Jogja Gelut Day Disambut Antusias, Jawara Klitih Bakal Berlaga di MMA

jogja gelut day mojok.co

Jogja Gelut Day (IG @jogja.gelut)

MOJOK.COAjang untuk menampung bakat berkelahi anak muda Yogyakarta, Jogja Gelut Day, diminati ratusan orang. Sebagai salah satu solusi mengatasi klitih, ajang ini akan membina anak muda sebagai atlet beladiri profesional.

Hal itu disampaikan pihak Humas Jogja Gelut Day, Arawinda, dalam diskusi daring ‘Mencari Alternatif Penanganan Kejahatan Jalanan yang Ramah Kaum Muda’, gelaran Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (27/4).

Jogja Gelut Day dicetuskan oleh musisi Erix Soekamti dan menggandeng komunitas Mix Martial Art (MMA), termasuk melibatkan para pemain dan praktisi cabang beladiri campuran asal Jogja. “Kami coba mengakomodasi dan menjadi ajang aktualisasi juga sebagai upaya penanggulangan dan preventif kejahatan jalanan. Ini yang mampu kami lakukan,” ujar Arawinda.

Dengan tagline Nek wani ojo wedi-wedi, nek wedi ojo wani-wani, pendaftaran Jogja Gelut Day yang telah dibuka gratis sejak 12 April lalu hingga 30 April nanti. Dengan target peserta 500 orang, saat ini peserta yang telah mendaftar sekitar 480 orang. “Turnamen ini sifatnya terbuka. Semua orang bisa ikut dan akan mendapat pembinaan,” ujarnya.

Menurut Arawinda, pertandingan akan mengacu pada aturan MMA internasional. Pertarungan akan terbagi dalam empat kategori yang akan dibagi sesuai jenis kelamin, usia, dan pengalaman peserta.

Pertarungan akan berlangsung dua ronde, dengan masing-masing 1,5 menit, dan akan dipimpin wasit MMA bersertifikat. Setelah serangkaian laga, final Jogja Gelut Day akan digelar 30 Juni.

“Peserta remaja juga harus didampingi orang tua, wali, atau pelatih dan juga harus ada surat izin orang tua dan surat keterangan kesehatan,” katanya.

Arawinda menjamin perkelahian di ajang ini aman. Secara teknis, peserta juga harus mengenakan kostum dan pengaman tubuh, seperti protector, pelindung mulut, baju olahraga ketat, bahkan mengakomodasi peserta perempuan berhijab.

“Aturan jelasnya dari internasional. Kami juga sudah sosialisasi sebelum pertandingan. Ini tidak asal bertanding tapi ada aturannya,” tandasnya.

“Panitia juga menyediakan tim medis saat pertandingan. Skala risiko akan kami kecilkan. Sekiranya membahayakan akan disetop,” katanya.

Arawinda menyatakan, juara dan peserta yang berbakat akan diberi kesempatan terjun ke dunia beladiri professional. “Mereka akan ditarik untuk mendapat pembinaan supaya naik ke jenjang lebih tinggi seperti di MMA,” ujarnya.

Menurutnya, selain mendapat peluang dan apresiasi, termasuk popularitas yang diidamkan anak muda, emosi mereka juga dapat disalurkan. “Emosi mereka akan ditekan supaya tidak sembarangan. Kalau terus latihan, itu terbukti di atlet beladiri kita,” kata dia.

Ajang ini sekaligus menjadi kesempatan olahraga beladiri yang selama ini susah mendapat tempat di kaalangan anak muda dan sekolah untuk unjuk gigi, bahkan menjaring atlet baru. “MMA selama ini lekat dengan kesan sadis, padahal sudah terbukti aman,” ujarnya.

Jogja Gelut Day juga akan dihelat sebagai sportainment dan sportourism yang berkelanjutan, bahkan bakal digelar empat kali dalam setahun.

“Istilah kami jadilah gento atau preman yang terhormat dan diakui. Maksudnya, kita punya cara sendiri kalau mau melampiaskan emosi, punya tenaga berlebihan, yakni dengan output sebagai anak muda berprestasi di bidang beladiri,” tutur Arawinda.

Ajang ini agaknya selaras dengan penjelasan Oki Rahadianto, Direktur YouSure (Youth Studies Centre), lembaga studi tentang anak muda yang dibentuk Fisipol UGM. Menurutnya, selama ini soal klitih di Jogja dipandang dengan perspektif defectology.

“Pandangan ini melihat apa yang salah dengan anak muda. Padahal cara pandang yang bisa dihadirkan adalah dengan melihat dari perspeksitf anak muda sendiri,” tuturnya.

Ia memaparkan bahwa kejahatan jalanan oleh anak muda Jogja tak lepas dari situasi transisi. Bukan hanya perubahan pada diri anak muda sendiri, melainkan juga perubahan di lingkungan dan dunia, termasuk disrupsi teknologi hingga kesenjangan sosial. “Ini bukan hanya masalah lokal, tapi juga fenomena global,” katanya.

Reporter: Arif Hernawan
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Yogya Pernah 12 Kali Diguncang Gempa Dahsyat, Abdi Dalem Keraton Gelar Simulasi dan kabar terbaru lainnya di KILAS.

Exit mobile version