Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Menelusuri Kampung Sayidan, Kampung Arab dalam Lagu Andalan Shaggydog

Kenia Intan oleh Kenia Intan
26 September 2023
A A
Kampung Sayidan, Kampung Arab dalam Lagu Shaggydog MOJOK.CO

Kampung Sayidan, Kampung Arab dalam Lagu Shaggydog (https://pariwisata.jogjakota.go.id/)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pamor Kampung Sayidan meningkat berkat lagu “Di Sayidan”. Di balik kepopuleran itu, tidak banyak yang tahu kalau kampung ini dahulunya tempat bermukim orang Arab. 

Sayidan mungkin menjadi kampung paling populer di Jogja. Nama kampung ini melejit ketika band asal Jogja,  Shaggydog, menjadikannya sebuah lagu “Di Sayidan”. Lagu yang masuk dalam album “Hot Dogz” (2003) itu terkenal, bahkan hingga saat ini. 

Iklan

Di berbagai media, Aloysius Oddisey Sanco atau pemain Bass Shaggydog yang lebih terkenal dengan nama andizt menceritakan, lagu tersebut memang menceritakan soal Sayidan. Kampung di mana Shaggydog terbentuk pada 1 Juni 1997.

Sayidan merupakan kampung yang berada di jantung Kota Jogja. Jaraknya kurang lebih hanya 1,5 kilometer dari titik nol kilometer Jogja. Kampung ini terletak di pinggir Kali Code, salah satu kali yang membelah Kota Yogyakarta.

Apabila ingin menuju tempat ini, ada pendanda yang sangat mudah dikenali adalah Jembatan Sayidan. Kampungb ini etrletak di sisi barat sungai sebelah selatan jemabtan. Di salah satu sisi jembatan ini terdapat papan ertuliskan huruf latin dan huitf jawa di atas sebiah gang. Itulah pintu masuk menuju Kampung Sayidan

Kampung Sayidan mantan kampung Arab 

Di balik kepopuleran kampung ini. Sayidan menyimpan cerita yang panjang. Salah satunya, kampung ini menjadi tempat bermukim kelompok Arab yang ada di Jogja. Sekitar 1920-1930, mamang ada banyak etnis yang tinggal di Yogyakarta selain warga asli. Ada Eropa, China, dan Arab yang jumlahnya paling sedikit. Melansir buku “Dinamika Kampung Kota” jumlah penduduk Arab di zaman itu sekitar 164 orang saja.

Sayangnya, jejak etnis Arab di kampung ini tidak berbekas. Kecuali, nama “Sayidan” yang bertahan menjadi nama kampung hingga saat ini. Kampung Sayidan berasal dari kata “Sayid”. Kata ini berarti keturunan dari Nabi Muhammad S.A.W. melalui cucunya, Husein bin Ali. Sebelum abad ke-20, golongan sayid memang lebih dominan di Yogyakarta.

Di dalam kelompok etnis Arab, ada Kapten Arab yang diangkat oleh komunitasnya. Ia bertugas mengurus berbagai kepentingan warga etnis Arab. Kapten Arab pertama di Yogyakarta adalah Abu Bakar bin Guthban (1884). Sri Sultan Hamengku Buwono VII kemudian memberinya sebuah tempat di daerah yang kini menjadi Sayidan.

Di berbagai literatur menjelaskan, Sayidan memang pernah menjadi pemukiman orang Arab. Namun, hal itu tidak bertahan selama-lamanya. Melansir buku “Toponim Kota Yogyakarta” yang ditulis Nur Aini Sulistyowati dan Heri Priyatmoko (2019), sejak awal abad ke-20 wilayah ini sudah tidak lagi dihuni etnis Arab. Ada beberapa faktor yang membuat kelompok Arab tersingkir dari Sayidan. Selain banyaknya pendatang baru ke kampung itu, faktor ekonomi diperkirakan menjadi alasan lain. Penduduk Kampung Sayidan kini lebih banyak dihuni oleh orang Jawa dan keturunan China.

Penulis: Kenia Intan
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Menelusuri Kampung Kwarasan di Magelang, Siasat Belanda Menghindari Penyakit Pes
Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 26 September 2023 oleh

Tags: kampung arabkampung sayidansayidan
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Shaggydog: Sebuah Dunia yang Dibangun dari Persahabatan dan Kerja Keras
Video

Shaggydog: Sebuah Dunia yang Dibangun dari Persahabatan dan Kerja Keras

18 November 2025
Heruwa: Shaggydog, Sayidan, dan Kisah-Kisah yang Diabadikan dalam Buku
Video

Heruwa: Shaggydog, Sayidan, dan Kisah-Kisah yang Diabadikan dalam Buku

24 Januari 2022
Shaggydog saat peluncuruan buku biografi mojok.co
Panggung

Shaggydog dan Warisan Angkat Sekali Lagi Gelasmu Kawan

31 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.