Memang hanya orang-orang tabah yang bertahan menjadi driver ShopeeFood di kabupaten kecil. Tenaga sudah habis terkuras buat nunggu orderan, pendapatan tidak menentu, masih saja dapat bintang satu.
***
Di sela-sela waktu kuliahnya, Yuris (21) menyibukkan diri dengan menjadi driver shopee food di Kabupaten Batang, sebuah kabupaten kecil di Jawa Tengah.
Driver ShopeeFood saat ini memang menjadi pekerjaan “sejuta umat”. ShopeeFood memang telah menjadi salah satu layanan pesan-antar makanan online yang paling banyak digunakan di Indonesia. Berdasarkan survei Tenggara Strategics pada 2022, ShopeeFood menjadi satu dari tiga produk top of mind layanan pesan antar online di Indonesia bersama dengan GoFood dan GrabFood.
Seiring itu, banyak orang melihat sektor ini sebagai peluang menjanjikan: menjadi driver ShopeeFood. Sejauh ini memang belum ada data resmi yang menunjukkan angka spesifik jumlah mitra driver-nya. Akan tetapi, diperkirakan angkanya sudah ribuan.
Di kalangan mahasiswa, driver ShopeeFood menjadi pilihan terlaris untuk mencari kerja sampingan selama kuliah. Alasan utamanya adalah fleksibilitas waktu.
Driver Shopee Food di kabupaten: niat bertahan in this economy, tapi notifikasi selalu sepi
Itu lah motif utama Yuris mendaftar sebagai mitra driver. Awalnya untuk mengisi waktu luang selama libur semester. Lumayan untuk mencari-cari tambahan pemasukan, apalagi in this economy.
“Pertama kali daftar jadi mitra shopee food tuh Januari (tahun 2026). Karena waktu itu di rumah (di Kabupaten Batang), karena memang sudah ada driver ShopeeFood yang masuk. Setelah coba daftar, ternyata lolos,” kata Yuris kepada Mojok, Rabu, (28/10/2026).
Masalahnya, Kabupaten Batang bukanlah daerah yang seriuh Semarang, Jogja, atau Solo misalnya. Tidak ada aktivitas mahasiswa di Batang. Meskipun menjadi kawasan industri, tidak lantas berimbas pada lancarnya perputaran ekonomi di sektor jasa pesan-antar makanan ini. Alhasil, hanya kesulitan dan drama dengan customer yang harus Yuris hadapi sehari-sehari.
Tiap hari, sejak bangun tidur Yuris langsung menyalakan akunnya. Namun, notifikasi pesanan tidak kunjung nyantol di akunnya. Sepi. “Sebulan pertama itu sepi-sepinya. Anyep. Bahkan, seharian paling cuma dapat satu orderan,” tuturnya.
Dibanding bekerja mengantar pesanan, waktunya justru lebih banyak habis untuk nunggu customer. Dalam sehari, porsi duduk-duduk sembari menanti notifikasi jauh lebih besar ketimbang geraknya.
Kalau ramai hasilnya lumayan, tapi dramanya yang menyebalkan
Baru Yuris tahu kemudian, memang sudah menjadi hal lazim bahwa menjadi driver ShopeeFood di awal-awal pasti melalui fase sepi orderan dulu.
“Ya, kalau dihitung-hitung, pada masa awal itu paling seminggu cuma dapat Rp100 ribuan. Itu kotor loh ya. Belum bensin sama kuota. Ya.. paling bersihnya cuma Rp50 ribuan,” ungkap Yuris.
Pada masa-masa awal itu, berbagai cara dicoba Yuris. Ia pernah sengaja mangkal seharian di depan restoran. Harapannya ada kali satu-dua yang nyantol.
Sampai akhirnya, lambat laun akun ShopeeFood Yuris mulai ramai notifikasi orderan. Katanya, paling ramai ia bisa mendapat 20 orderan dalam satu minggu dan bisa membawa pulang Rp300.000 ribuan kotor.
Mungkin tidak sebanyak kalau di kota besar. Namun, untuk ukuran kabupaten “semedioker” Batang, angka tersebut jelas lumayan untuk pemasukan. Hanya saja, ia harus menghadapi drama keluguan khas warga kabupaten.
