Berhenti di Mas Menteri, Penetapan Hari Keris Nasional Tanpa Kejelasan

empu keris mojok.co

Para empu dan perajin keris memamerkan beragam keris di MAS 2022, Sabtu (17/09/2022).(yvesta ayu/mojok.co)

MOJOK.CO – Pandemi memporak-porandakan banyak segi kehidupan masyarakat di seluruh dunia tak terkecuali dunia perkerisan nasional. Sejak awal 2020, praktis tak ada aktivitas besar yang mempertemukan para pelaku perkerisan nasional. 

Padahal UNESCO sudah menetapkan keris sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak 25 November 2005 lalu. Namun hingga saat ini belum juga ada kepastian dari Kemendikbudristek.

“Penetapan hari keris penting sekali agar masyarakat luas kembali mengingat keberadaan keris sebagai warisan luar biasa dari nenek moyang kita, tapi seperti mandeg [berhenti-red] di Mas Menteri (nadiem makarim-red),” papar Wasekjen Senapati Nusantara yang juga Ketua Umum Musyawarah Agung Senapati Nusantara(MAS) 2022, Nurjianto disela pameran keris dan MAS di Yogyakarta, Sabtu (17/09/2022).

Menurut Gus Poleng, sapaan Nurjianto, penetapan Hari Keris Nasional tersebut sangat penting agar keberadaan keris di Indonesia, termasuk di DIY tetap bisa dilestarikan. Sebab hampir 60 persen keris yang disimpan mengalami kerusakan akibat tidak dirawat.

Banyak pemilik yang tidak tahu atau tidak mau merawat keris dengan benar. Akibatnya banyak koleksi keris yang berkarat atau bahkan rusak.

“Gak perlu bahas yang rumit-rumit, jika dijadikan hari nasional dan diwajibkan semua ASN, Polisi dan Tentara untuk pakai keris sehari saja dalam setahu berarti akan ada 5 juta keris yang terjual. Kalikan rata-rata sejuta saja sudah Rp5 triliun rupiah perputarannya,” paparnya.

Karenanya Senapati Nusantara selain mengawali pengajuan Hari Keris Nasional sebenarnya juga mengawal Bupati Sumenep untuk menempatkan Kabupaten Sumenep sebagai Kota Keris.

Selain itu dalam pertemuan para empu keris kali ini, Senapati Nusantara menandatangani kerjasama dengan Kabupaten Sumenep dalam penyusunan Perda Rencana Strategis Pengembangan Keris. Perda tersebut diharapkanmemberi arahan bagaimana pengembangan SDM perajin keris karena di Sumenep ada sekitar 700 empu dan perajin keris yang membutuhkan peningkatan kualitas SDM.

“Hari ini kita akan tandatangani MoU kerjasama penyusunan perda yang akan jadi pilot project yang bisa dicontoh oleh daerah lain seluruh Indonesia bagaimana mengembangkan ekosistem perkerisan, dari sisi spiritual, pendidikan, art, sains metalurgi, seni kriya, dan juga elemen ekonomi UMKM-nya,” jelasnya.

Gus Poleng menambahkan, dirinya berharap pelestarian keberadaan keris atau tosan aji bisa dilakukan sejak dini. Satuan pendidikan dari SD sampai universitas harusnya bisa mengenalkan sejarah dan kebudayaan keris termasuk di dalam sains keris.

Pemerintah daerah pun perlu ikut mendorong pameran secara rutin dan kerjasama dengan instansi lain. Seperti yang dilakukan para empu di Sumenep yang akhirnya kebanjiran banyak pesanan souvenir keris untuk acara G-20.

Selain pameran, pemda diharapkan bisa memfasilitasi pengiriman ke dalam dan ke luar negeri. Dengan demikian pemda bisa ikut menjaga artefak-artefak, keris-keris tua untuk tidak lari ke luar negeri.

“Kalau satu dan dua sukses kan perdagangan bisa diganti dengan keris karya empu-empu masa kini sehingga artefak akan tetap di Indonesia. Kita butuh museum keris, kurator, dan juga para penjaga gawang tapi juga dengan cara membantu. Soal pengiriman ke luar negeri, selama ini jadi masalah besar karena lewat jalan belakang. Nah, sudah dibuat terbuka saja,” paparnya.

Sementara Ketua Pelaksana Harian organisasi induk keris terbesar di Indonesia, Senapati Nusantara, MM Hidayat, mengungkapkan, setelah tiga tahun masa kelam pandemi, MAS 2022 bisa kembali digelar bersama pameran dan bursa keris hingga Minggu (18/09/2022) besok. Para pelaku bursa keris datang dari seluruh penjuru Nusantara seperti dari Jawa Timur dan Madura, Bali dan Lombok, Sulawesi, Sumatera, Jakarta, Jabar, Solo, Jogja, Semarang dan daerah-daerah lain belum bergabung menjadi anggota Senapati Nusantara.

“Kami, panitia MAS sampai nangis, semalam sampai nangis semua, barengan nangis dan mengucap syukur. Antusiasme dan semangat kawan-kawan benar-benar seperti slogan MAS 2022 ini yakni Keris Nusantara untuk Indonesia Bangkit,” tandasnya.

Hidayat menambahkan, perilaku kolektor juga edan-edan seperti menumpahkan kegembiraannya. Dalam MAS kali ini, mereka banyak yang memasang tulisan siap barter dengan keris di mobilnya masing-masing.

“Padahal harga mobil-mobil kolektor itu minimal Rp 250 juta, mereka rindu membeli keris hebat,” tandasnya.

Reporter: Yvesta Ayu
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Mencurigai Kutukan Keris Mpu Gandring untuk Ken Arok

Exit mobile version