Gelar juara yang dipersembahkan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi obat bagi para alumni Piala AFF 2010 yang pernah menangis sekaligus kecewa di depan layar televisi rumah.
***
Euforia pecah ketika kiper Timnas Indonesia, Emil Audero, sukses menepis tendangan penalti dari bek Thailand, Nattapong Sayriya, dalam babak adu tos-tosan di final FIFA ASEAN Cup 2026, Senin (5/10/2026).
Tepisan itu memastikan Indonesia menjadi negara pertama yang menjuarai event resmi FIFA di Asia Tenggara tersebut, sekaligus memutus kutukan puasa gelar bagi Skuad Garuda yang kerap tumbang di ajang Piala AFF dari edisi ke edisi.
Maka, ketika Kevin Diks dan kawan-kawan akhirnya bisa mengangkat trofi di ajang sepak bola ASEAN (resmi dari FIFA lagi), euforia di kalangan pencinta sepak bola tanah air pun tidak terbendung. Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) bergemuruh, jalanan riuh, suasana di warung-warung kopi menjadi gegap gempita, melonjak-lonjak di depan televisi rumah, dan media sosial yang penuh oleh beragam wujud ekspresi haru-gembira.
“Akulah anak kecil yang dulu nangis di depan tv pas AFF 2010 dan kini akhirnya bisa lihat Timnas juara.”
“Para alumni pemimpi di AFF 2010, mimpi kita malam ini lunas.” Ungkapan-ungkapan sejenis itu bertebaran di media sosial, sebagai bagian dari ekspresi kegembiraan.
Bagi sebagian orang, Piala AFF 2010 memang menjadi momen sentimentil: saat itu sedang bangga-bangganya dengan Timnas yang diisi oleh generasi Irfan Bachdim, Cristian Gonzales, dan kawan-kawan. Tetapi sekaligus menjadi momen patah hati yang menyakitkan. Karena ketika gelar juara sudah tinggal sejengkal, Skuad Garuda justru tumbang telak di partai final (kalah 0-3 dari Malaysia).
Lihat postingan ini di Instagram
Jersey Irfan Bachdim yang ikonik dan patah hati pertama laki-laki
Salah satu alumni pemimpi (yang pernah bermimpi Timnas Indonesia jadi Raja Asia Tenggara) di AFF 2010 adalah Dimas (22), mahasiswa di Universitas Tidar (Untidar) Magelang.
Seiring beredarnya konten nostalgia penuh tangis di depan televisi yang bertebaran di media sosial, Dimas langsung flashback dengan cerita-cerita masa kecilnya ketika menonton Timnas berlaga di Piala AFF 2010, dari fase grup hingga partai final.
“Satu hal yang paling memorable, yaitu kaos bola pertamaku. Kaos pertamaku adalah kaos Timnas dengan nameset Irfan Bachdim. Nomor punggung 17 saat tu kan ikonik,” tutur Dimas bercerita di tengah euforia kami nobar final FIFA ASEAN Cup 2026 di kosan.
“Aku ingat waktu final (AFF 2010) itu nontonnya rame-rame sama keluarga di rumah. Itu jadi patah hati pertamaku sebagai orang yang baru mengikuti Timnas. Tambah sakit hati lagi ketika di kemudian hari ada isu skandal suap-menyuap yang diduga melibatkan sejumlah pemain Timnas kita,” sambungnya. Ya meski kemudian dugaan itu sampai saat ini masih belum benar pasti.
Terlepas dari patah hati pertama dan sakit hati yang mendalam atas dugaan skandal pengaturan skor tersebut, tidak dimungkiri bahwa Piala AFF 2010 menjadi pemantik yang menumbuhkan rasa cintanya terhadap Timnas Indonesia. Yang membuatnya tidak berhenti berharap Timnas Indonesia bisa juara meski selalu berujung kekecewaan, sebelum akhirnya sejarah tercipta di SUGBK pada Senin malam itu, saat kutukan bertahun-tahun akhirnya patah juga.
Inner child terkabulkan, kini bisa mati dengan tenang
Cerita serupa juga dituturkan oleh Kamil (41), bapak-bapak asal Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ia mengaku tidak pernah luput mengikuti perkembangan Timnas Indonesia sejak era pelatih Danurwindo (1996).
Sama seperti Dimas, Kamil adalah supporter Garuda yang tidak pernah berhenti berharap, bertahun-tahun memupuk kepercayaan bahwa ada tiba masanya Timnas kebanggaannya bisa mengangkat trofi juara.
Keyakinan itu, entah kenapa, semakin menguat sejak laga pertama FIFA ASEAN Cup 2026. Ya meski anak asuh John Herdman menuai kritik tajam dari berbagai arah karena dinilai tidak menunjukkan pola permainan yang memuaskan. Kamil tidak pernah mangkir nribun selama gelaran FIFA ASEAN Cup 2026 berlangsung. Dan keyakinan itu ternyata terjawab juga.
“Nggak kerasa aja tiba-tiba nangis pas Emil Audero bisa nepis tendangan penalti. Teringat dulu (waktu kecil) gimana susah dan sedihnya perjuangan cuma buat nonton Timnas yang seringnya gagal juara itu,” ungkap Kamil kepada Mojok, Rabu (07/10/2026). “Rasanya inner child saya akhirnya terkabulkan.”
“Bersyukur sekali akhirnya Timnas bisa angkat piala. Bayangkan, sejak usia belasan tahun sampai mau setengah abad masa nggak bisa lihat Timnas juara,” sambungnya. “Ya, setidaknya saya bisa mati dengan tenang karena sudah lihat Indonesia juara.”
Trofi ini untuk Alfred Riedl, pelatih lekat dengan kata “hampir”
Meski jauh lebih awal mengikuti Timnas Indonesia ketimbang Dimas, tapi Kamil pun mengakui bahwa Piala AFF 2010 tetap menjadi momen yang sentimentil. Ingatannya pun tidak lepas dari sosok mendiang Alfred Riedl, pelatih Timnas yang nyaris mempersembahkan trofi Piala AFF 2010—sekaligus yang tidak kalah ikonik adalah pada gelaran 2016 saat skuad Timnas diperkuat oleh Boaz Solossa, Hansamu Yama, Zulham Zamrun, hingga Abduh Lestaluhu.
Bagi sebagian banyak penggemar Timnas Indonesia: dari sekian nakhoda Skuad Garuda dari masa ke masa, Alfred Riedl menjadi nama yang amat melekat dan akan selalu dikenang. Ia dinilai menjadi seorang pelatih yang tidak hanya mampu mengoptimalkan komposisi skuad yang tersedia, tapi juga tampak begitu tulus menukangi kursi kepelatihan Skuad Garuda.
Bagaimana tidak. Pasca Piala AFF 2010, ia sempat didepak dari posisinya. Saat isu dugaan pengaturan skor mengemuka, hingga kini pun, sebagian penggemar menaruh simpati besar pada sosoknya. Sebab, ketulusan dan perjuangan keras sosok yang kerap disapa Opah Riedl itu seperti dikhianati oleh anak asuhnya sendiri: sejumlah pemain yang diduga terlibat dalam skandal. Sekali lagi meski isu ini akhirnya belum terang-benderang kebenarannya.
Sepak bola Indonesia pernah mengalami masa penuh sengkarut, yakni ketika terjadi dualisme PSSI yang berlarut-larut sejak 2010 hingga berakibat dibekukan FIFA pada 2015. Kondisi ini tentu saja berdampak pada kondisi di tubuh Timnas Indonesia.
Setelah pembekuan tersebut resmi dicabut, Timnas Indonesia mencoba kembali berpartisipasi di Piala AFF 2016, meski dalam situasi yang masih jauh dari ideal. Saat itu, Opah Riedl kembali didatangkan untuk menukangi Boaz Solossa dan kawan-kawan. Ia pun kembali, dan sekali kali secara heroik nan dramatis nyaris membawa Skuad Garuda juara setelah berhasil menembus panggung final, sebelum akhirnya tumbang oleh Thailand di partai puncak tersebut.
Itulah kenapa, bagi penggemar seperti Kamil, trofi FIFA ASEAN Cup 2026 sudah selayaknya dipersembahkan kepada sosok Opah Riedl, yang selalu “hampir” membawa Timnas Indonesia mengangkat mahkota juara di kawasan Asia Tenggara.
Lihat postingan ini di Instagram
Piala Asia berikutnya…
Timnas Indonesia juara. Penggemar memang sudah sepatutnya berbangga. Namun, John Herdman masih harus menyongsong ujian berikutnya: Piala Asia 2027.
Meski berhasil mencatatkan sejarah sebagai pelatih yang menyudahi puasa gelar hampir 35 tahun di level senior, tapi taktik yang ditawarkan John Herdman dinilai sejumlah kritikus masih sangat monoton. Padahal materi pemain sudah paling mahal: €22,84 juta atau setara Rp375–378 miliar, jika menilik data dari Transfermarkt. Termewah dari calon lawan yang lain.
Ambil contoh saat pertandingan kontra Malaysia. Statistik akhir menunjukkan bahwa Ole Romeny dan kawan-kawan hanya mampu mencatatkan 38% penguasaan bola dengan hanya empat total tembakan tepat sasaran. Sementara Malaysia mampu mencatatkan 18 kali tembakan tepat sasaran ke gawang Maarten Paes.
Sementara saat menghadapi Thailand, tim asuhan John Herdman memang mendominasi selama 90 menit, tapi tak ada satu gol pun yang tercipta dari skema open play. Padahal posisi Thailand bermain hanya dengan 10 pemain.
Penyakit lama “long ball” dan “Insyaallah gol” juga tampak kambuh lagi. John Herdman dinilai minim solusi tiap menghadapi kebuntuan.
Jika tidak ada perkembangan taktik, bukan tidak mungkin kalau langkah Timnas Indonesia di Piala Asia 2027 Januari mendatang akan terseok-seok. Sementara saat ini jutaan warga Indonesia tengah menaruh harapan besar ke pundak John Herdman.
Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Tidar (Untidar) Magelang periode Agustus-November 2026.
Penulis: Al Afnan Mahatta
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Bermula dari Main Tarkam di Wonosobo demi Bayaran “Menggiurkan”, Buka Jalan ke Sepak Bola Profesional atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
.