Benci dengan Tubuh Sendiri? Bisa Jadi Kalian Mengalami Body Dysmorphic Disorder

Benci dengan Tubuh Sendiri? Bisa jadi Kalian Mengalami Body Dysmorphic Disorder. MOJOK.CO

Ilustrasi Benci dengan Tubuh Sendiri? Bisa jadi Kalian Mengalami Body Dysmorphic Disorder. (Photo by Alexander Krivitskiy on Unsplash)

MOJOK.COBelum lama ini artis Megan Fox mengaku sedang berjuang menghadapi Body Dysmorphic Disorder (BDD). Kondisi itu membuatnya tidak merasa nyaman dengan bentuk tubuhnya. Lantas, apa itu BDD?

Psikolog UGM, Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie., M.Psi., Psikolog., mengungkapkan, BDD juga memiliki pengertian sebagai gangguan dismorfik tubuh. Berdasar Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) yang menjadi panduan diagnostik utama para profesional kesehatan mental, BDD merupakan salah satu masalah yang penandanya berupa kekhawatiran yang berlebihan terhadap kekurangan atau ketidaksempurnaan dalam penampilan fisik individu.

Dosen Fakultas Psikologi UGM ini menjelaskan bahwa BDD berbeda dari kekhawatiran tentang penampilan tubuh pada umumnya. Individu dengan BDD cenderung memiliki pikiran yang persisten dan mengganggu terhadap diri mereka. Kondisi tersebut menyebabkan penderitaan yang signifikan dan dapat memengaruhi perilaku dan fungsi individu.

BDD termasuk ke dalam salah satu gangguan kesehatan mental yang rentan individu alami dengan riwayat keluarga yang menderita BDD atau gangguan kecemasan lain. Menengok penelitian twin-study Enander, dkk (2017) menunjukkan bahwa secara moderate terdapat kemungkinan BDD diwariskan secara genetik.

“BDD juga cenderung terjadi di usia remaja dan dewasa, terutama pada perempuan,” jelasnya mengutip laman resmi UGM, Jumat (9/6/2023).

Beberapa faktor lain yang bisa berkontribusi terhadap memicu BDD adalah pengalaman traumatis seperti pelecehan fisik atau verbal terkait penampilan. Selain itu ada faktor lingkungan dengan adanya tekanan budaya. Misalnya, norma penampilan yang tidak realistis atau fokus berlebihan pada penampilan fisik.

Dampak pada individu

Penderita BDD rentan mengalami gejala depresi, kecemasan, atau stres yang tinggi. Mereka juga cenderung malu, putus asa, atau tidak berharga karena ketidakpuasan terhadap penampilan diri. Kesejahteraan emosional bisa terganggu dan dapat berdampak negatif ke suasana hati serta kehidupan sehari-hari.

Bukan tidak mungkin penurunan kualitas hidup pada penderita BDD bisa terjadi. Mereka berpotensi mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial, mengikuti aktivitas sosial, atau melakukan aktivitas sehari-hari karena kecemasan yang berkaitan dengan penampilan.

“Mereka mungkin menghindari situasi sosial, merasa terisolasi, atau mengalami kesulitan dalam merasa nyaman dengan diri mereka sendiri,” terangnya.

Aisha menambahkan pengidap BDD juga lebih berisiko mengalami gangguan makan. Ketidakpuasan yang berlebihan terhadap penampilan dan kekhawatiran tentang tubuh mereka dapat memicu pola makan yang tidak sehat atau perilaku makan yang terganggu.

Tanda-tanda BDD

Aisha menyampaikan terdapat beberapa tanda yang mengarah pada BDD, salah satunya preokupasi yang berlebihan terhadap penampilan fisik. Ada kecenderungan merasa khawatir secara terus-menerus dan berlebihan terhadap kekurangan atau ketidaksempurnaan yang mereka anggap ada pada penampilan fisik.

Selain itu, terlalu fokus pada bagian-bagian tubuh tertentu, seperti wajah, kulit, rambut, hidung, ukuran tubuh, atau bagian tubuh lainnya.

Gejala lainnya adalah persepsi yang terdistorsi terhadap penampilan. Sering memiliki persepsi yang tidak akurat atau terdistorsi tentang penampilan. Kecenderungan melihat diri jauh lebih buruk daripada apa yang sebenarnya terlihat oleh orang lain. Hal ini dapat menyebabkan kecemasan dan ketidakpuasan yang berlebihan.

Lalu, sering bercermin atau menghindari cermin. Terlalu sering memeriksa penampilan di cermin untuk mencari kekurangan atau perubahan kecil. Sebaliknya ada individu yang menghindari cermin sepenuhnya karena ketakutan melihat apa yang mereka anggap sebagai ketidaksempurnaan.

Berikutnya, perilaku mengubah penampilan. Kecenderungan untuk menyembunyikan atau memperbaiki kekurangan yang dianggap ada dengan berbagai cara.

“Terlalu terobsesi untuk menggunakan makeup berlebihan demi menutupi sesuatu yang orang rasakan kurang walaupun mungkin tidak ada. Mengenakan pakaian yang menutupi bagian tubuh tertentu, atau mencoba prosedur kosmetik yang berulang kali,”imbuhnya.

Aisha mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan self diagnose. Apabila merasa mengalami gejala-gejalan yang emngarah pada BDD, ia menyarankan untuk mencari bantuan profesional. Dengan perawatan yang tepat, termasuk terapi dan jika perlu pengobatan, dampak negatif BDD dapat dikurangi dan kualitas hidup dapat meningkat.

“Jangan ragu untuk mencari bantuan. Jika mengalami gejala yang mengganggu atau memiliki kekhawatiran tentang penampilan yang berlebihan, segera cari bantuan profesional dari psikolog atau psikiater yang terlatih dalam bidang tersebut,” tegasnya.

Penulis: Kenia Intan
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Biaya Kuliah Jurusan Hukum di Kampus Jogja, Ada yang Capai Ratusan Juta

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Exit mobile version