Agung Bentoel dan Cinta Pandangan Pertama pada Motor Mini

Motor mini, motor unik berukuran imut ini punya penggemarnya sendiri. Agung Bentoel, salah satu perajin motor mini bercerita kepada Mojok ihwal pengalamannya mengkustom motor jenis ini.

***

Suara palu beradu dengan besi, suara gerinda yang menggores potongan rangka, menjadi ritme harian di bengkel Garasi Cilik. Pemilik garasi ini namanya Agung, atau akrab disapa Agung Bentoel. Pria kelahiran Yogyakarta tahun 1972 ini merupakan pemilik, sekaligus “perajin” motor mini.

“Selain karena tempatnya yang cilik, motor yang dibuat disini juga cilik. Karena itu saya kasih nama bengkel ini Garasi Cilik,” kata Agung ketika saya temui di bengkelnya yang berada di Kelurahan Tegalrejo, Kota Yogyakarta, pertengahan Desember 2021.

Seperti namanya, Garasi Cilik berkutat di bidang otomotif, khususnya motor mini. Motor mini sendiri merupakan salah satu variasi dari jenis kendaraan bermotor roda dua. Beberapa motor mini merupakan modifikasi dari motor normal yang kemudian di-mini-kan atau dibonsai, sebagian lain sudah merupakan motor mini asli keluaran pabrikan. Motor ini umumnya merupakan buatan pabrikan Jepang.

motor mini mojok.co
Motor mini di Garasi Cilik. (Vincensius Radhitya/Mojok.co)

Agung memulai usaha bengkel pada tahun 2006 dengan membuka bengkel motor antik tahun 50-an. Sebelum membuka bengkel, Agung bekerja sebagai pekerja pertambangan minyak di luar negeri, namun karena beberapa alasan, dia memutuskan kembali ke Indonesia dan memulai membuka usaha bengkel.

“Dari dulu saya sudah suka sama hal-hal yang berhubungan dengan motor, jadi setelah saya pulang langsung buka bengkel motor.”

Ketertarikan Agung terhadap motor mini dimulai tak lama setelah dia secara tidak sengaja menemukan gambar motor unik ini di internet. “Waktu itu saya lagi cari motor di internet, saya lihat ada motor mini, saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama sama motor ini,” katanya.

“Saya pikir kalau motor ini dipakai di jalan raya akan sangat menarik perhatian, sekalian bisa pamer.”

Seperti jodoh, tak lama kemudian Agung ditawari oleh temannya sebuah motor mini. “Nggak lama setelah itu, ada teman saya menawari, saya kaget, ini motor yang saya cari, akhirnya tawar menawar, sepakat, langsung saya angkut ke rumah,” ucap Agung sambil tertawa.

Mulai dari situlah, Agung perlahan mulai membuka bengkel untuk motor mini, mempelajari seluk beluk motor cilik ini hingga akhirnya melahirkan bengkel yang bernama Garasi Cilik.

Agung Bentoel saat sedang mengerjakan motor pesanan orang. (Vincensius Radhitya/Mojok.co)

Dari awal bengkelnya berdiri, pelanggan dari Garasi Cilik milik Agung berasal dari hampir seluruh Indonesia, mulai dari pulau Sumatera hingga Maluku. “Pelanggan saya dari 2006 hingga 2010 datang dari hampir seluruh Indonesia. Dulu malahan dari Yogyakarta sendiri belum terlalu ramai, baru sekarang ini mulai banyak juga pesanan dari Yogyakarta.”

Untuk menyelesaikan satu buah motor mini kustom, waktu yang dihabiskan tergantung dengan permintaan dari pemesan motor. “Kalau mereka pesan dari kondisi awal, pretelan, kira-kira bisa selesai dalam waktu tiga bulan. Kalau hanya diminta memodifikasi sedikit, paling lama dua minggu sudah selesai,” ucap Agung.

Motor yang menjadi favorit dari pemesan motor di Garasi Cilik ini adalah model Monkey, Gorilla, dan Duck. Bobot motor mini sendiri biasanya tak sampai 100 kg dengan kapasitas mesin antara 50 hingga 100 cc.

“Yang paling favorit ya tiga model itu, selain karena desainnya yang bagus, keren, juga spare-part nya juga yang paling mudah masuk ke Indonesia,” bebernya.

Untuk pesanan motor, Agung sendiri tidak memasang harga yang pasti, semua sesuai dengan keinginan dan kemampuan dari pemesan. Menurut dia, pelanggan yang ingin memesan motor buatannya, maupun mengkustom motornya, pasti sudah memiliki dana yang sesuai.

“Kalau saya pribadi, saya menganggap motor mini ini sebagai karya seni, jadi saya tidak mau melepasnya dengan harga yang murah,” ucap Agung.

Agung Bentoel dan motor mini hasil karyanya. (Vincentius Radhitya/Mojok.co)

Untuk satu motor, biasanya pemesan dapat menghabiskan dana hampir Rp20 juta, tergantung dari tingkat kerumitan dan berbagai macam aksesoris tambahan yang diinginkan si pemesan.

Modal yang dihabiskan Agung sendiri dalam membuat motor ini bervariasi, tergantung dari motor yang dipesan. “Kalau motor dibuat dari pretelan atau pun besi-besi bekas, kira-kira habis antara Rp3 juta sampai Rp4 juta, kalau kita bikin yang full barangnya ekspor, bisa habis sampai Rp15 juta.”

Dari pesanan yang datang, omset yang didapat oleh Agung berkisar antara Rp2 juta hingga Rp10 juta rupiah dalam setiap pesanannya.

Dalam menekuni profesi nya sebagai perajin atau builder motor mini, beberapa momen berkesan dialami oleh Agung. Salah satunya adalah menerima pesanan dari gitaris band Kotak, Cella.

“Waktu itu tahun 2017, saya ditelepon sama Mas Cella nya langsung, katanya dia lagi cari motor mini, terus langsung dia minta saya buatin. Dia pesan yang model Duck dengan stang chopper, agak sulit itu saya buatnya,” ungkap Agung.

Mini bike milik Cella ‘Kotak’ hasil karya Agung Bentoel. (Foto Kustomfest)

Selama menjadi perajin motor mini ini, ada pula suka duka yang dialami oleh Agung. “Sukanya ya, ini hobi saya dari dulu, jadi saya seneng banget. Kalau dukanya, saya harus begadang buat selesaikan motor,” bebernya sembari tersenyum.

Selama pandemi, bengkel Garasi Cilik milik Agung ini juga terkena dampaknya. Sama seperti usaha lain yang harus memutar otak agar tetap berjalan.

“Kalau dari jumlah pesanan, tidak ada perubahan, masih tetap banyak kayak sebelum pandemi. Yang berubah itu ongkos produksinya, jadi lebih mahal, dulu pas susah-susahnya oksigen, saya harus numpang ngelas, keluar biaya lagi.” Ucap Agung.

Ditengah makin banyak nya motor-motor hobi dan kustom, Agung berharap dia masih dapat melakukan dan menjalani pekerjaan dan hobinya ini. “Saya berharap makin banyak yang tertarik dengan motor mini ini. Juga saya pengin nya komunitasnya, khususnya di Yogyakarta, makin solid untuk membangun solidaritas dan kekeluargaan,” pungkas Agung mengakhiri perbincangan.

Reporter: Vincentius Radhitya
Editor: Purnawan Setyo Adi

Exit mobile version