ADVERTISEMENT

Derita Menjadi Sopir Ambulans: Dibangunkan Dini Hari sampai Diantar Pengawal yang Malah Bikin Macet

sopir ambulans

Menjadi sopir ambulans bukanlah perkara mudah. Ada banyak cerita yang jarang dibicarakan termasuk bagaimana rasanya mendapat pengawal ambulans yang malah membuat ruwet.

***

Bagi Untoro (48) *bukan nama sebenarnya, suara telepon pada dini hari tidak selalu berarti kabar buruk. Kadang itu hanya berarti satu hal bahwa ia harus bangun, mengambil kunci ambulans, lalu berangkat mengantar warga.

Padahal, sehari-hari Untoro bukan sopir ambulans. Ia adalah penjual angkringan. Hampir setiap hari waktunya dihabiskan di depan gerobak, melayani pembeli yang datang untuk makan, ngopi, atau sekadar ngobrol. Namun sejak masa pandemi, ia mendapat tugas tambahan “dipasrahi” menjadi sopir ambulans kalurahan.

Awanya cuma karena sering nongkrong di kalurahan

Untoro bercerita, keterlibatannya sebagai sopir ambulans bermula dari kedekatannya dengan beberapa staf kalurahan di Gamping Sleman.

“Awalnya ya karena dekat sama teman-teman kalurahan, mereka juga sering di angkringan saya. Terus saya diminta bantu pegang ambulans,” katanya ketika Mojok temui di angkringannya, Sabtu (05/09/2026).

Tidak ada proses perekrutan yang rumit. Tidak ada seragam khusus yang harus dikenakan setiap hari. Untoro hanya diminta menjadi orang yang bisa dihubungi ketika warga kampung membutuhkan ambulans kalurahan.

Sejak saat itu, nomor teleponnya menjadi semacam nomor darurat versi kampung. Warga yang membutuhkan ambulans bisa menghubunginya. Untoro kemudian mengatur kendaraan dan mengantarkan warga ke rumah sakit atau tujuan lain yang diperlukan.

Masalahnya, panggilan itu tidak mengenal jam kerja. Ketika sedang berjualan angkringan, misalnya, Untoro bisa saja tiba-tiba mendapat telepon. Dagangan yang sedang ramai harus ditinggalkan. Kalau panggilannya datang tengah malam, ia tinggal bangun dan berangkat.

“Pernah dibangunkan pas saya lagi jaga angkringan karena ada yang mau melahirkan, ya mau ga mau langsung pancal saja” ujarnya.

Dari mengantar orang melahirkan sampai mengantarkan jenazah

Cerita Untoro sebagai sopir ambulans tidak melulu soal keadaan darurat yang menegangkan. Ada pula kejadian-kejadian yang kalau diceritakan ulang justru terdengar seperti potongan kehidupan kampung sehari-hari. Pernah ia sedang menjaga angkringan ketika mendapat panggilan. Mau tidak mau, dagangan ditinggal.

“Kalau sudah ada yang membutuhkan ya berangkat. Angkringan ya ditinggal dulu,” katanya.

Namun dari semua perjalanan, mengantar jenazah menjadi pengalaman yang berbeda. Setelah mengantar jenazah sampai rumah, Untoro pulang dan mandi. Tidak lama kemudian tubuhnya terasa panas dingin. Ia demam sampai tiga hari.

Saya kemudian bertanya apakah ia menganggap kejadian itu ada hubungannya dengan jenazah yang baru saja diantarnya. Untoro tidak buru-buru menjawab.

“Ya nggak tahu juga. Bisa saja capek, atau memang badan saya yang lagi kurang fit aja makanya langsung demam” katanya.

Cerita itu berhenti di situ. Tidak perlu ditambahi cerita mistis macam-macam. Bagi Untoro, yang jelas setelah perjalanan tersebut tubuhnya memang tidak enak badan selama beberapa hari.

