ADVERTISEMENT

Jeda Biennale Jogja setelah 16 Tahun Perjalanan Kebudayaan

Setelah 16 tahun perjalanan, Biennale Jeda memutuskan berhenti MOJOK.CO

MOJOK.CO, YOGYAKARTA – Melalui Mini Festival “Kenduri Setali Laku”, Yayasan Biennale Yogyakarta mempertemukan kembali seniman, komunitas, dan masyarakat yang selama ini terlibat dalam perjalanan Biennale Jogja, sekaligus menjadi penanda mengembalikan amanah penyelenggaraan BJ kepada Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mini Festival yang  telah berlangsung pada 2 Oktober 2026 lalu ini menghadirkan rangkaian kegiatan meliputi: pameran arsip, pertunjukan seni, aktivitas bersama, dan ruang untuk berkumpul.

Kenduri Setia Laku: ruang jeda 16 tahun perjalanan Biennale Jogja

Gagasan kenduri menjadi cara untuk berkumpul dan merawat hubungan, sementara setali laku merujuk pada beragam praktik dan pengalaman yang saling terhubung dalam satu perjalanan. Kenduri Setali Laku menjadi ruang jeda dalam perjalanan Biennale Jogja bersama masyarakat. Bukan untuk mengakhiri perjalanan, tetapi untuk melihat kembali apa yang sudah dilalui, merawat hubungan yang telah terbangun, dan mengingat kembali berbagai proses yang tumbuh dari kerja seni dan komunitas.

Selama ini, Biennale Jogja hadir tidak hanya melalui pameran, tetapi juga lewat berbagai pertemuan, program publik, kolaborasi, dan kerja bersama masyarakat. Setelah bekerja secara kolaboratif dengan beragam komunitas seni selama 16 tahun terakhir, untuk mewujudkan upaya penciptaan ekosistem seni di Yogyakarta yang terhubung dengan kehidupan kesenian lokal tetapi juga menjadi bagian dari ruang percakapan global, Yayasan Biennale Yogyakarta memutuskan untuk lerem dan mengembalikan Amanah penyelenggaraan BJ kepada Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Semenjak Biennale Jogja XI 2011, Biennale Jogja menyatakan diri sebagai perhelatan internasional yang membuka diri terhadap berbagai pendekatan, dengan narasi tentang Khatulistiwa sebagai titik berangkat, sekaligus sebagai tindakan kritis dalam menyikapi ketimpangan geopolitik dunia. Sepanjang 16 tahun, Biennale Jogja telah melibatkan lebih dari 2000 seniman baik sebagai seniman utama maupun kolaborator, yang mencakup wilayah Nusantara dari Aceh hingga Papua, serta mengundang kurator, seniman, penulis, aktivis dari 40 negara.

Ada banyak sekali apresiasi dari berbagai Masyarakat internasional terhadap berbagai langkah dan terobosan-terobosan yang telah diselenggarakan selama Biennale Jogja periode 2011 hingga 2026 ini, terutama bagaimana yayasan ini mampu mendayagunakan modal-modal sosial dan spirit kebersamaan sebagai pijakan penyelenggaraan.

Yayasan Biennale Yogyakarta dibangun melalui berbagai ruang pertemuan, pertukaran pengetahuan, dan kerja bersama yang telah dijalankan selama perjalanan Biennale Jogja. Dalam perjalanannya Yayasan Biennale Yogyakarta telah mengadakan 8 Simposium Khatulistiwa dan 8 edisi Asana Bina Seni. Keduanya menjadi ruang untuk mempertemukan seniman, kurator, peneliti, komunitas, dan masyarakat, sekaligus membuka percakapan dan pengalaman yang berangkat dari berbagai tempat dan praktik. Dari sana, tumbuh hubungan, pengetahuan, dan kerja-kerja yang tidak selalu selesai ketika sebuah program berakhir.

Mengapa membincangkan lagi tentang Amanah?

Setiap zaman mewarisi amanah kebudayaannya sendiri. Amanah itu tidak hadir sebagai sesuatu yang telah selesai, melainkan terus mengemuka sebagai panggilan pada ruang dan waktu tertentu. Horizon Setiap zaman mewarisi amanah kebudayaannya sendiri. Amanah itu tidak hadir sebagai sesuatu yang telah selesai, melainkan terus mengemuka sebagai panggilan pada ruang dan waktu tertentu.

Selama 16 tahun pula, Yayasan Biennale Yogyakarta terus bergulat dan melakukan perjalanan kebudayaan dengan upaya bernegosiasi dan beradaptasi, baik dengan rezim kekuasaan, pergolakan dunia, ataupun perubahan teknologi dan percepatan atau pelambatan ekonomi.

Perjalanan kebudayaan ini dihayati melalui irama kebudayaan Yogyakarta:

  • Nut Ubenging Cakra Manggilingan: Menyadari roda kehidupan yang terus berputar sehingga tidak ada bentuk kelembagaan yang dibekukan secara abadi.
  • Mulur–Mungkret: Kemampuan memperluas jangkauan (mulur) dengan peka daya dukung, atau mengecilkan/memfokuskan langkah (mungkret) tanpa merasa gagal.
  • Leren & Lerem: Keberanian berhenti sejenak (leren) dan mengendapkan batin (lerem) untuk mengevaluasi diri, mendengarkan kritik, dan membenahi struktur.
  • Mengemban Tanpa Memiliki: Sikap batin untuk menjalani amanah dengan kesungguhan tanpa mengklaim kepemilikan mutlak atas karya, reputasi, maupun penerus generasi.

“Kami memaknai leren dan lerem sebagai bentuk untuk menyerahkan kembali amanah kepada yang telah memercayai kami selama ini, sembari berharap ada warisan-warisan kerja dalam komunitas yang akan terus berlangsung sebagai spirit yang hidup dalam keseharian seniman dan warga,” tulis siaran tertulis Biennale Jogja.

“Berbagai pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk membangun ekosistem seni bersama. Ekosistem yang kami bayangkan bukan sesuatu yang dibentuk oleh satu lembaga atau berjalan melalui satu program, melainkan tumbuh dari hubungan yang terjalin di antara seniman, komunitas, masyarakat, dan berbagai pihak yang terlibat. Apa yang telah dimulai selama ini diharapkan dapat terus bergerak melalui orang-orang yang menjalaninya, pengetahuan yang dibagikan, serta praktik yang tumbuh di tempat masing-masing,” sambung siaran tersebut.***(Adv)

BACA JUGA: PESTA BONEKA #10 – Bergandengan Tangan Menandai Perjalanan Dua Dekade Papermoon Puppet Theatre Mendunia lewat Teater Boneka atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 Oktober 2026 oleh .

Redaksi

Kontributor aktif media opini dan satir.