ADVERTISEMENT

Hobi Adu Balap Merpati Jadi Sumber Rezeki Pemuda Kabupaten, Hasil Menang Lomba Bisa buat Kuliah hingga Beli Motor

Hobi adu balap merpati jadi sumber rezeki pemuda Kabupaten Batang, sekali juara lomba uang bisa buat beli motor MOJOK.CO

Bukan sekadar hobi untuk senang-senang, adu balap merpati ternyata bisa cuan lumayan sampai bisa kebeli motor impian. 

***

ADVERTISEMENT

Pada mulanya, Rasyad (20), pemuda asal Kabupaten Batang, Jawa Tengah, hanya gemar menonton adu kontes merpati di tepian sawah di kampung bersama bapaknya. 

Keseruan warga tiap adu merpati lambat laun memantik gairah Rasyad untuk menggeluti hobi serupa. Alhasil, beranjak remaja, ia mulai mencoba memelihara merpati, kemudian coba-coba ikut dalam berbagai ajang perlombaan. 

“Aku mulai tergiur buat ikutan lomba karena sekalinya juara hadiahnya bisa berjuta-juta,” kata Rasyad kepada Mojok, Jumat, (30/10/2026).

Bisa kuliah dari hasil lomba adu balap merpati

Benar saja, sedari SMP, Rasyad sudah berhasil mengumpulkan cuan dari hobinya tersebut. Nama Rasyah bahkan semakin moncer ketika SMA: ia menjadi salah satu peserta lomba adu balap merapi yang cukup diperhitungkan. 

“Alhamdulillah dari ikut lomba-lomba itu aku bisa kenal banyak orang. Ikut lomba sana-sini. Lumayan cuan,” ucapnya nyengir.

“Sekali ikut lomba nggak nentu juga nominal hadiahnya. Tapi, yang jelas minimal 1 juta kalau bisa dapat juara,” lanjutnya.

Hingga saat ini, berarti sudah 12 tahun Rasyad berkecimpung di jagat adu balap merpati. Dari hobi itu pula, satu-persatu impian Rasyad bisa tercapai. Salah satunya, uang yang ia kumpulkan dari lomba ke lomba bisa digunakan untuk biaya kuliah. 

Berkat jagoan merpati bernama “Cornetto”: motor impian terbeli

Selama berkecimpung di dunia adu balap Merpati, Rasyad punya jagoan bernama “Cornetto”. Yakni seekor merpati jantan yang prestasinya sudah terukir sampai keluar kota. Bukan hanya di wilayah Kabupaten Batang saja. Ibarat ke manapun ia bawa, ujungnya pasti juara. 

ADVERTISEMENT

Berkat kemenangan-kemenangan yang ditorehkan Cornetto, wishlist Rasyad untuk membeli motor impian pun keturutan. Ia bisa membeli motor Honda Megapro, Yamaha Scorpio, dan Yamaha F1Z R.

Tak pelak, Cornetto memikat banyak orang penghobi burung merpati. Bagaimana tidak, burung yang ia rawat sejak kecil dan rutin ia latih tersebut menjadi pembuka jalan rezeki bagi pemuda kabupaten seperti Rasyad. 

Puluhan juta telah diberikan Cornetto kepada Rasyad. Itulah kenapa Rasyad masih selalu mengingat burung tersebut, meski kini ia sudah berpindah tangan ke pemilik baru: dibeli seseorang usai Cornetto unjuk kualitas dengan keluar di posisi 4 dalam sebuah kompetisi di Palembang. 

Sisi lain lomba adu balap merpati di Kabupaten Batang: adu ritual dan mantra dukun

Setidaknya din kampung halaman Rasyad di Kabupaten Batang, lomba adu balap merpati ternyata tidak cukup hanya mengandalkan kepak sayap si burung. Tidak sedikit penghobi yang membekali diri dengan ritual atau mantra-mantra sebelum turun ke gelanggang. 

“Hal-hal kayak gitu umum dalam setiap lomba. Biasanya di pinggir lapangan, ada lah orang yang sudah menyiapkan sesajen,” ungkap Rasyad. “Tujuannya ya apalagi, biar merpatinya menang.”

Rasyad sebenarnya termasuk generasi muda yang skeptis dengan kuasa tak kasat mata semacam itu alias klenik. Namun, entah kebetulan atau tidak, ia memang beberapa kali tumbang dari penghobi lain yang turun ke gelanggan berbekal ritual, sajen, dan mantra dari dukun andalannya. 

Gara-gara itu, Rasyad kemudian tidak ragu-ragu lagi menggunakan jasa dukun. Akhirnya gelanggang perlombaan menjadi arena adu kuat-kuatan dukun. 

“Dukunku ternyata lebih kuat. Pas pakai dukun, hasilnya moncer, menangan,” tutur Rasyad. 

Buka peluang bisnis untuk cuan lebih banyak

Semenjak kuliah, intensitas Rasyad di perlombaan sebenarnya agak berkurang. Tidak sesering dulu. Karena memang ia masih fokus untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. 

Kendati begitu, nama Rasyad sudah kadung populer di kalangan penghobi di kampungnya di Kabupaten Batang, berkat perlombaan-perlombaan yang pernah ia menangkan. 

Dari situ pun jalan rezeki Rasyad semakin terbuka. Ia kemudian tidak hanya menjadi peserta lomba adu balap merpati, tetapi juga menjajaki bisnis jual-beli merpati. 

“Kalau reputasi sudah dikenal di kompetisi adu balap merpati, orang-orang nggak bakal ragu buat beli burung merpati di kita, karena percaya sentuhan kita bikin merpati jadi peliharaan berkualitas, menangan,” beber Rasyad. 

Namanya bisnis, ya pasti kadang untung, tidak jarang juga rugi. Sekali laku, Rasyad bisa mengantongi uang jutaan, sebagaimana saat Cornetto-nya ditawar seorang penghobi yang jatuh hati pada Cornetto. 

Kalau rugi, tentu pahit. Rasyad pernah membeli seekor burung merpati dengan harga mahal untuk dibiakkan. Namun, setelah dirawat dengan effort, burung tersebut ternyata tidak bisa menghasilkan keturunan yang bagus. 

“Kalau begitu, kalau dijual pasti harganya murah banget,” tuturnya. Begitulah Rasyad menjalani hidup di Kabupaten Batang, dari kepak-kepak sayap burung merpati, rezekinya terbuka lebar. 

Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Tidar (Untidar) Magelang periode Agustus-November 2026.

Penulis: Al Afnan Mahatta

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Terakhir diperbarui pada 30 Oktober 2026 oleh .

Al Afnan Mahatta

Al Afnan Mahatta. Mahasiswa magang departemen liputan Mojok.co asal Batang. Sedang menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Tidar (Untidar) Magelang. Menaruh perhatian pada isu sosial, alam, dan dinamika sepak bola nasional. Di luar rutinitas liputan, saya mengisi waktu dengan menjelajah ke tempat-tempat baru yang unik.