Ambulans adalah mobil darurat, pengawal jangan malah bikin ruwet

Belakangan, pembicaraan mengenai ambulans juga ramai di media sosial karena munculnya video tentang pengawalan ambulans yang justru dianggap mengganggu perjalanan. Untoro punya pandangan sendiri. Menurutnya, pengawal ambulans memang bisa sangat membantu, terutama ketika kondisi jalan ramai.

“Kalau memang bantu buka jalan ya bagus, apalagi kalau keadaan memang darurat, itu sangat membantu kami,” katanya.

Masalahnya, menurut Untoro, tidak semua pengawalan berjalan seperti itu. Ia pernah membawa seorang anak kecil dari kampungnya yang membutuhkan penanganan darurat ke rumah sakit. Di tengah perjalanan, ambulansnya dibarengi tim pengawal.

Harapannya tentu perjalanan menjadi lebih cepat. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ambulans malah diarahkan melewati jalan yang cukup padat ketika jam pulang kerja. Jalan yang seharusnya bisa dilewati dengan lebih lancar akhirnya membuat perjalanan tersendat.

“Kadang yang harusnya jalan biasa malah dibawa ke jalan yang ramai, akhirnya kena macet, ya memang dapat dibuka jalannya, tapi kan beberapa menit itu bisa kepake kalau lewat jalan lain,” ujarnya.

Bagi orang yang melihat dari luar, mungkin pengawal ambulans terlihat sedang bekerja keras membuka jalan. Namun sopir ambulanslah yang merasakan langsung apakah jalan tersebut benar-benar membantu atau justru membuat perjalanan lebih lama.

Pernah juga mendapat pengawal ambulans yang benar-benar membantu

Untoro tidak ingin pengawal ambulans dianggap selalu buruk. Ia justru punya pengalaman yang berlawanan. Suatu ketika ia mengantar seorang ibu yang hendak melahirkan. Kali ini ia mendapat pengawalan yang menurutnya sangat membantu.

Pengawal tersebut gesit membuka jalan dan memahami situasi. Ambulans bisa bergerak lebih lancar sehingga sampai rumah sakit lebih cepat dari perkiraan. Dari dua pengalaman tersebut, Untoro melihat persoalannya bukan sesederhana “ambulans perlu dikawal” atau “ambulans tidak perlu dikawal”.

“Pengawal itu kadang memang perlu menurut saya. Tapi harus lihat situasi dan kondisi ambulans juga, bukan jalan sudah lancar malah dikawal, jatuhnya nanti bikin tersendat,” katanya.

Menurutnya, niat pengawal pada dasarnya baik. Hanya saja, niat baik tetap perlu dibarengi kemampuan membaca keadaan di lapangan. Sebab pengawal yang merasa sedang membuka jalan belum tentu tahu jalan mana yang sebenarnya paling cepat bagi ambulans.

Sopir ambulans adalah pekerjaan yang jarang dibicarakan

Setelah cukup lama menjadi sopir ambulans kalurahan, Untoro seperti sudah terbiasa dengan kemungkinan meninggalkan angkringannya kapan saja. Ia bisa sedang menuangkan kopi untuk pembeli, lalu beberapa menit kemudian sudah duduk di balik kemudi ambulans.

Ia bisa tidur tengah malam, kemudian terbangun karena ada warga yang membutuhkan bantuan. Ia juga bisa pulang membawa cerita tentang persalinan, perjalanan ke rumah sakit, jenazah, kemacetan, sampai pengawalan ambulans yang membantu atau justru membuat jalan semakin ruwet.

Pekerjaan itu mungkin tidak terlihat istimewa. Untoro juga tidak menjalaninya sebagai pekerjaan utama. Namun justru di situlah menariknya. Di sebuah kalurahan, ada orang-orang yang pekerjaannya tidak selalu tercatat sebagai profesi utama, tetapi sewaktu-waktu harus siap ketika warga membutuhkan.

Untoro tetap seorang penjual angkringan. Tetapi ketika telepon berbunyi dan ambulans dibutuhkan, ia tahu gerobaknya bisa menunggu. Warga yang sedang membutuhkan bantuan tidak selalu bisa.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Cerita Sopir Ambulan yang Hampir Disabet Celurit Saat Mengantar Jenazah Pasien Covid-19 atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.