Dapat bintang satu karena customer salah nilai
Bintang satu dari customer, di titik tertentu, memang menjadi konsekuensi yang bisa menerpa driver mana saja. Penyebab paling umum adalah karena dianggap terlalu lama mengantarkan pesanan.
Nah, dalam kasus Yuris, ia mendapat bintang satu bukan karena kesalahannya. Tapi karena “keluguan” dari warga Kabupaten Batang.
Suatu kali ia mendapat bintang satu padahal mengantarkan tepat waktu. Selain itu, kondisi makanannya pun terbungkus rapi. Tidak rusak. Karena Yuris memang berhati-hati betul demi kepuasan pelanggan. Kalau pelanggan puas, ia dapat bintang lima. Dan itu membantu menaikkan rating-nya.
Kemungkinannnya dua kenapa Yuris mendapat bintang satu. Satu, bisa jadi si customer sebenarnya mau memberi bintang satu untuk restorannya karena makanan tidak sesuai ekspektasi. Tapi yang ia beri bintang satu justru driver ShopeeFood. Atau dua, tidak benar-benar tahu mekanisme pembintangan itu.
Imbasnya, akun Yuris kena ‘SP’ dari kantor. Rating keseluruhan akunnya turun, membuat Yuris sempat susah narik—sepi orderan pada keesokan harinya.
Dapat bintang satu padahal si customer tahu driver menerjang banjir
Hal serupa ternyata juga dialami oleh sejumlah rekannya sesama driver. “Temanku pernah dapet bintang satu. Waktu itu dia telat antar karena rumah si customer banjir hampir separuh badan orang dewasa. Otomatis motor harus diparkir di depan gang dan temanku harus jalan hampir 300-400 meter ke rumah si customer,” aku Yuris.
Maksud Yuris, si customer kan tahu kalau ada banjir di rumahnya. Masa tidak menyadari? “Kasihan itu. Hampir dua minggu dia nggak bisa narik karena akunnya kena suspend,” kata Yuris.
Driver ShopeeFood cuma cocok di kota
Di titik itu Yuris menyadari kalau pekerjaan ini rasanya hanya cocok di kota saja. Memang, pada mulanya, modernitas dan era digital bakal membuat ShopeeFood akan merambah hingga ke kabupaten-kabupaten kecil. Namun, kondisi geografi dan ekonomi domestik menjadi faktor yang tidak bisa dilepaskan.
Di wilayah perkotaan, menjadi driver ShopeeFood tentu membawa keberkahan tersendiri. Sudah banyak restoran, wilayahnya ramai, dan sekalinya dapat orderan paling jauh-jauhnya 1 km dari posisi restoran.
Berbeda dengan di Kabupaten, jumlah driver tidak sepadan dengan permintaan customer. Driver telalu banyak untuk customer yang hanya sekelumit.
“Ditambah lagi, beberapa kali sering ngambil orderan yang jaraknya hampir 20 km-an lebih. Kayak waktu itu, tengah malam, nganter makan dari Batang sampai ke Karangdadap (salah satu kecamatan di Kabupaten Pekalongan). Bolak-balik total sejam lebih itu di jalan,” ucap Yuris.
“Kalau waktu itu ramai orderan mungkin nggak akan kuambil. Boros di bensin. Tapi ya karena waktu itu seharian belum dapet orderan mau nggak mau aku ambil,” lanjutnya.
Jarak yang sebegitu jauhnya terkadang tak sebanding dengan upah argo yang Yuris terima. Mirisnya, upahnya waktu mengantar orderan di Pekalongan itu cuma sebesar Rp 21.000. Sudah habis untuk bensin. Sudah sejauh itu, tip dari customer pun ia tidak dapat. Customer memang tidak berkewajiban memberi tip. Tapi sudah sejauh itu, dan Yuris hanya mendapat uang bensin untuk pulang-pergi. Tidak ada pemasukan untuk disimpan.
Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Tidar (Untidar) Magelang periode Agustus-November 2026.
Penulis: Al Afnan Mahatta
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Ngasih Bintang 5 ke Driver Ojol meski Tidak Puas Tak Rugi-rugi Amat, Tega Hukum Bintang 1 bikin Sengsara Satu Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan