Setahun mengendarai motor Honda Astrea Impressa, saya menemukan beberapa keunggulan yang jarang dilirik oleh pengguna motor Honda lain. Selain nyaman dan irit, Astrea Impressa menjadi motor yang justru lebih unggul dari keluarga Grand lainnya yang pernah saya pakai.
***
Di tengah jalanan Jogja yang semakin sibuk dan sumpek, saya justru menikmati perjalanan dengan motor yang tidak mengajak saya terburu-buru. Setahun terakhir, Honda Grand Astrea Impressa menemani mobilitas saya dari Gamping menuju kawasan Jalan Kaliurang atas, Sleman.
Motor bebek lawas tersebut memang tidak menawarkan kecepatan yang bisa dibanggakan. Namun, dari perjalanan harian hingga sesekali berkendara ke Magelang, saya menemukan kesenangan sederhana: menikmati perjalanan tanpa merasa harus selalu menjadi yang tercepat.
Astrea Impressa, varian Grand yang tidak terlalu banyak dibicarakan
Honda Astrea Grand punya tempat tersendiri dalam ingatan penggemar motor lawas. Ada Grand Bulus dengan lampu belakang membulat, lalu Grand Sabit yang mendapat penyegaran desain. Ketika Astrea Impressa diperkenalkan oleh merek terkenal Jepang tersebut pada 1997, Honda mempertahankan basis desain Grand generasi akhir dengan perubahan pada striping dan identitas modelnya. Sementara itu, Honda Astrea Supra yang muncul pada tahun yang sama menawarkan pembaruan desain yang lebih kentara.
Perbedaan tersebut membuat Impressa menarik untuk dilihat sebagai bagian keluarga Astrea yang kerap luput dari sorotan. Bukan berarti tidak ada penggemarnya, tetapi identitasnya memang tidak terlalu jauh dari Grand yang sudah lebih dahulu dikenal.
Saya sendiri tidak memilih Impressa karena ingin memiliki motor antik yang kelak harganya meroket. Saya membelinya untuk dipakai. Dan setelah setahun, justru pengalaman berkendara sehari-hari yang membuat saya enggan melepasnya.
Tidak perlu kencang untuk menikmati perjalanan
Dilansir dari Tirto.id, secara teknis, Astrea Impressa menggunakan mesin empat langkah satu silinder berkapasitas 97,1 cc, berpendingin udara, dengan sistem overhead camshaft (OHC). Transmisinya menggunakan empat percepatan dengan pola rotari, sementara kedua roda mengandalkan rem tromol. Spesifikasi tersebut sejalan dengan basis mekanis Astrea Grand generasi akhir.
Angka-angka itu mungkin terdengar biasa jika dibandingkan dengan motor modern. Namun, bagi saya, karakter berkendaranya justru menjadi daya tarik. Saya tidak merasa perlu memaksakan kecepatan ketika melintasi jalanan kota. Motor ini mengajak saya menikmati perjalanan dengan ritme yang lebih santai.
Perjalanan terjauh saya sejauh ini baru sampai Magelang. Tidak ada ambisi mencatat waktu tempuh tercepat. Saya bisa menikmati perjalanan tanpa terus-menerus memikirkan seberapa cepat harus sampai tujuan.
Tentu saja, berkendara santai bukan berarti mengabaikan kondisi lalu lintas. Saya tetap harus menyesuaikan kecepatan dengan situasi jalan. Hanya saja, saya tidak menjadikan kecepatan sebagai satu-satunya ukuran menyenangkan atau tidaknya sebuah perjalanan.
Motor Honda yang ramah terhadap pengeluaran harian
Salah satu alasan saya mempertahankan Astrea Impressa adalah efisiensi konsumsi bahan bakar. Dengan membeli Pertalite sekitar Rp30 ribu, tangki motor saya bisa terisi penuh dan cukup untuk sekitar lima hari perjalanan harian dari Gamping menuju kawasan Jakal atas, dekat UII, pulang-pergi.
Angka tersebut merupakan pengalaman pemakaian saya sendiri, bukan hasil pengujian laboratorium. Konsumsi sebenarnya tentu bergantung pada jarak, kondisi lalu lintas, cara berkendara, dan kondisi mesin. Namun, bagi saya, pengeluaran bahan bakar tersebut sudah terasa membantu kebutuhan mobilitas sehari-hari.
Perawatannya juga relatif terjangkau. Untuk servis dan ganti oli bulanan, saya biasanya mengeluarkan sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu. Sesekali memang ada perbaikan kecil, tetapi sejauh ini motor tersebut tetap bisa diandalkan dan belum pernah mogok di jalan.
Bukan berarti semua Astrea Impressa pasti semurah atau seandal unit saya. Motor lawas tetap membutuhkan perhatian, terlebih jika riwayat perawatannya tidak jelas. Akan tetapi, pengalaman setahun ini membuat saya merasa belum punya alasan kuat untuk menggantinya.
Dipertahankan orisinalnya, meski ada yang menawar
Saya masih mempertahankan bentuk dan onderdil asli motor ini sebisa mungkin. Rupanya, kondisi tersebut cukup menarik perhatian beberapa orang yang kemudian menawarnya untuk dibeli. Namun, sampai sekarang saya belum berkenan menjualnya.
Alasannya sederhana: saya masih senang menggunakannya. Bagi saya, Astrea Impressa bukan sekadar motor tua dan lawas yang layak dipajang atau disimpan sebagai koleksi. Motor ini masih menjalankan fungsi utamanya sebagai kendaraan harian.
Ada kepuasan tersendiri ketika barang yang sudah berumur puluhan tahun tetap bisa menemani aktivitas tanpa harus selalu direstorasi atau dimodifikasi. Saya tidak sedang mengatakan bahwa mempertahankan motor orisinal selalu menjadi pilihan terbaik. Namun, selama kondisi dan kebutuhan masih memungkinkan, saya lebih memilih merawat apa yang sudah ada.
Nyaman bukan berarti tanpa kekurangan
Tentu saja, Astrea Impressa bukan motor yang sempurna. Bagasinya tidak cukup untuk menampung jas hujan, sehingga saya harus menggantungkannya pada besi samping yang tersedia. Saat musim hujan, motor yang terparkir di tempat terbuka juga terkadang membutuhkan waktu lebih lama untuk dinyalakan kembali.
Kekurangan tersebut cukup merepotkan, tetapi belum menghapus kesenangan saya mengendarainya. Saya hanya perlu menyesuaikan diri dengan keterbatasan motor yang saya pilih.
Setahun memakai Honda Astrea Impressa membuat saya menyadari bahwa kendaraan yang menyenangkan tidak harus menjadi yang paling cepat, paling baru, atau paling banyak fitur. Kadang-kadang, kendaraan yang cocok dengan kebutuhan justru sudah cukup.
Di tengah jalanan yang membuat banyak orang merasa harus segera sampai, saya masih menikmati perjalanan bersama motor bebek lawas ini. Bukan karena saya menolak kemajuan teknologi, melainkan karena saya menemukan sesuatu yang tidak ingin buru-buru saya tinggalkan: kesenangan sederhana saat berkendara tanpa perlu mengejar siapa pun.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Astrea Grand adalah standar kecantikan motor Honda yang belum ada tandingannya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan