MOJOK.CO, Jogja National Museum, Yogyakarta – ARTJOG menawarkan tema besar ARS LONGA Trilogia mulai 2026–2028 yang berarti “Trilogi Seni Itu Panjang”.
Pihak penyelenggara menjelaskan, tema “ARS LONGA: GENERATIO” yang mengawali trilogi ini mendorong dialog antargenerasi dalam praktik seni. Selain itu juga membayangkan kembali peran dan relevansi sosial seni di berbagai rentang usia.
Bagi pihak penyelenggara, tema ini merupakan upaya untuk memaknai ulang praktik seni kontemporer di tengah ketidakpastian, baik sebagai bentuk perlawanan, produksi pengetahuan, maupun proses penyembuhan.
Karya-karya dalam ARS LONGA: GENERATIO
ARTJOG mengundang Roby Dwi Antono sebagai seniman komisi untuk menerjemahkan tema ARS LONGA: GENERATIO dengan menyajikan serangkaian karya instalasi patung dan ruang imersif bertajuk GENERATIO: CYCLUS VITAE.
Seri karya ini disebut menyoroti bagaimana luka dari generasi sebelumnya menjadi warisan yang membentuk identitas baru bagi generasi berikutnya. Seri karya ini terbentang melalui tiga bagian, mulai dari Vulnera: Bekas Luka Antargenerasi pada fasad utama, Rahim Kolektif dan Generasi Alien pada ruangan pertama, dan Generatio Continua: Kematian sebagai Katalis Kelahiran Kembali Sebuah Generasi pada ruang berikutnya.
Agenda pratinjau pameran dilaksanakan pada 19 Juni 2026, menampilkan karya seni performans Living Thread dari Hiromi Tango.
Terinspirasi dari shimenawa, tali suci dalam tradisi Jepang yang melambangkan ikatan dan perlindungan, karya ini diaktivasi melalui prosesi performatif di gedung pameran utama dan mengajak publik berpartisipasi dalam pengalaman kolektif lintas generasi. Hiromi Tango direpresentasikan oleh Cuturi Gallery.

Gagasan ARS LONGA: GENERATIO kemudian dipertegas melalui dua pendekatan, yaitu Dialogus dan Prāctica. Dialogus mengutamakan dialog antargenerasi dan persoalan generasional yang direalisasikan melalui karya kolaboratif. Pendekatan ini ingin menunjukkan bagaimana para seniman telah memperluas perannya melalui jejaring yang mereka bangun, terutama bagi generasi yang lebih muda. Sejumlah perupa dalam segmen ini, antara lain Alyakha Kolektif (Jayapura), Atreyu Moniaga Project (Jakarta), dan Dolorosa Sinaga & Kelas Aktivisme Seni (Jakarta).
Sementara segmen Prāctica menghadirkan karya-karya seniman individu yang mewakili beragam praktik seni dan berbagai isu dan wacana kontemporer. Jessica Soekidi (Banten) mempresentasikan The Disco of Roots: A Rhizomatic Collective yang memosisikan umbi-umbian sebagai arsip hidup pengetahuan tentang sejarah, mobilitas, dan ketahanan pangan.
Radi Arwinda Experience (1985–2025, Bandung) menelusuri gagasan akulturasi budaya yang lekat pada praktik seniman Radi Arwinda melalui perpaduan simbol budaya Cirebon dengan elemen-elemen khas budaya populer. Presentasi karya ini menjadi bentuk penghormatan ARTJOG atas praktik kesenian Radi Arwinda yang menandai semangat zaman.
TEMPA turut mempresentasikan karya hasil riset artistiknya di Palu, Sulawesi Tengah. mengenai peran kain kulit kayu sebagai artefak budaya yang menyimpan nilai-nilai spiritualitas, ekologi, dan sejarah.
Seni pertunjukan ARTJOG
Sementara itu, performa•ARTJOG bersama Bakti Budaya Djarum Foundation, menghadirkan berbagai seni pertunjukan melalui panggilan terbuka serta menyajikan sejumlah pertunjukan spesial untuk mengintegrasikan tema festival.
Berkolaborasi dengan IFI Yogyakarta, performa•ARTJOG akan menampilkan permainan musik bernuansa elektro-pop oleh musisi Violet Indigo (Prancis), serta sajian tekstur dengan resonansi tajam oleh unit jazz eksperimental Watchdog (Prancis).
Selain itu, melalui kerja sama dengan Project Eleven Australia, performa•ARTJOG akan mempresentasikan pertunjukan kolaboratif antara musisi Australia dan Indonesia yang hanya berlangsung pada malam pembukaan ARTJOG 2026 oleh komposer Monica Lim (Australia), komposer Patrick Hartono (Vietnam/Indonesia), musisi Morgan May (Australia), dan Serenata Choir ISI Yogyakarta.
Proyek seni multidisiplin bertajuk Daughters of the Sea oleh Artistique Théâtre (Prancis) turut hadir dalam performa•ARTJOG. Karya ini menelusuri hubungan antara perempuan dan masyarakat dalam lanskap sosial yang beragam. Selain itu, terdapat pula karya seni performans bertajuk Ma‘Bua’ karya koreografer Densiel Lebang yang menyoroti praktik ritual Ma’Bua’ dalam masyarakat Toraja.
Panggung performa•ARTJOG X Bakti Budaya Djarum Foundation akan berlangsung setiap akhir pekan
selama penyelenggaraan ARTJOG.
Pihak penyelanggara juga menjelaskan, ARTJOG 2026 juga akan menyajikan program-program lain, seperti Exhibition Tour, Meet the Artist, Love🤟ARTJOG, ARTCARE Indonesia, dan The Others Lab.***(Adv)
BACA JUGA: Geliat Wayang Orang Kota Semarang di Tengah Arus Zaman, Karena Bukan Sekadar Seni Tradisional dan Kuno atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan