Pengalaman Unik Mahasiswa Universitas Terbuka: Temanku Udah Punya Cucu 

Ilustrasi Pengalaman Unik Mahasiswa Universitas Terbuka: Temanku Udah Punya Cucu

Mungkin banyak yang memandang sebelah mata pada mahasiswa Universitas Terbuka (UT). Ini karena proses penerimaan mahasiswa baru hingga proses perkuliahannya nggak seribet perguruan tinggi lainnya. Bahasa gampangnya, kuliahnya nyantai.

Ketika perguruan tinggi lain memberikan bejibun syarat masuk, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ini syarat masuknya sangat simpel. Yang penting lulus SMA atau yang sederajat, soal berapa pun usia calon mahasiswa, nggak jadi soal. Selain itu mahasiswa Universitas Terbuka tak perlu sering-sering datang ke kampus atau ketemu dosen. 

***

Mudahnya masuk Universitas Terbuka

Astri Nurul Qoriah(22) nyaris tidak kuliah karena pertimbangan ekonomi. Selepas lulus SMA pada 2019 silam, ia sempat berencana tak melanjutkan studi. Tapi berkat Universitas Terbuka akhirnya ia bisa melanjutkan pendidikan tinggi.

“Dulu sudah mepet banget. Besok pendaftaran tutup, siang sehari sebelumnya aku baru daftar. Berkat dorongan orang tua. Sebab kalau di UT tetap bisa kuliah, karena dekat dan murah,” kenangnya.

Biaya kuliah per semester yang perlu Qori bayarkan berkisar di angka Rp1 jutaan. Sehingga pilihan masuk ke UT terbilang tepat untuk meminimalisir pengeluaran dan beban keluarganya.

Persyarakatan masuknya terbilang mudah dan prosesnya juga cepat. Qori masuk ke UT Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Saat itu ia hanya perlu menyerahkan fotokopi rapor, ijazah, akta keluarga, KTP, dan surat wiyata bakti.

Persyaratan terakhir itu yang cukup unik. Qori perlu mencari SD yang nantinya bisa menerimanya untuk melakukan praktik mengajar setelah dua tahun perkuliahan. Orang tuanya segera mencari SD terdekat dan berkoordinasi agar sang anak bisa mendapat surat wiyata bakti. Akhirnya, hari trakhir semua persyaratan terpenuhi.

Mahasiswa Universitas Terbuka punya dua pilihan proses pembelajaran. Ada yang daring penuh sepanjang perkuliahan dan ada yang luring khusus di akhir pekan. Qori mengambil jenis kedua, sebab di Banjarnegara tempat ia tinggal, PGSD punya fasilitas pembelajaran luring.

“Memang tidak semuanya tersedia untuk luring. Setiap daerah berbeda-beda. Mungkin menyesuaikan minat pendaftar. Kalau di Banjarnegara barangkali peminatnya banyak PGSD,” paparnya. Di daerah lain, Cilacap misalnya, cabang UT membuka perkuliahan daring untuk jurusan Pendidikan Jasmani dan Keolahragaan (PJOK). 

Ospek tanpa perpeloncoan

Saat masih duduk di bangku SMA, Qori terbayang ospek atau kini dikenal dengan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) akan penuh dengan bermacam tugas, aktivitas, dan pelaksanaan berhari-hari. Tapi di UT, ia hanya mengikuti rangkaian singkat di sebuah hotel.

“Dulu ospeknya di sebuah hotel di Wonosobo. Mahasiswa dari beberapa daerah sekitar kumpul dan ospek di satu tempat itu,” terangnya.

Bayu Oktara, penyiar dan pemain sinetron yang juga lulusan UT menjadi MC dalam Ospek atau OSMB Universitas Terbuka. (YouTube Universitas Terbuka TV)

Pelaksanaan ospek pun hanya satu hari. “Cuma duduk dan mendengarkan pemaparan,” katanya. Ia mendapat penjelasan mengenai proses pembelajaran di UT secara detail. Tanpa mendapat tugas yang perlu dikerjakan di rumah.

Ia pun tidak banyak mengenal teman-teman satu angkatan di situ. Tidak pula bertemu dengan para senior karena panitia ospek seluruhnya merupakan staf dan pengajar.

“Kalau teman ya aku cuma kenalan sama beberapa saja. Terutama yang satu kelas,” ujarnya.

Biasa dengar obrolan soal rumah tangga di kampus

Selama menjadi mahasiswa Universitas Terbuka ia mendapati relasi perkawanan yang unik. Temannya kebanyakan tidak seumuran. Mayoritas sudah berkeluarga bahkan ada mahasiswa yang sudah punya cucu.

“Aku sampai kaget ternyata ada teman seangkatanku yang umurnya sudah 53. Sudah punya cucu,” ujarnya tertawa.

Memang banyak kalangan lanjut usia yang berkuliah di UT untuk menunjang agar mendapat ijazah untuk menunjang pekerjaannya. Namun, khusus di kelas Qori, lebih banyak ibu-ibu usia 30-40an tahun.

Ia merasakan obrolan yang unik dengan mereka. Mendengar banyak curhatan tentang rumah tangga, mengurus anak, sampai hal-hal lain yang belum familiar di telinganya. Ia mengaku jadi bisa turut banyak belajar. 

Sesekali, ia merasakan perhatian dari ibu-ibu ini. Sebab sebagian ada pula yang seumuran ibunya sendiri. Terkadang ia diingatkan untuk makan, beribadah, dan mendapat nasihat-nasihat bijak.

“Ya rasanya mereka kayak memberikan pelajaran hidup dan mengayomi. Mereka mengingatkan makan, ibadah, kaya orang tua gitu lah. Banyak cerewetnya,” katanya.

Selain itu ia juga banyak belajar dari teman-teman yang sudah bekerja. Berkuliah di Universitas Terbuka memungkinkan mereka untuk melakukan pekerja purna waktu. Sebab menurut Qori, perkuliahannya hanya ada di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu.

“Jumat dan Sabtu siang sampai sore. Kalau Minggu baru pagi sampai sore,” terangnya.

Tanpa BEM dan keunikan lain Universitas Terbuka

Mungkin karena keragaman sistem pembelajaran dan latar belakang mahasiswanya, UT juga dikenal tidak punya organisasi kemahasiswaan seperti BEM. Mahasiswa UT lain yang berbincang dengan Mojok, Firdaus Deni Febriansyah (24), mengonfirmasi kalau tak ada BEM di kampusnya.

Deni mengambil sistem perkuliahan daring dan masuk ke dalam Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) UT Palembang. Pembelajaran menggunakan e-learning tanpa berinteraksi langsung dengan dosen. Tatap muka dilakukan hanya saat ujian. Sehingga, mahasiswa asal Lahat, Sumatera Selatan ini tak perlu sering-sering ke kampus.

Menurut mahasiswa UT angkatan 2022 ini, Forum Alumni Universitas Terbuka merupakan salah satu organisasi yang diakui UT. Ada pula Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus UT, tapi jumlahnya tidak sebanyak kampus lain.

“Memang kalau urusan organisasi mahasiswa, UT tidak terlalu unggul. Mengingat pembelajarannya yang mengedepankan sistem jarak jauh,” ujar Deni.

Selain itu, UT juga tidak punya sistem drop out karena durasi studi mahasiswanya. Jadi, para mahasiswa bisa sedikit tenang jika tak kunjung wisuda karena menyambi kerja dan mengurus keluarga. Meski begitu, urusan pelanggaran akademik UT tetap punya aturan tegas yang bisa membuat mahasiswanya keluar.

Sebagian besar mahasiswa UT merupakan orang-orang yang sudah bekerja.
Ilustrasi mahasiswa UT merupakan orang-orang yang sudah bekerja. (Mojok.co)

Salah satu hal yang membuat mahasiswa Jurusan Sistem Informasi ini betah adalah ketiadaan skripsi di UT. Tugas akhir mahasiswa berbentuk karya ilmiah. Secara durasi pengerjaan lebih singkat. Hal itu menurut Deni membuat durasi kuliah bisa lebih cepat.

Bangga jadi mahasiswa Universitas Terbuka

Hal-hal yang menurut Deni hanya ditemui di UT itu membuatnya merasa bangga berkuliah di universitas yang berdiri pada 4 September 1984 ini. Kehadiran UT memang untuk memfasilitasi orang-orang yang tidak punya kesempatan menyelesaikan studinya di perguruan tinggi karena berbagai hambatan seperti faktor ekonomi, geografis, dan demografis. Visi itu tertuang dalam Keputusan Presiden 41/1984.

Di sisi lain, maksud “terbuka” adalah tidak ada pembatasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi, dan frekuensi mengikuti ujian. Batasan yang UT terapkan hanyalah setiap mahasiswa harus sudah menamatkan jenjang pendidikan menengah atas seperti SMA atau yang sederajat.

Buat Deni, ada beberapa hal yang membuatnya terkesan selama menjalani perkuliahan di UT. Misalnya, tentang fleksibilitas sistem pembelajaran. Selain itu, ia juga merasa bahwa kampus ini sangat transparan dalam proses penilaian. 

“Mahasiswa akan mendapatkan laporan nilai tugas dan diskusi setiap minggunya termasuk nilai UAS di akhir semester,” ujarnya.

“Tapi walau pembelajarannya fleksibel, mendapat nilai A di UT menurutku nggak gampang juga. Artinya nilai yg keluar murni karena kemampuan mahasiswanya,” sambungnya. Tentu pengalaman berbeda bisa dirasakan mahasiswa UT lain lantaran punya pengajar yang berbeda.

Memang, ada banyak pengalaman umum layaknya mahasiswa di kampus reguler yang tidak bisa Deni dan Qori rasakan. Tapi mereka tetap merasa senang.

Punya banyak waktu untuk mengerjakan hal lain

Qori misalnya, sebagai mahasiswa Universitas Terbuka mengaku kadang merasa beda dengan teman-temannya yang merasakan animo mengerjakan skripsi. Merayakan ujian seminar proposal hingga sidang akhir penelitian. 

Namun di sisi lain, ia mengaku nyaman karena berkuliah di UT membuatnya bisa punya banyak waktu untuk mengerjakan hal lain. Membantu orang tua hingga melakukan aktivitas lain di waktu senggang perkuliahannya.

“Mau nyambi apa pun bisa. Itu enaknya. Selain itu rentang libur panjang dan perkuliahan tidak terlalu padat,” tuturnya.

Ia juga punya pengalaman personal menarik karena banyak dosennya yang dulunya adalah guru semasa ia SMA. Guru-guru yang melakukan studi lanjut ke jenjang magister atau doktoral itu banyak yang akhirnya menjadi dosen di UT.

“Jadi, sudah kenal sama dosennya. Enak komunikasinya dan ya menyenangkan,” ujarnya.

“Tapi karena terlalu fleksibel mungkin ya, jadi sering ada perubahan jadwal kuliah. Kadang-kadang jadwal berubah juga dadakan. Tapi ya begitulah kondisinya,” sambungnya tertawa.

Qori yang punya cita-cita menjadi pengajar ini sedang dalam tahap mengerjakan tugas akhir. Baginya, UT membantunya meraih cita-cita untuk bids berinteraksi dan mendampingi anak belajar merupakan. Pekerjaan yang ia inginkan, terlebih bisa bekerja dekat dengan rumah.

Dengan segala keunikan dan perbedaannya, UT telah menjembatani banyak orang untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Hambatan ekonomi, geografis, dan demografis sedikit bisa teratasi.

Reporter: Hammam Izzuddin
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Menyambangi Deretan Kampus Tutup di Jogja, Merekam Kisah Bangkrut Sampai Kasus Berat dan reportase menarik lainnya di kanal Liputan.

Exit mobile version