menyesali pilihannya untuk kuliah sekaligus merantau tersebut.
Sebagai mahasiswa teknik, tidak jarang Dika harus keluar uang untuk praktikum. Selain itu, isi dompet Dika juga harus ditujukan untuk biaya hidup sehari-hari di perantauan: dari biaya indekos, bensin, indekos, dan lain-lain.
Sampai akhirnya Dika mendapat tawaran “kerja part time”: menjadi pemain sepak bola tarkam. Awalnya Dika ragu mengambil tawaran tersebut. Namun, setelah mencoba sekali pertandingan, ia justru ketagihan dengan upah sebagai pemain tarkam.
Sekali main sepak bola tarkam di Wonosobo, upahnya tak main-main
Dika memang sudah akrab dengan si kulit bundar sejak kecil. Berbagai kejuaraan tingkat sekolahan pun pernah ia cicipi. Sedari itu pun Dika memupuk mimpi menjadi pemain sepak bola profesional.
Akan tetapi, semenjak duduk di bangku kuliah, mimpi tersebut justru perlahan redup. Ia tidak menemukan ruang untuk terus mengasah skill-nya. Terlebih, kampusnya juga tidak memiliki UKM sepak bola sebagaimana kampus-kampus lain.
Kesibukan Dika sebagai anak kuliahan pun semakin mengaburkan mimpi Dika, sehingga sepak bola pada akhirnya menjadi tidak lebih dari sekadar hobi. Tarkam kemudian menjadi kanal Dika menyalurkan hobi, terlebih kampung halamannya adalah salah satu wilayah tarkam paling bergengsi: Wonosobo, Jawa Tengah. Bukan sekadar main bola, tapi harus bermain secara kompetitif dan ada bayarannya.
“Pertama kali tarkaman waktu masih maba (mahasiswa baru). Waktu libur semesteran,” kata pemain yang berposisi sebagai bek tengah itu saat berbincang dengan Mojok, Selasa, (29/09/2026).
“Lumayan lah, upah dari juragan yang bawa aku sekitar Rp300 ribuan. Belum saweran dari penonton. Jadi Rp500 ribu ada kali dalam sekali pertandingan,” jelasnya.
Tentu jangan disamakan dengan bayaran pemain berlabel liga. Jika merujuk laporan Bola.com, turnamen Cibinong Cup sebagai salah satu tarkam paling bergengsi di kawasan Jabodetabek membayar pemain Liga 1 atau Liga 2 di kisaran angka Rp3 juta sampai Rp5 juta perpertandingan. Bahkan untuk pemain legend seperti Cristian Gonzales, angkanya bisa lebih fantastis: Rp25 juta perpertandingan.
Sementara bagi Dika, bayaran yang ia terima—untuk ukuran mahasiswa—sudah sangat ia syukuri. Apalagi, saat itu, ia terhitung kerap diminta oleh “juragan” sebuah klub tarkam untuk main.
“Dulu tiap bulan pasti ada aja tawaran (main tarkam). Paling banyak sebulan bisa lima kali dan kebanyakan mainnya di weekend,” ungkap Dika.
“Bersyukur dari tarkaman aku bisa nabung dan beli laptop baru buat kuliah. Sering juga uangnya aku pakai buat makan-makan sama keluarga,” sambungnya.
“Dibekingi” dukun jadi hal lumrah di turnamen sepak bola tarkam
Meski dengan bayaran “menggiurkan” (dalam ukuran Dika), tapi bermain sepak bola tarkam tidak sesederhana bermain bola semata. Justru, level tarkam menyajikan tensi tinggi karena gengsi besar antar-kesebelasan.
Karena itu, demi menjaga gengsi masing-masing, sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap kesebelasan menggunakan bekingan dukun demi mengangkat piala.
“Kejadian waktu tarkaman di Pemalang, timku waktu itu dikasih air mineral yang 1,5 liter, disuruh minum sama mbah-mbah dukun sambil baca doa-doa gitu lah,” jelas Dika.
“Percaya nggak percaya, setelah kejadian itu tim lawan jadi susah ngegolin dan full time timku menang 1-0,” ungkap pemain yang mengidolakan Paolo Maldini itu. “Jadi selain adu taktik dua kesebelasan, tarkam juga jadi ajang adu sakti para dukun.”
Laga tersebut memang berlangsung sengit. Kedua tim saling jual beli serangan. Namun, tensi tinggi yang terjadi selama 90 menit terbayat tuntas karena bayaran yang membuat Dika bisa membayar kosan dan makan enak di akhir bulan.
Risiko cedera tinggi yang harus diperhitungkan
Sepak bola tarkam memang terkenal keras. Mereka yang bermain tak segan-segan untuk menekel lawan. Tak jarang cedera parah dialami oleh para pemain tarkam setelah 90 menit penuh gaprak-gaprakan.
Untungnya, ketakutan terbesar bagi sebagian pemain tarkam itu tidak dialami oleh Dika. Ia bersyukur karena selama bermain tarkam ia lebih sering bertemu dengan lawan yang tidak bertipikal kasar. Karena memang ada tipikal pemain yang sengaja mengincar kaki lawan, sengaja ingin mencederai.
“Alhamdulillah selama main tarkam ga pernah cedera yang parah. Sekeras-kerasnya match yang aku mainin paling engkel doang yang kena. Cedera ringan lah,” ujar Dika.
“Mungkin karena pemain-pemain yang aku temui pada sadar kalau lagi sama-sama cari uang di sini (tarkam),” tambahnya.
Meski begitu, lama-lama Dika keder juga. Selama ini memang ia masih aman. Tapi tidak menutup kemungkinan suatu hari ia akan mengalami cedera parah karena ditarget oleh pemain lawan.
Maka dari itu, belakangan pemain berbadan jangkung itu mulai jarang bermain tarkam. Ya meski ada alasan lain: ingin fokus kuliah karena sudah semester tua.
Dari lapangan tarkam di Wonosobo, dapat tawaran klub Liga 4
Selain soal uang, lapangan tarkam juga memberi berkah lain bagi Dika. Dari sana ia mengenal banyak orang. Bakatnya bahkan dilirik untuk ditarik sebagai punggawa untuk klub Liga 4.
“Liga 4 musim kemarin aku sudah disodori kontrak buat jadi pemain PSIW Wonosobo. Tapi karena jauh dan aku nggak sanggup buat bolak-balik Magelang-Wonosobo karena masih kuliah, jadinya aku urungkan niat gabung,” ujar Dika.
“Belum lama juga ada tawaran buat ikut seleksi di PPSM Magelang. Setelah aku pikir-pikir, karena domisilinya sekarang juga di Magelang, aku putuskan buat ikut dan ternyata lolos. Ya, walaupun belum terikat kontrak tapi aku juga mau step up,” begitu harapan Dika.
Dari mimpi yang sempat redup, perjalanan sebagai pemain sepak bola tarkam justru membuka kembali jalan mimpi Dika sebagai pemain sepak bola profesional. Dimulai dari Liga 4 dulu, siapa tahu, jika skill terus berkembang dan karier terus meningkat tahap demi tahap, kelak ia menjadi salah satu nama yang masuk dalam jajaran pemain Liga 1. Semoga saja. Doakan.
Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Tidar (Untidar) Magelang periode Agustus-November 2026.
Penulis: Al Afnan Mahatta
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Saya Sadar Betapa “Mengerikannya” Judi Bola Tarkam Setelah Mengobrol dengan Bandar Lokal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan