Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Ekonomi

Anggaran Hanya 0,6 Persen, Daerah Diminta Kembangkan Lumbung Pangan

Yvesta Ayu oleh Yvesta Ayu
22 November 2022
A A
lumbung pangan mojok.co

Ilustrasi makan (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pemerintah Daerah diminta segera mengembangkan lumbung pangan. Hal ini penting menyusul ancaman krisis pangan di tingkat global saat ini.

Pengembangan lumbung pangan ini sangat dibutuhkan karena masih banyak daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota di Indonesia yang belum memberikan perhatiannya pada urusan pangan. Salah satunya dengan masih minimnya anggaran pangan di daerah.

Iklan

Anggaran pangan daerah baru mencapai 0,6 persen dari total APBD. Sedangkan di tingkat kabupaten/kota baru 0,4 persen dari APBD.

“Kalau dirata-rata di provinsi dan kabupaten/kota baru 0,46 persen. Ini yang harus diperhatikan untuk ditingkatkan karena kondisi [krisis pangan] saat ini,” papar Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri (Dirjen Bangda Kemendagri), Teguh Setyabudi disela Perencanaan Program Ketahanan Pangan di Yogyakarta, Senin (21/11/2022).

Untuk itu Kemendagri mendesak pemda maupun pemkab/pemkot memberikan perhatian yang besar pada kesediaan pangan di daerah. Termasuk melaksanakan kebijakan yang sudah digariskan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk meningkatkan ketahanan pangan.

lumbung pangan mojok.co
Dirjen Bangda Kemendagri, Teguh Setyabudi dan Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi menyampaikan Perencanaan Program Ketahanan Pangan di Yogyakarta, Senin (21/11/2022).(yvesta ayu/mojok.co)

Pemda harus secara komprehensif memperhatikan kebutuhan pangan di masing-masing wilayahnya. Tidak hanya dari sisi kelembagaan melalui dinas yang khusus menangani masalah pangan namun juga alokasi anggaran yang dibutuhkan.

“Ada daerah yang alokasinya tidak pas. Anggaran pangan hanya Rp 4miliar sekian, tapi 80 persen [APBD] justru untuk belanja pegawai. Ini tidak pas kan karena hanya 20 persen yang anggaran untuk masyarakat,” tandasnya.

Sementara Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi mengungkapkan pengembangan lumbung pangan dibutuhkan agar pemerintah tidak perlu banyak mengimpor pangan dari luar negeri. Daerah harus memiliki cadangan pangan.

“Cadangan pangan daerah harus ada, tapi harus moving atau bergerak agar tidak rusak,” ujarnya.

Lumbung pangan, lanjut Arief harus dibangun. Pemda bisa bekerjasama dengan Bulog di masing-masing daerah karena saat ini ada lebih 1.600 gudang yang dimiliki Bulog.

“Kita tidak perlu bangun [infrastruktur] yang baru juga, kerjasama dengan Bulog di setiap daerah untuk padi, jagung dan kedelai bisa segera dimulai [lumbung pangan]. Sisanya nanti dengan BUMN pangan lainnya, kita perkuat satu persatu namun roadmap-nya harus jelas,” paparnya.

Desa-desa bisa memanfaatkan anggaran yang dialokasikan dari dana desa untuk pembangunan lumbung pangan. Apalagi saat ini tiap desa mendapatkan anggaran hingga Rp1 Miliar per tahunnya.

“Dari Rp 1 miliar, 20 persennya diminta untuk lumbung pangan karena saat ini [pemafaatan dana desa untuk pangan] masih 17 persen, ini kita perlu perbaiki bersama,” ungkapnya.

Reporter: Yvesta Ayu
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA 74 Daerah di Indonesia Rawan Pangan, Perlu Diversifikasi Makanan

 

Terakhir diperbarui pada 22 November 2022 oleh

Tags: krisis pangankrisis pangan globallumbung panganpangan
Yvesta Ayu

Yvesta Ayu

Jurnalis lepas, tinggal di Jogja.

Artikel Terkait

Petani di Gunungkidul, Jogja. MOJOK.CO

Temuan Padi BTI yang Hidupi Petani Gunungkidul Jogja, Bibit Padi yang Bisa Ditanam di Lahan Kering

27 Januari 2025
Derita Pedagang Beras Beringharjo, Akibat Harga Beras Naik Terus MOJOK.CO

Derita Pedagang Beras Beringharjo, Akibat Harga Beras Naik Terus

13 Oktober 2023
klaten lumbung pangan mojok.co

Klaten Lumbung Pangan di Jateng, Jaga Surplus Produksi Beras

16 Juni 2023
krisis iklim mojok.co

Apa yang Kita Makan Berpengaruh Pada Krisis Iklim, Kok Bisa Ya?

3 Juni 2023
sistem menyimpan pangan di dusun wintaos mojok.co

Belajar Mengamankan Pangan dari Masyarakat Wintaos Gunungkidul

11 Mei 2023
sampah makanan mojok.co

Miris! 22,9 Juta Orang Kurang Pangan sementara Warga Indonesia Hasilkan 185 Kg Sampah Makanan 

5 April 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
budidaya kenari

Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

26 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

24 Agustus 2026
Perempuan pakai tas cantel di Kota Medan dicap centil karena tingkat kriminalitas yang tinggi. MOJOK.CO

Saya Bersaksi Kota Medan Tak Ramah Perempuan: Pakai Tas Centel Lebih “Hina” dibanding Pelaku Kriminal

27 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan.MOJOK.CO

Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan

26 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.