Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Versus

Kalau Jadi Ustad Cukup Modal Peci, Bung Karno Bakal Jadi Ustad Karno Dong

M. Faizi oleh M. Faizi
8 Desember 2017
A A
ustad-sunat-mojok.co

ustad-sunat-mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Kecuali di terminal, bahkan hafal Al-Quran dan hadis pun belum bisa membuat seseorang pantas bergelar ustad.”

Pasti terasa ada yang janggal jika kamu biasa dipanggil “Cak” kok tiba-tiba ada yang memanggilmu “Tad”. Begitu pula jika biasa dipanggu “Su” (diambil dari suku kata depan nama) lalu ada orang yang memanggilmu “No” (diambil dari bagian akhir) meskipun ada juga yang ambil bagian di tengahnya: “Tris”. Dan panggilan ustad itu sekarang sungguh merajalela.

Iklan

Tokoh-tokoh yang punya dan mengasuh pondok pesantren di Madura pun, yang biasa dipanggil kiai atau lora, tidak luput jadi “korbannya”. Begitu pula yang disebut guru di Banjar atau tuan guru di Lombok, pasti juga mengalami hal serupa. Kalau perubahan seperti ini terjadi begitu masif dan cepat seperti ini, rasanya kok saya curiga perubahan penyebutan ini adalah sebuah proyek raksasa, proyek besar dalam berbahasa, dan politis.

Yang suka melakukan seperti ini biasanya orang-orang media, televisi tepatnya. Saya biasa mendengar sebutan ustad sebagai ganti tokoh agama itu ya di televisi. Dulu… sewaktu tivinya belum dilego. Di tempat saya, ustad itu padanan kata bagi guru (agama). Namun, kalau ada protes, protesnya mau dilancarkan untuk siapa? Sulit.

Bahasa berubah karena masyarakatnya setuju untuk diubah. Bahasa pun bisa punah karena masyarakatnya setuju untuk itu. Salah satu penyebab kepunahan bahasa adalah selera masyarakatnya yang gemar melecehkan martabat kepenyairan, bukan karena mereka menyepelekan balai atau badan bahasanya.

Dulu, bahasa Arab dan bahasa Suryani itu hidup bersama. Namun, karena penyair sangat dihargai di Arab dan tidak begitu di masyarakat pengguna bahasa Suryani (mungkin juga Ibrani), maka bahasa Suryani kini nyaris punah pemakainya. Sering hanya digunakan untuk menulis rajah dan azimat.

Hilangnya penghargaan itu, salah satunya, karena penghargaan terhadap makna suatu kata tidak digunakan secara tepat bahkan ngawur. Contohnya ya ustad ini.

Di terminal, misalnya, makelar punya kecepatan mengidentifikasi calon penumpang berdasarkan busananya. Acap mereka memanggil dengan sebutan yang menyiratkan keakraban, sekiranya pas karena dianggap tepat. Orang-orang pasar juga punya keahlian serupa, tukang becak dan penjual, katakanlah. Intinya, di banyak tempat umum, pengalaman dalam mengidentifikasi cepat seperti ini mudah ditemukan.

Jika ada seorang berusia 40 atau 50-an dan mengenakan peci haji, ia akan disapa dengan “Mau ke mana, Pak Haji?” (di terminal) dan atau “Cari apa, Pak Haji?” (di pasar). Tentu, makelar dan pedagang tidak perlu melakukan wawancara lebih dulu apakah orang yang melintas tersebut sudah menunaikan ibadah haji atau belum. Mereka hanya memindai secara cepat terhadap salah satu simbol busananya; peci atau jubah atau serban yang dikenakan.

Adanya sinetron, film, juga media sosial yang menokohkan seseorang yang (kelihatan seperti) ahli dalam agama berdasarkan busananya membuat definisi ustad meluas. Jika ada orang yang kalau ngomong sebentar-sebentar membumbui ucapannya dengan bahasa Arab dan atau kutipan hadits, akan dengan mudah disebut ustad oleh sekelompok orang tertentu. Memang, penggunaan panggilan atau sebutan macam ini bukan hal yang salah. Akan tetapi, apa benar ia seorang ustad, seorang ahli, seorang pakar (di bidangnya)?

Kita maklum, karena nongol belakangan, bahasa Indonesia mengunduh kosakata dan lema dari bahasa berbagai bangsa. Yang paling banyak tentu dari bahasa daerah, bahasa serumpun, dan dari bahasa Arab (karena faktor kitab dan penyebaran Islam), juga dari bahasa Belanda (karena unsur penjajahan yang lama), dan tentu saja, yang terakhir dari bahasa Inggris (karena penggunaan istilah-istilah mutakhir/teknologi). Dalam proses itu, terjadi pergesaran makna: baik menyempit, meluas, bahkan menyimpang.

Di sini saya akan membicarakan lema yang berasal dari Bahasa Arab saja agar tidak kebablasan ngomong ke mana-mana. Sebut saja satu contoh: amal. Kata amal mengalami penyempitan. Arti asal amal adalah ‘berbuat/perbuatan’, tapi kini disempitkan hanya untuk perbuatan baik. Jika ditulis, “Umumnya maling beramal di malam hari,” jadi wagu kan?

Yang maknanya meluas juga ada dan inilah yang sedang kita bicarakan. Sebut contoh: ustad. Di Indonesia khususnya, makna kata ustad telah meluas, bahkan nyaris salah kaprah. Mestinya, sebutan ustad itu istimewa karena ia adalah gelar kepakaran yang disematkan untuk ahli di bidang ilmu tertentu, semacam profesor. Sebagai gelar dalam jagat akademik, ustad bersinonim dengan pakar. Al-ustad fi al-falsafah, misalnya, adalah guru besar filsafat, dst.

Di Madura, mungkin pula daerah lain, jika yang sedang melintas adalah seorang remaja usia 30-an tahun, bersarung dan berpeci, baik putih maupun peci hitam, orang cenderung langsung menyapanya dengan sebutan ustad. Sebutan ini adalah identitas bagi seorang pengajar, guru di pondok pesantren, ataupun santri senior. Ustad mengalami perluasan makna dari kata asalnya yang memiliki arti guru ahli atau profesor. Saat ini, khususnya di Indonesia, kata ustad dipahami sebagai guru agama atau mereka yang ahli di bidang agama.

Bagian yang “menyimpang” (saya beri tanda kutip karena kata tersebut dinaturalisasi sepaket dengan kesalahpahaman dari kata asalnya) ada juga lho. Contohnya, kalimat. Kalimat berasal dari bahasa Arab kalimah atau kalimat yang berarti ‘kata’, namun di sini ia bermakna ‘sebuah susunan kata yang memiliki satu pemahaman atau pengertian (kalam), alias sebuah susunan yang dapat dimengerti dan predikatif.’

Kasus demi kasus kebahasaan semacam itu dimaklumi saja. Namanya juga akulturasi dan asimilasi, wajarlah, mau apa lagi? Toh, bahasa itu terbentuk berdasarkan konvensi. Andai kita bersepakat memahami chair sebagai verba ‘meleleh’, tidak apa-apa juga.

Di sisi lain, terkadang kita menggunakan kata tertentu hanya karena sudah paham terhadap artinya harfiahnya, bukan paham secara istilah.

Sesekali kita mendengar ada orang yang menggunakan kata al-hafidh ‘penghafal’ untuk gelar penghafal Al-Quran, padahal secara istilah ia merupakan gelar terhadap penghafal hadis.

Kembali ke ustad, kita tidak perlu menyalahkan wartawan atau pakar dan pengguna bahasa yang telah terlibat aktif melakukan tindak perluasan dan penyempitan makna ini, atau pula yang menyimpangkannya. Semua itu merupakan “sunah” bahasa. Yang jadi masalah ialah apabila membiarkan kata-kata yang telah meluas ini digunakan secara sembarangan tanpa dasar pengetahuan.

Iklan

Ada cerita anak-anak muda (atau siapa pun) yang karena kebanyakan nonton tivi dan mengamati lini masa media sosial, lantas dengan mudah latah. Kacaulah jika mereka begitu mudah tepedaya oleh penampilan tokoh melalui identitas fisik seseorang hanya karena ia sering nongol di acara tertentu di televisi. Modal hafal hadis atau ayat untuk tema tertentu tidaklah cukup untuk menjadi ustad. Beban moral dan pengetahuan ustad tidak seenteng itu, dan terlebih jika ditambah belagu nuding sana-sini dengan mengafirkan sesama ahlul qiblat, sesama muslim yang masih melaksanakan salat.

Apa yang terjadi kemudian? “Semua ustad” bakal kena getahnya. Kata pepatah: gara-gara ngawur setitik, rusak ustad semuanya.

Terakhir diperbarui pada 8 Desember 2017 oleh

Tags: Agamaarti katabahasabahasa arabbahasa indonesiaserapanustad
M. Faizi

M. Faizi

Aktivis tahlilan dalam kampung hingga antarkota antar-provinsi. Menyukai perjalanan naik bus dan menuliskan catatan perjalanannya. Menulis buku dan lagu berbagai genre, fingerstylist tapi takut kamera, banyak suka terhadap barang-barang lawas, terutama Colt T120

Artikel Terkait

Ancaman "Indomi" bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma MOJOK.CO

Ancaman “Indomi” bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma

4 Mei 2026
Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
AI, ChatGPT, Kecerdasan Buatan Bisa Nggak Cerdas Lagi kalau Gantikan PNS dan Hadapi Birokrasi Fotokopi MOJOK.CO

ChatGPT Bukan Ustaz: Bolehkah Bertanya Soal Hukum Agama kepada AI?

28 Januari 2026
Katolik Susah Jodoh Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami MOJOK.CO

Cari Pasangan Sesama Katolik itu Susah, Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami

13 November 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

24 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

Banyak Lulusan S1-S3 Nganggur Bukan Cuma karena Lapangan Kerja, Tapi Ada Juga Dua Masalah yang Jarang Disadari

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.