Cerita Kurir yang Kerja Tanpa Ampun di Bulan Ramadan

Ilustrasi Cerita Kurir yang Kerja Tanpa Ampun di Bulan Ramadan. (Ega Mojok.co)

Bulan Ramadan adalah bulan penuh ampunan sekaligus promo pembelian. Bukan cuma persoalan ibadah yang ditingkatkan tapi juga perihal belanja besar-besaran. Bagi kurir, ini adalah saatnya kerja keras tanpa ampun.

Mojok ngobrol dengan dua abang kurir yang sedari awal Ramadan sudah kerja keras mengantarkan paket. Jelang lebaran, pekerjaan mereka bertambah dua kali lipat. Mereka berasal dari dua kota. Satu dari Batam, Kepulauan Riau, dan satu lagi dari Banyuwangi, Jawa Timur. 

***

Antarkan 300-350 paket per hari

Yohansyah (28) baru saja selesai mengantarkan paket sedari siang. Tadinya saya mau ikut melihat kegiatannya saat mengantar paket, tapi cuaca panas yang nggak karuan sedang melanda Batam, Kepuluan Riau. Bukannya wawancara, takutnya malah pingsan. Akhirnya kami bertemu di depan Indomaret di wilayah pengantaran paketnya.

Ia memulai aktivitas di jam 7 pagi, menyortir barang, dan mulai pangantaran sekitar jam 1 siang. Di hari biasa, Yohansyah biasa mengirim 200 paket. Namun, di peak season seperti ini, ia harus mengantar 300-350 paket setiap hari. Paket yang ia antar selama Ramadan macam-macam. Namun, paling berkesan, ia pernah mengantarkan paket berukuran besar seperti kasur dan tudung saji. Ia membawanya dengan motor!

“Sebenarnya peak season bukan hal luar biasa sebab tiap bulannya ia juga ketemu tanggal kembar dimana promo lagi besar-besarnya,” katanya kepada Mojok, Rabu (19/4/2023).

Sampai di sini Yohansyah sangat paham itu sudah jadi bagian dari tugasnya. Cuma ya memang dia harus kerja super keras, dua kali lipatnya, agar paket segera sampai di tangan pemesan yang kadang keburu rongseng kalau paket tak kunjung datang.

Kurir yang tak punya waktu libur

Bertambahnya kuantitas paket sama artinya dengan tak ada waktu leha-leha. Kurir harus gerak cepat buat mengefisienkan waktu yang tetap 24 jam meski paket bertambah berkali-kali lipat.

Rizky (25), seorang kurir di Banyuwangi, Jawa Timur mengaku tahun ini benar-benar lebih banyak paket daripada tahun sebelumnya. Dari yang muda hingga tua memilih check out di toko online oren, biru, hijau, dan sebagainya.

“Mungkin mikirnya enak, ya, pesan, terus ada yang ngantar langsung ke rumah,” kata Rizky yang sudah setahun ke belakang jadi kurir.

Kurir bekerja dua kali lipat di bulan Ramadan. MOJOK.CO
Kurir bekerja dua kali lipat di bulan Ramadan. (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Rizky sendiri bisa mengantarkan 150-200an paket di musim jelang Lebaran. Sepeda motornya pernah sampai jatuh dan bengkok stangnya karena kebanyakan beban.

Baik Rizky dan Yohansyah sama-sama tak punya waktu libur karena paket yang overload. Ekspedisi di tempat Rizky bekerja sudah menambah orang sebagai tenaga tambahan, nyatanya paket tetap serasa tak ada habisnya.

“Kalau dulu libur satu hari, tapi karena overload ini meskipun kurir tambah, tetap nggak mampu. Jadi sekarang nggak ada libur,” keluh Rizky.

Yohansyah bahkan kemungkinan tetap bekerja di hari Lebaran karena harus mengantar paket yang mengali tak ada habisnya. Terlebih ia mendapat upah lebih banyak dari hari biasa, dihitung per 10 hari, termasuk di hari Lebaran.

Para kurir ini tak punya waktu kerja seperti pegawai kantoran. Tidak ada jam kerja pasti. Selama paket masih ada, maka kurir akan mengantar, meski itu sampai malam hari. Apalagi kadang-kadang ada pemesan yang minta paketnya tiba saat malam.

“Selesai ngantar paket nggak tentu. Kadang pemesan minta malam, jadi kita harus balik. Istilahnya customer harus diprioritaskan,” ujar Yohansyah yang tampak tetap semangat dengan seragam merahnya.

Macam-macam pengalaman COD

“Paling unik sih customer kayak nggak punya rumah. Sering bukber di luar. Kadang kita tawarin transfer dan paketnya kita taruh di teras atau tetangga tapi customer nggak mau, maunya tetap COD,” terang Yohansyah.

Perkara pemesan yang pakai sistem COD tapi nggak stand by di rumah memang jadi momok buat para kurir. Rizky pun merasa kesal karena sering mendapat pemesan seperti itu, mau tak mau paket ia bawa kembali. Sampai-sampai tidur pun tak tenang karena kepikiran banyaknya paket yang belum sampai di tangan pemesannya

“Ya terpaksa bawa pulang ke kantor, kalau kayak gitu mau antar ke rumahnya lagi jadi mikir. Mending diambil sendiri daripada ke rumah tapi nggak ada orang lagi,” keluhnya.

Belum lagi kalau pesanan sudah diantar tapi pemesan tak pegang uang. Alhasil kurir jadi puyeng dan bingung.

Tolong lah buat adek adek yang pesan paket, sekiranya nggak punya uang jangan pesan, yang kena marah itu nggak cuma adek, tapi kurir juga bakal disalahin,” pesan Rizky.

Ilustrasi Cerita Kurir yang Kerja Tanpa Ampun di Bulan Ramadan. (Mojok.co)

Selain itu, kurir pun sering berhadapan dengan orang-orang yang pakai sistem COD tapi nggak ngerti aturannya. Yohansyah bercerita kalau dirinya seringkali harus berhadapan dengan ibu-ibu yang suka buka paksa packing paket hinga koyak, tapi masalahnya itu paket belum dibayar.

“Untuk ibu-ibu yang nggak ngerti COD, baca dulu aturannya. COD itu sistem bayar di tempat bukan buka di tempat,” ujar Yohansyah.

Kurir bisa jadi kena denda karena SOP tidak membolehkan packing paket dibuka sembarangan apalagi sampai dikoyak. Kalau terjadi apa-apa pada paket, penyelesaiannya harus ditanggung kurir dan atasan yang memberi kebijakan.

THR yang ada syaratnya

Beda daerah beda kebijakan. Di Batam, Yohansyah mendapat bayaran Rp2.000 per paket saat musim Lebaran. Sedangkan Rizky di Banyuwangi mendapat Rp1.300 per paket. Ketentuan ini mungkin tak berlaku sama di daerah lain.

Intinya semakin banyak yang bisa diantarkan kurir, semakin banyak pula pendapatan mereka. Ya, seperti kejar tayang istilahnya.

Di hari biasa Yohansyah mengantongi Rp1.700 per paket. Dulu pernah ada rencana untuk diturunkan jadi Rp1.200 saja per paketnya, tapi pemilik ekspedisi tempatnya bekerja tak setuju. Penentuan upah ini ditentukan oleh pemilik ekspedisi di tiap masing-masing daerah.

Pemberian upah ini adalah semua yang kurir dapatkan. Biaya operasional untuk bensin atau pulsa tak mereka dapatkan. Menurut Rizky, bahkan resiko kerusakan sepeda motor yang menanggung kurir.

Untungnya Yohansyah bisa mendapat THR tanpa syarat sebagaimana ketentuan ekspedisi tempatnya bekerja. Beda lagi dengan Rizky, ia baru bisa dapat THR kalau mampu mencapai 4.000 target pengiriman.

“Kalau nggak sampai 4.000 paket ya nggak dapat apa-apa. Ini untuk periode satu bulan,” kata Rizky.

Saya bertanya, apakah Rizky sudah memenuhi target tersebut. Sampai wawancara ini berlangsung, ia bilang belum memenuhi karena baru mengantar 3000-an paket.

Ilustrasi kurir yang mengantar paket. (Mojok.co)

Katanya, kurir adalah ujung tombak ekspedisi. Kalau tombaknya tumpul, bagaimana paket bisa diantarkan? Begitulah kata Yohansyah kepada saya.

Akan tetapi, tombak tak selamanya tajam, toh, sejatinya kurir juga manusia biasa. Ada banyak perkara dan pengalaman di lapangan yang kurir hadapi dengan ratusan bahkan ribuan paket yang dikirim jelang Lebaran.

Kurir juga manusia biasa yang sesekali ingin ngeluh

“Banyak orang juga bilang gini ya, ‘Kamu kan kurir, terus kenapa kok ngeluh?’ Sebenarnya ngeluh memang nggak mengubah apapun. Kadang kami cuma pengen libur sehari buat lemesin badan karena kalau lagi ramai gini nggak bisa libur. Tolong respect sedikit daripada nyalahin itu resiko kurir,” kata Rizky.

Perkara paket pasti kurir akan mengantar, tapi perihal ngeluh itu adalah kewajaran sebagai manusia yang lelah. Rizky mengerti posisinya, tapi ia juga ingin orang-orang paham. Bahwa ia dan kurir lainnya berusaha sekuat tenaga agar paket segera sampai karena akan dipakai saat Lebaran. Meskipun ia dan kurir-kurir lain harus usaha keras tanpa ampun.

Memang pendapatannya bertambah seiring banyakanya kuantitas paket, tapi bagi Rizky, perhatian customer, seperti memberi parsel, jajan lah yang bisa mengembalikan semangatnya atau minimal nggak nyinyir.

“Meskipun kita cuma kurir seenggaknya hargailah perjuangan ngantar paket ke rumah, apalagi jam 9 malam masih kerja,” pungkas kurir yang pernah mengantar paket cangkul ke rumah customernya.

Di sisi lain, kepada saya Yohansyah mengaku senang jadi kurir, tidak jenuh karena pekerjaannya keliling-keliling.

“Soal yang komen kalau ngeluh mending nggak usah kerja aja, itu ada benarnya. Memang nggak ada kerjaan yang nggak ada resiko,” kata Yohansyah. Ia melanjutkan, namanya kurir pakai motor kalau hujan pasti kehujanan dan kalau panas pasti kepanasan.

Selama 3 tahunan jadi kurir, Yohansyah sudah bisa menganggap omelan customer sebagai angin lewat. Soalnya pekerjaannya memang mengantar paket setiap hari. Kalau ia memasukan ke dalam hati setiap omelan costumer, malah justru nggak baik. “Telan saja walaupun pahit,” katanya. 

Reporter: Ussy Sara Salim
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Seorang Kurir Ekspedisi di Antara Beban Kerja, Persoalan Pengirim, dan Keluhan Penerima dan tulisan menarik lainnya di kanal Liputan.

Exit mobile version