Mengenal Rip Current, Alasan Wisatawan Nggak Boleh Berenang di Pantai Parangtritis  

mengenal rip current alasan tidak berenang di pantai parangtritis

MOJOK.COSeperti tahun-tahun sebelumnya, malam pergantian tahun hingga fajar pertama di tahun baru, Pantai Parangtritis selalu dipadati pengunjung. Tidak sedikit yang kemudian coba-coba untuk bermain di bibir pantai. Padahal di pantai ini ada rip current yang sangat berbahaya bagi orang yang mencoba berenang. 

Apa itu rip current? Rip current adalah arus balik air laut yang terkonsentrasi pada jalur sempit karena keberadaan palung di bawahnya. Ombak ini terlihat tenang, namun sesungguhnya arusnya memiliki daya dorong yang kencang.

Salah satu pantai yang memiliki beberapa titik rip current adalah Pantai Parangtritis. Sehingga di pantai ini dan pantai-pantai sekitarnya sebenarnya sudah ada rambu peringatan untuk tidak berenang meski laut terlihat tenang. 

Wisatawan perlu mengetahui sejumlah ciri-ciri keberadaan rip current. Tandanya mudah dikenali karena cukup mencolok.

Tanda keberadaan rip current atau arus balik laut

Pertama ditandai dengan gelombang ombak yang relatif lebih tenang daripada sekitarnya. Hal ini terlihat aman, tapi justru menyimpan bahaya. Ombak yang tenang salah satunya disebabkan ombak yang tidak menabrak karang.

Kedua, air pada arus tersebut lebih keruh. Hal ini disebabkan banyaknya pasir dari pantai yang terseret ke tengah laut pada jalur tersebut. Hal ini membuktikan bahwa arusnya memang kencang.

Di Pantai Parangtritis dan sekitarnya ada sekitar lima titik palung laut yang menyebabkan adanya rip current. Padahal, pantai ini tergolong ramai dikunjungi wisatawan saat musim liburan, termasuk libur akhir tahun.

Selain keberadaan rip current, pada dasarnya pantai di selatan Jawa memang dikenal memiliki ombak yang besar. Besarnya ombak biasanya dipengaruhi oleh kecepatan angin, durasi angin, dan area pembangkitan ombak.

Dinas Pariwisata Provinsi DIY, dalam laman resminya juga menjelaskan bahwa jarak antara daratan di Pulau Jawa dengan Benua Australia turut menyebabkan gelombang tinggi. Jarak yang mencapai enam ribu kilometer ini membuat angin menerjang daratan secara lebih kencang karena tanpa hambatan.

Cara menyelamatkan diri dari rip current

Sebenarnya pantai di selatan DIY seperti Parangtritis telah banyak terpasang peringatan larangan berenang. Namun seringkali masih ada wisatawan yang nekat untuk bermain air.

Jika terjebak kondisi terbawa arus ini, wisatawan dapat melakukan upaya-upaya khusus agar bisa selamat.

Paling utama, ketika terseret ombak wisatawan harus tenang. Kepanikan membuat lebih banyak energi yang tersedot. Hal itu justru menyulitkan upaya penyelamatan yang dilakukan diri sendiri maupun regu penyelamat.

Selanjutnya, upayakan berenang ke kiri atau ke kanan area tersebut. Setelah berhasil berpindah sisi, barulah upayakan untuk berenang ke tepian. Mencoba untuk langsung menerjang arus ke tepi tanpa berpindah sisi justru sulit karena arus balik rip current yang kencang.

Secara umum, jika hendak bermain air di pantai juga perlu menggunakan pakaian renang dan tidak menggunakan alas kaki. Pakaian yang tidak sesuai prosedur, seperti celana jeans dan sepatu, akan menyulitkan saat berusaha menyelamatkan diri.

Nah terakhir, wisatawan pasti pernah mendengar larangan untuk menggunakan pakaian berwarna hijau di pantai selatan. Ternyata larangan itu punya alasan yang logis. Menurut pemaparan dari regu penyelamat Pantai Parangtritis, pakaian hijau membuat tim SAR susah mengidentifikasi sebab warna tersebut menyerupai warna air laut.

Berkunjung ke pantai memang menyenangkan, tapi wisatawan perlu mematuhi peraturan yang telah terpampang di sekitar pantai. Selain berenang, masih banyak aktivitas menyenangkan lain yang bisa dilakukan seperti berswafoto, menikmati senja, dan menunggangi sejumlah wahana yang tersedia di pinggiran.

Penulis: Hammam Izzudin
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Tak Melulu Parangtritis, Ini Rekomendasi 7 Pantai Jogja yang Wajib Didatangi Saat Liburan

 

 

Exit mobile version