Premis cerita kali ini lebih dramatis daripada serial misteri. Kemarin, media menulis judul berita, “Pengakuan Perempuan Pembuang Bayi Hingga Dimakan Anjing: Sebelum Dibuang, Saya Peluk dan Bawa Tidur…”.

Perempuan pembuang bayi tersebut merupakan ibu si bayi. Dan hanya dengan membaca premis itu, semua manusia yang memiliki hati nurani spontan akan menyetankan si ibu sebagai biadab. Bagaimana bisa seorang ibu membuang bayinya hingga dimakan anjing?

Masyarakat pembaca di kolom reply akun media Twitter meninggalkan komentar seragam. Pertama, mengutuk dan memaki si Ibu kriminal. Kedua, berpendapat bahwa perempuan jahat seperti si Ibu memang pantas masuk penjara.

“Begini nih, akibat pergaulan bebas.”

“Ini nih akibatnya kalau consent sex doang tapi nggak mau nanggung akibatnya.”

Tentu saja respons-respons di atas tidak keliru. Namun, sekali waktu respons masyarakat yang dominan perlu diuji ketepatannya.

Dan setelah membaca isi berita secara menyeluruh, begini rincian kronologisnya.

Perempuan itu adalah seorang buruh pabrik. Ia berusia 21 tahun ketika melahirkan si bayi malang. Sebelumnya, perempuan itu telah berpacaran dengan seorang mahasiswa laki-laki yang ia kenal lewat aplikasi pesan sejak tiga tahun lalu. Sampai, ia hamil dengan pacarnya itu.

Celaka, si laki-laki tidak bertanggung jawab. Konon, laki-laki itu ternyata punya pacar lain yang juga sedang hamil. Ia amat terpukul dengan fakta bahwa pacarnya tak pernah mengunjunginya lagi. Jadilah, ia melahirkan sendiri tanpa bantuan siapa pun di kosan dekat pabrik tempatnya bekerja. Dalam kondisi kepayahan setelah melahirkan seorang diri, ia mendapati bayinya lahir tanpa napas.

Baca juga:  Momen-Momen ketika Ibu Menangis

Malam itu, ia memeluki bayinya dan tidur bersama hingga keesokan hari. Ia masukkan si jabang bayi ke dalam tas plastik bersama pakaian kotor menuju ke rumah orang tuanya. Hingga, bayi itu ditemukan dengan kaki yang telah dimakan anjing.

Tenang. Kalian boleh menghela napas setelah mendengar kronologi lengkap ini. Kini, mari kita uji perspektif keadilan dalam diri kita masing-masing dengan kembali memeriksa ketepatan respons netizen.

Apakah kasus ini disebabkan karena consent sexual?

Bisa jadi, iya. Tapi, bisa jadi, tidak.

Terlebih dahulu, kau harus menempatkan dirimu sebagai seorang perempuan baru lulus SMA yang pergi merantau untuk bekerja sebagai buruh harian di sebuah pabrik.

Miskin, rentan, tidak berdaya, tak benar-benar siap dengan transformasi pergaulan dari kampung ke kota, tapi sekaligus dengan berbagai imajinasi akan masa depan khas remaja menuju dewasa.

Dalam tradisi yang patriarkal, perempuan diajarkan untuk menggantungkan nilai dirinya ke laki-laki. Perempuan remaja yang gelisah untuk dipilih laki-laki, sangat rentan menjadi tak rasional dalam menerima berbagai bentuk manipulasi atas nama cinta.

Dalam kerentanan yang berlapis-lapis itu, perempuan remaja tak bisa membedakan mana cinta dan mana agresi kuasa dari laki-laki yang mendekatinya.

Situasi di atas tak sulit kita bayangkan sebab terlalu jamak terjadi. Kisah khas buruh pabrik perempuan usia 20-an tahun yang menjadi korban macam-macam pelecehan dan kekerasan dalam tiap tikungan hidupnya.

Baca juga:  Ngeri Sekali Jadi Korban Kekerasan Seksual di Negeri Ini, Minta Keadilan Malah Mentok di Jalur ‘Kekeluargaan’

Di masyarakat, ia distigma sebagai sekuntum kembang perawan yang rentan jadi penggoda perjaka. Dalam pekerjaan, ia berkelindan dengan banyak urusan, mulai dari konflik sesama buruh, pekerja kantin pabrik, tukang kredit, pemuda tanggung dari pabrik lain, hingga bos perusahaan.

Dan, tepat sekali. Bisa jadi, si Ibu jabang bayi barangkali adalah korban kekerasan seksual dari mahasiswa laki-laki tempatnya ia semula menggantungkan imajinasi akan masa depan yang lebih mudah.

Sangat mungkin pula, si Ibu jabang bayi adalah korban perkosaan yang selanjutnya selama sembilan bulan menyembunyikan keletihannya sendiri karena ketakutan akan stigma dari masyarakat dan stigma dari tenaga kesehatan.

Ia sangat paham bahwa alih-alih memberikan dukungan layanan kesehatan dan konseling psikologis, masyarakat yang judgemental akan lebih dulu mengucilkannya, menjadikannya sebagai topik pembicaraan di setiap sudut kampung, dengan keluarga yang marah dan malu terhadap kondisi yang sedang ia tanggung.

Bisakah kita membayangkan seberapa besar ketakutan yang ia alami hingga mengambil keputusan untuk melahirkan seorang diri dalam kamar mandi kos?

Bisakah kita membayangkan trauma yang ia hadapi hari ini dan hari-hari berikutnya?

Ibu si jabang bayi kini telah masuk penjara sebagai pelaku tindak pidana pembuangan bayi. Sampai kita tidak sadar, bahwa yang luput dibicarakan adalah si laki-laki itu….


Kamu bisa baca kolom Kelas-Kalis lainnya di sini. Rutin diisi oleh Kalis Mardiasih, tayang saban hari Minggu.

Baca juga:  Korban Pemerkosaan di Jambi Dipenjara, Maksudnya Gimana Yang Mulia?